Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Sadar


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Dokter selesai melakukan operasi untuk mengangkat peluru dari punggung Agam, ''Operasi berjalan dengan lancar, namun pasien mengalami koma,'' begitulah kata Dokter yang menangani Agam tadi,


Dan di sinilah Nara berada, duduk di sebelah sang suami sambil memegangi punggung tangannya, air matanya terus mengalir saat beberapa jam yang lalu, di saat Gavin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Agam dan Kayla, tentang pencarian Agam selama ini yang menguras begitu banyak waktu dan juga tenaga hingga harus beberapa kali keluar masuk Rumah Sakit akibat kurang istirahat, Nara hanya menangus mendengar semua penjelasannya, ada rasa bahagia saat tahu bahwa anak dari Kayla bukanlah anak dari suaminya,


''Ayo, buka matamu Gam, apa kau tidak merindukanku? Apa kau tidak merindukan puteri kecilmu?'' tanya Nara dengan air mata yang terus menetes sambil menciumi punggung tangannya, begitulah yang terus di ucapkan Nara selama beberapa minggu ini, dia terus menunggu sang suami untuk sadar, dan hari ini setelah seminggu berada di Rumah Sakit, akhirnya Mama Sovia membawa Arisha untuk datang menemui Mommy nya di Rumah Sakit,

__ADS_1


''Bagaimana, keadaan Agam?'' tanya Mama Sovia sambil memberikan Arisha kepada Nara, bayi cantik itu terlihat sangat senang saat bertemu dengan Mommy nya, dia terus mengoceh sambil menatap ke arah Agam yang masih terbaring lemah dan tak sadarkan diri.


''Doai Papa supaya cepat sembuh ya, sayang!'' ujar Nara sambil mengelus pucuk kepala Arisha, dia lanhsung membawa Arisha untuk duduk di dekat ranjang Agam,


''Pa..pa..pa..pa..pa.'' oceh Arisha sambil tertawa ke arah Agam yang masih setia memejamkan matanya itu. Namun tak lama kemudian, Mama Sovia yang sedang duduk di sofa tidak sengaja melihat jari tangan Agam yang bergerak secara perlahan, Mama Sovia langsung terkejut dan mendekat ke arah ranjang. ''Nara, coba lihat tangan Agam sekarang, sepertinya bergerak gerak!'' tunjuknya sambil menatap sang puteri yang langsung menatap ke arah tangan Agam.

__ADS_1


''Sayang, kau bisa mendengarku?'' tanya Nara di telinga sang suami, ''Gerakkan tanganmu sekali lagi jika kau bisa mendengarkanku!'' Agam langsung menggerakkan tangannya lagi, membuat Nara langsung tersenyum, dan tak lama kemudian Dokter datang untuk memeriksa Agam, Dokter mengatakan bahwa Agam sudah melewati masa kritisnya, Dokter juga menyuntikkan sesuatu ke dalam botol impus nya sebelum pamit pergi dari ruangan itu, sementara Arisha terus saja memanggil Pa Pa Pa ke arah Agam dengan wajah lucunya itu.


Setengah jam kemudian, akhirnya Agam bisa membuka matanya, dia mengerjab ngerjabkan matanya beberapa kali, Nara dan Mama Sovia yang melihatnya langsung tersenyum dan mengucap syukur karena akhirnya Agam sudah sadar dan bisa melewati masa kritisnya.


''Agam menoleh ke arah Nara yang sedang menggendong Arisha, ''Na..Nara!'' panggilnya dengan lirih, Nara langsung mendekat dan menggenggam tangannya dengan erat setelah memberikan Arisha kepada Mama nya.

__ADS_1


''Kau sungguh membuatku sangat takut, Gam! Aku takut kehilanganmu, dan aku juga belum siap jika Arisha menjadi yatim!'' ucap Nara sambil menyeka air matanya. Agam langsung mengerutkan dahinya karena tidak mengerti dengan ucapan sang isteri yang baru kemaren memberikan surat cerai kepadanya, ''Maksudnya?''


__ADS_2