
Irvan langsung di larikan keruangan UGD untuk mendapatkan perawatan. sementara Nara dan Agam yang baru sampai langsung menunggu di luar UGD, Nara terus menangis sambil sesekali menyeka air matanya dengan punggung tangannya, Agam yang melihatnya langsung memeluknya dan mengajaknya untuk duduk di kursi tunggu depan UGD.
''Irvan, Gam!'' ucap Nara sambil memandang wajah Agam,
''Gara gara nolongin aku, dia jadi seperti itu!'' lanjut Nara sambil menangis dan Agam langsung menariknya ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.
''Jangan terus menyalahkan diri sendiri, sayang! ini semua sudah takdir!'' kata Agam sambil menghapus air mata di wajah sang isteri.
Tak berselang lama seorang dokter keluar dari dalam ruangan, Nara yang melihatnya langsung menghampiri sang dokter.
''Bagaimana keadaannya, dokter?'' tanya Nara sambil menatap sang dokter dengan wajah khawatir. Agam yang melihatnya langsung memegangi kedua bahu nya.
''Pasien saat ini sedang kritis, dia mengalami pendarahan hebat, kami akan menolong dan memberikan yang terbaik untuk pasien!'' ucap sang dokter sambil melangkah pergi dari ruangan tersebut.
Nara langsung memandang Agam sambil menangis lagi, dan Agam langsung membawanya untuk duduk kembali.
''Kita doakan yang terbaik untuk Irvan, semoga dia bisa segera melewati masa kritisnya, sayang!'' kata Agam dan Nara hanya menganggukkan kepalanya saja.
Mereka berdua menunggu Irvan sejak berjam jam yang lalu, namun karena kelelahan akhirnya Nara langsung tertidur di pundak Agam, Agam yang menyadari kepala Nara berada di pundaknya langsung memeganginya agar tidak terantuk oleh dinding.
Akhirnya Agam langsung mengangkat tubuh Nara ke dalam mobil dan membawanya pulang, karena dia melihat isterinya itu sangat kelelahan hingga bisa tertidur sambil duduk,
Sesampainya di rumah, Agam langsung mengangkat Nara ke kamar, dan meletakkannya di atas ranjang, setelah itu langsung menyelimuti sang isteri dan membenahi rambut sang isteri yang menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
''Aku sangat takut kehilanganmu, sayang!! jangan membuatku terus khawatir seperti ini, Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mencintaimu, tapi aku berjanji akan terus mencintaimu hingga aku mati nanti!'' ucap Agam dengan lirih sambil mengelus rambut sang isteri dan kemudian langsung menciumnya dengan lembut.
Agam beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu Agam langsung ikut berbaring di sebelah sang isteri dan memeluknya dengan posesif,
Miranda yang sudah berada di kantor polisi, langsung di periksa oleh petugas, Miranda hanya diam dengan pandangan kosong, wajahnya tampak sedih, ketika sang petugas mengintrogasinya, Miranda hanya diam dan tidak mengeluarkan suara sama sekali, Polisi yang bertugas menanganinya berulang kali menghela nafas dengan kasar, walaupun sang polisi memarahinya, namun Miranda tetap diam seperti patung, Akhirnya Polisi langsung membawanya ke dalam sel tahanan, Miranda hanya melirik sekilas sang petugas, setelah itu dia langsung duduk di lantai penjara dan menekuk kedua lututnya, dia menangis dengan sangat memilukan,
''Aku tidak sengaja melakukannya, Van!'' ucap Miranda sambil melihat kedua tangannya, dia terus menangis karena sudah menembak Irvan,
''Ini semua gara gara wanita murahan itu, aku sangat membencimu, Naraya!'' teriak Miranda dengan napas ngos ngosan, wajahnya menyiratkan kebencian kepada Nara, setelah itu dia menangis dengan pilu lagi ketika wajah Irvan terlintas di dalam fikirannya, Miranda terus saja seperti itu, dan seorang polisi yang melihatnya pun langsung memberitahukan kepada rekannya yang lain, Akhirnya Miranda pun di bawa ke psikiater untuk di periksa kejiwaannya,
Nara yang mulai terbangun dari tidurnya, langsung mengerjabkan matanya beberapa kali, kemudian melirik sekitar ternyata dia sudah berada di kamarnya, Nara meraba tangan yang melingkar di perutnya, setelah itu dia menggeser tangan sang suami,
Agam yang menyadari pergerakan dari sang isteri pun langsung membuka ke dua matanya,
''Mau kemana, sayang?'' tanya Agam dengan suara khas orang bangun tidur, Nara yang mau menurunkan kakinya ke lantai langsung terlonjak kaget dan menoleh ke arah sang suami.
