Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Pala Lo Peyang


__ADS_3

''Iya sayang. Dia itu pelayan baru aku. dan aku nemu dia dijalanan!'' ucap Agam sambil melirik ke arah Nara.


''Ha?? apa katanya? yang bener aja, emang dia kira Aku apaan, pake acara bilang nemu dijalanan lagi, saraf ini orang." bathin Nara sambil ngedumel di dalam hati.


Nara langsung berdehem, membuat Agam dan Miranda langsung menoleh ke arahnya secara bersamaan.


''Ini Tuan kopinya. silahkan diminum!'' Nara langsung menyodorkan kopi kearah Agam, Agam meraihnya dan langsung meminum kopi buatan Nara, bamun beberapa detik kemudian, Agam langsung menyemburkan kopi yang baru saja mendarat di dalam mulutnya.


''Astaga Nara, ini apaan?'' Agam bertanya dengan muka memerah karena menahan rasa asin.


''Itu kopi, Tuan. masa iya itu jus, gimana sih!'' ucap Nara sambil merotasikan kedua bola matanya dengan malas. Sudah tahu itu kopi, pake tanya segala lagi. Ada ada saja Tuan mudanya itu.


''Ini coba kamu yang rasain!'' perintah Agam sambil memberikan kopi itu kepada Nara.


Nara menatapnya sekilas, setelah itu langsung meminum kopi yang diberikan Agam dan kemudian dirinya langsung melakukan hal yang sama seperti Agam.


''Oh my God, kenapa rasanya bisa asin seperti ini? perasaan tadi Aku kasih gula kok bukan garam. kok bisa---''


''Sudah, Sudah. jangan dilanjut!'' potong Agam dengan cepat. Agam langsung mengibaskan tangannya dengan kesal,


''Lebih baik, sekarang kau pulang saja. karena saya mau pergi dengan Miranda!'' Agam langsung memberikan uang kepada Nara, agar gadis itu segera pulang menggunakan taksi.


Dengan senang hati, Nara akhirnya keluar dari kantor Agam, dia berdiri di pinggir jalan sambil menunggu sebuah taksi. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera rebahan di rumah sang Tuan Muda.

__ADS_1


Setelah beberapa menit menunggu, tiba tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya dari arah belakang.


''Nara...!''


Nara langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan seketika dirinya langsung mengernyit saat melihat siapa orang sudah memanggilnya.


''Astaga, Irvan!'' ucap Nara yang terkejut dan langsung melepaskan tangannya yang sedang di pegang erat oleh pria tersebut.


''Kamu ngapain, sih?'' tanya Nara dengan sedikit membentak.


''Sayang, please maafin aku, yah?'' ucap Irvan dengan memelas, membuat Nara ingin muntah saat menatap wajah tampannya itu.


''Sayang sayang pala lo peyang!'' ucap Nara dengan sewot.


''Aku tau aku salah, tapi aku mau kita balikan lagi ya sayang, please!'' ucap Irvan dengan wajah memelas dan berharap semoga kali ini Nara bisa luluh padanya.


''Tapi sayang aku masih--'' ucapan Irvan langsung dipotong cepat oleh Nara.


''Taksi!'' Nara yang melihat sebuah Taksi melintas di depannya langsung melambaikan tangannya ke depan, dan ketika taksi sudah berhenti tepat didepannya, Nara langsung masuk dan menutup pintunya dengan sangat kuat.


''Hati hati, Nona, nanti pintu taksi saya bisa rusak!'' tegur sang sopir sambil melirik Nara dari spion.


''Ah elah pak, pak! gitu doang mah kagak bakal rusak itu pintunya, lebay amat sih!'' ucap Nara dengan dongkol, karena habis bertemu dengan sang mantan dan sekarang malah kenak tegur sama supir taksi juga.

__ADS_1


''Jalan sekarang, Pak. ke alamat ini,'' lanjut Nara dengan menyebutkan alamat rumah Agam.


🌺🌺🌺


Nara yang baru sampai di depan rumah Agam, langsung masuk dan kemudian pergi menuju kamarnya. dirinya langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil memikirkan nasibnya yang menurutnya selalu saja apes.


Mulai dari pacarnya yang tukang selingkuh, papanya yang hobi banget ngejodohin dia, dan terakhir harus jadi pelayan Tuan muda yang sangat menyebalkan.


''**Gima**na ya nasib Aku selanjutnya? ucap Nara dalam hati sambil memejamkan matanya.


Di sebuah restoran mewah..


Agam dan Miranda sedang menikmati makan siang mereka sambil membicarakan pernikahan mereka yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi. Walaupun orang tua Agam sangat menentang keras hubungan mereka, karena Agam sudah dijodohkan dengan wanita lain.


Namun Agam tetap bersikeras ingin menikah dengan Miranda karena Agam sangat mencintainya.


''Tapi bagaimana dengan orang tuamu sayang, mereka kan gak suka sama aku!'' ucap Miranda dengan wajah sedihnya,


Agam langsung memegang tangan Miranda dengan lembut dan kemudian mencium punggung tangannya.


''Kau tenang saja ya sayang, itu akan menjadi urusan aku. Walaupun mereka tidak merestui kita, tapi aku akan tetap menikahimu!'' ucap Agam meyakinkan.


''Tapi sayang, aku--''

__ADS_1


''Please sayang, kamu percaya kan sama aku?'' ucap Agam yang langsung memotong ucapan Miranda dan membuat Miranda langsung terdiam dan berfikir sejenak.


''Ya sudah deh sayang, aku percaya!'' ucap Miranda dengan senyum manisnya.


__ADS_2