
Pagi ini Agam dan Gavin berangkat ke kantor seperti biasanya, ''Aku sungguh masih sangat mengantuk!'' ujar Gavin sambil menyenderkan kepalanya di atas sofa yang ada di dalam ruangan Agam, Agam juga melakukan hal yang sama dengan Gavin, mereka memejamkan mata bersama karena tadi malam mereka tidak bisa tidur nyenyak akibat teror dari mbak kukun, entah lah, kenapa ada setan kurang kerjaan yang ganggui mereka berdua, apa mungkin si mbak nya ngefans karena ketampanan mereka atau karena si mbaknya ingin menagih uang mangga, mereka juga tidak tahu.
Raka yang baru masuk ke dalam ruangan Agam untuk mengantarkan berkas berkas, langsung menatap heran ke arah dua orang manusia yang sedang memejamkan mata di atas sofa, dia langsung mendekat dan mengamati mereka berdua, setelah itu muncullah ide jahilnya saat menatap kedua sepupunya itu.
''Ada kebakaran...!'' Teriak Gavin dengan kencang di telinga mereka,
''Air.. mana air.. !'' ucap Agam sambil terlonjak kaget dan melihat ke kanan dan ke kiri seperti orang begok. Sementara Gavin langsung loncat dengan heboh ke atas sofa karena sanking terkejutnya, Raka langsung tertawa terbahak bahak melihat tingkah mereka berdua. Agam dan Gavin yang mendengar suara orang tertawa langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat Raka yang sedang tertawa sambil memegangi perutnya.
Agam langsung menggeplak lengannya dengan sebuah map yang ada di atas meja sofa. Membuat Raka langsung menghentikan tawanya.
''Dasar Kampret!'' ujar Gavin sambil turun dari atas sofa. Raka hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum.
''Mau ngapain ke sini, Ganggu orang tidur saja!'' gerutu Agam dengan wajah lemasnya karena baru memejamkan mata beberapa menit, sudah di kejutkan oleh sepupu yang tidak punya akhlak itu.
''Lagian, tidur itu di rumah bukannya di kantor!'' jawab Raka enteng.
''Apa kau tidak tahu, jika di rumah Agam sekarang ada mbak kukunnya!'' ujar Gavin sambil menatap Raka
''Apa itu mbak kukun?'' tanya Raka dengan wajah cengoknya.
''Ck, mbak kukun itu adalah seorang wanita yang selalu memakai gaun berwarna putih dengan rambut panjang acak acakan!'' jawab Gavin sambil menatap malas ke arah sepupunya itu.
''Maksudmu orang gila, gitu?'' tanya Raka lagi, Agam hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja tanpa berniat untung nimbrung saat mendengar ke dua sepupunya berbicara tentang mbak kukun.
''Kok orang gila sih, wanita bergaun putih yang suka nongkrong cantik di atas pohon itu loh, sambil mengayun ngayunkan kakinya!'' ujar Gavin dengan sewot.
''Oh, temannya mas lemper itu?'' tanya Raka lagi membuat Gavin langsung menautkan kedua alisnya bingung. ''Mas lemper siapa?'' tanya balik Gavin yang benar benar tidak mengenal siapa itu mas lempar.
__ADS_1
''Itu loh, seseorang yang di bungkus bungkus kain putih terus sukanya loncat loncat!'' jelas Raka sambil mengatupkan kedua tanga.nnya di atas kepala.
''Busyet dah, itu mah namanya mas ocong kali, bukan mas lemper!'' sungut Gavin sambil melengos, Agam dan Raka hanya tertawa melihatnya.
Agam yang baru selesai menandatangani berkas berkas yang di bawa oleh Raka, langsung meraih ponselnya yang sedang berdering di atas meja. Dia langsung menjawab panggilan masuk dari Kayla.
Gavin dan Raka hanya terdiam sambil menatap wajah gelisah Agam yang sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Agam sungguh sangat pusing saat mendengar pertanyaan Kayla kapan dirinya akan menikahinya karena perutnya jika di biarkan semakin lama akan semakin membesar. Kayla terus mendesaknya sehingga membuat Agam langsung mematikan ponselnya begitu saja. Dia sungguh tidak ingin menikahi Kayla, karena dia masih sangat mencintai isterinya itu walaupun dia tidak tahu di mana sekarang isterinya itu berada.