Nara duduk di kursi makan sambil menggenggam gelas yang dipegangnya, setelah minum tiba tiba dia teringat dengan sang mantan yang sudah menyelamatkannya dari kegilaan Miranda. mantan kekasih dari suaminya itu.
Agam yang baru sampai di dapur, langsung duduk di sebelah sang isteri.
''Kenapa, sayang?'' tanya Agam kepada isterinya,
Nara langsung menoleh dan menggelengkan kepalanya,
__ADS_1
''Apa sudah ada kabar dari Irvan?'' tanya Nara sambil meletakkan gelas yang sejak tadi di genggamnya.
''Dokter bilang, dia sudah melewati masa kritisnya, dan sekarang keadaanya sudah stabil, tinggal menunggu kapan dia sadar!'' ucap Agam sambil menatap sang isteri.
''Jika nanti dia sudah sadar, kita akan melihatnya!'' lanjut Agam lagi dan Nara hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Sejak kejadian itu, Agam tidak memperbolehkan Nara untuk keluar rumah sendirian, Agam masih trauma melihat sang isteri di culik oleh sang mantan, walaupun sang mantan sudah di amankan polisi, namun Agam tetap harus waspada, akhirnya Agam menugaskan beberapa bodyguard untuk menjaga sang isteri.
Hari ini Agam mengantar sang isteri ke kantor sang mertuanya, setelah memastikan sang isteri sampai di ruangan sang mertua, Agam langsung pamit untuk pergi ke kantornya, Agam mengatakan bahwa nanti dia akan menjemputnya, dia tidak memperbolehkan sang isteri untuk naik taksi lagi,
Sesampainya Agam di kantor, Agam langsung masuk ke dalam ruangannya, namun matanya langsung tertuju ke arah Gavin yang sedang duduk anteng di atas sofa nya. Agam mengerutkan dahinya sambil berjalan ke arah sofa.
''Ngapain kamu pagi pagi sudah gentayangan di sini?'' tanya Agam sambil mendudukkan bokongnya di sebelah sang sepupu.
Gavin yang tidak menyadari kehadiran Agam langsung menjatuhkan ponselnya begitu saja karena terkejut, Dia sedang asyik berbalas pesan dengan sang pujaan hati, hingga saat mendengar suara seseorang di sebelahnya, dia langsung terkejut.
Agam hanya tertawa melihat tingkah sepupunya yang ngomel ngomel tidak jelas begitu sambil mengelus ngelus ponselnya yang tadi terjatuh di atas lantai.
''Aku mau menginap di rumah kalian!'' kata Gavin membuat Agam langsung menghentikan tawanya dan langsung melotot ke arah sang sepupu.
''Aku tidak menerima tamu dadakan sepertimu!'' ucap Agam sambil beranjak berdiri.
''Aku tidak membutuhkan izinmu Tuan Muda, karena aku sudah mendapatkan izin dari Tuan puteri yang paling baik hati!'' ucap Gavin sambil tersenyum sumringah, Agam yang mendengarnya langsung duduk kembali di atas sofa dan menatap tajam ke arah Gavin.
__ADS_1
''Apa?'' tanya Gavin mulai waspada, Agam hanya menarik satu sudut bibirnya dan langsung membuat perasaan Gavin menjadi tidak enak.
Gavin langsung beranjak dari sofa, namun Agam lebih dulu memiting lehernya hingga Gavin terduduk kembali di atas sofa, dia kesulitan bernafas, Gavin terus memukul mukul tangan Agam yang berada di lehernya, namun Agam semakin mengencangkan fitingan di leher nya.