Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Ruang Operasi


__ADS_3

Agam langsung di tangani oleh beberapa Dokter, dan mereka langsung membawa Agam ke Ruang Operasi, Nara yang merasa cemas hanya bisa mondar mandir didepan pintu Ruang Operasi. Abidzar yang melihatnya terus seperti itu, hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar karena sejak tadi dia sudah meminta Nara untuk duduk di kursi tunggu tapi wanita keras kepala itu terus saja mengabaikannya.


Gavin berlari tergopoh gopoh menghampiri mereka, ''Bagaimana keadaannya?'' tanyanya sambil mendudukkan bokongnya di sebelah Abidzar dan langsung menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya, karena tadi saat di perjalanan tiba tiba mobilnya mengalami pecah ban sehingga membuatnya panik kebingungan, tetapi untungnya saja ada seorang ojek yang lewat dan menghampirinya, jadilah dia pergi ke Rmah Sakit dengan Kang Ojek sehingga membuatnya terlambat sampai di Rumah Sakit,


Tepat saat Abi ingin menjawab, seorang perawat keluar dari Ruang Operasi dan menghampiri mereka, ''Apakah diantara kalian ada yang memiliki golongan darah A+? Kebetulan stok darah di PMI sedang kosong!'' tanya Perawat itu sambil menatap ketiga orang dewasa yang ada di hadapannya secara bergantian.

__ADS_1


Mereka bertiga saling pandang, dan kemudian menggeleng dengan lemah, ''Golongan darah saya B, Sus!'' jawab Nara sambil menghapus air matanya yang tidak mau berhenti sejak tadi.


''Bisakah kalian menghubungi saudaranya yang lain, saat ini pasien sudah kehilangan banyak darah, dan keadaannya juga sangat kritis, dan jika kita terlambat sedikit saja, maka pasien bisa lewat.'' jelas Perawat itu membuat Nara langsung menutup mulutnya sambil menggelengkan kepanya.


Nara dan Gavin langsung menoleh kearahnya, sambil tersenyum karena akhirnya Agam bisa mendapatkan donor darah secepatnya.

__ADS_1


Perawat tersebut langsung menyuruh Abi untuk segera mengikutinya ke dalam ruangan untuk memeriksa golongan darahnya agar bisa segera melakukan transfusi darah,


Mama Sovia langsung panik ketika cucu cantiknya itu yang tadi tertidur dengan sangat nyenyak, tiba tiba langsung menangis dengan histeris, Mama Sovia sudah beberapa kali memberikan Arisha susu namun bayi cantik itu terus saja menolak dan semakin menangis dengan kencang membuat Mama Sovia menjadi kewalahan dibuat cucu semata wayangnya itu.


Sementara Papa Tama hanya duduk diam di dalam Ruang Kerjanya, dia menyesal karena sudah menembak menantunya itu, dia yang awalnya hanya mengancam malah menjadi khilaf saat mendengar ucapan menantunya yang membuatnya tersulut emosi. Dia jadi menyesal karena sudah mengirimkan surat perceraian itu kepada Agam tadi pagi, Papa Tama mengirimkannya tanpa sepengetahuan dari Puterinya itu, Tadi malam saat Nara dan Abi pulang dari acara makan malam bersama kliennya yang ternyata adalah menantunya itu, Nara langsung masuk ke dalam kamarnya, Papa Tama yang melihat wajahnya murung seperti itu langsung menghampirinya ke kamar sang puteri, Namun saat akan membuka pintunya, Papa Tama mendengar suara tangisan pilu dari balik pintu kamar puterinya itu, dia langsung menggenggam erat kedua tangannya dan segera turun ke lantai bawah untuk menghampiri Abi dan meminta penjelasan kepadanya, Akhirnya Abi memberitahukan apa yang terjadi pada mereka saat di Restoran, dan Abi juga memberitahukan bagaimana kelakuan Agam saat menyeret paksa Nara untuk keluar dari Restoran dan hampir membuat Arisha terjatuh dari dalam gendongannya.

__ADS_1


__ADS_2