Gavin dan Raka saling pandang, ''Apa yang terjadi?'' tanya Raka sambil mengerutkan dahinya
''Noh, si Markonah hamil kecebongnya!'' ucap Gavin asal ceplos. Raka semakin mengerutkan dahinya saat mendengarkan ucapan Gavin barusan.
''Haisshh, Markonah itu siapa lagi sih!'' gerutu Raka sambil menepuk nepuk pelan keningnya.
''Markonah itu titisannya mbak kukun!'' ujar Gavin sambil mendengus.
''Apa yang terjadi?'' tanya Raka penasaran.
''Apa kau tahu, jika Nara pergi dari rumah itu karena melihat foto foto vulgar suaminya sama si Kayla itu? Dan sekarang si Kayla itu lagi hamil kecebongnya Agam!'' ungkap Gavin
''Kok bisa?'' tanya Raka dengan wajah begoknya. Gavin langsung menggeplak kepala belakangnya dengan gemas, membuat Raka langsung mengadu karena ulah sepupunya itu.
''Apa sih, geplak geplak segala, nanti kalau aku geger otak gimana?'' tanya Raka membuat Gavin langsung melengos melihatnya.
''Kau yakin itu kecebong, milikmu?'' tanya Raka sambil menoleh ke arah Agam yang terlihat frustasi.
''Entahlah, aku juga tidak tahu!'' jawab Agam lirih.
__ADS_1
''Ahaa, aku punya ide!'' seru Raka sambil menjentikkan jarinya, membuat Agam dan Gavin langsung nenoleh ke arahnya secara bersamaan.
''Apa?'' tanya Agam dan Gavin bersamaan.
''Gimana kalau kau tes DNA saja!'' ujar Raka sambil tersenyum,
''Bukannya Tes DNA baru bisa di lakukan jika bayinya sudah lahir?'' tanya Agam kemudian.
''Iya juga ya!'' ucar Raka sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Lain kali jika kau ingin memberikan sebuah ide, kasih yang bagusan dikit lah!'' ujar Gavin sambil tersenyum sinis.
''Permisi, pak!'' ucap seorang wanita sambil mengetuk pintu ruangan Agam. mereka bertiga langsung menoleh ke pintu dan setelah itu Agam mempersilahkan wanita tersebut untuk masuk,
''Maaf pak, ini berkas kerja sama antara kita dengan Arkhatama Group. Direktur utama Arkhatama Group membatalkan kerja sama dengan kita secara sepihak, dan beberapa proyek mengalami kerugian yang cukup besar, cabang Perusahaan yang ada di kota X hampir collapse, Pak!" ungkap wanita tersebut sambil memberikan sebuah map kepada sang direktur.
Agam langsung menerimanya dan sang wanita tersebut langsung pamit undur diri untuk keluar dari ruangan sang Direktur.
''Apa lagi ini!'' ucap Agam sambil membuka berkas berjas tersebut.
''Jangan sampai kau menjadi gelandangan gara gara menyakiti puteri Konglomerat.'' ungkap Gavin bersungguh sungguh. Raka langsung menganggukkan kepalanya dengan serius. Sementara Agam langsung meletakkan berkas tersebut di atas meja dengan kasar setelah itu dia menjambak rambutnya dengan frustadi
''Kenapa jadi seperti ini?'' ujar Agam sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
''Sepertinya, mertuamu itu benar benar selalu menepati janjinya untuk segera membuatmu hancur!'' ujar Gavin menatap kasihan kepada sang sepupu.
''Masalah yang satu belum selesai malah nambah lagi masalah lain, apa tidak bisa rencana mertuamu untuk menghancurkanmu itu di pending dulu, setidaknya sampai masalah Nara dan Markonah selesai gitu!'' lanjut Gavin lagi membuat Raka langsung melotot ke arahnya..
__ADS_1
''Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?'' tanya Gavin lagi sambil bersedekap dada.