
Agam langsung meremas kertas tersebut dengan nafas ngos ngosan, kemudian meraih kunci mobil dan segera berlari menuju garasi, Gavin yang melihatnya sedang terburu buru langsung berteriak memanggilnya namun Agam sama sekali tidak menghiraukannya.
Agam melajukan mobilnya menuju rumah Mertuanya, di perjalanan dia hampir saja menabrak beberapa orang karena dirinya tidak fokus mengemudi, sebab fikirannya sedang kacau akibat surat cerai dari isterinya itu.
Sesampainya di rumah Mertuanya, Agam langsung berlari menuju pos Satpam, ''Eh, mas Agam?'' sapa pak Satpam sambil tersenyum ramah.
''Buka gerbangnya sekarang, saya mau masuk!'' perintah Agam dengan suara beratnya, Pak Satpam langsung menoleh ke belakang, ''Maaf mas, tapi saya...'' Agam langsung berlari masuk ke dalam pos dan meraih kunci gerbang yang ada di atas meja, ''Mas jangan Mas!'' teriak pak Satpam dengan raut wajah panik, sebab dia sudah di wanti wanti majikannya bahwa menantu dari majikannya itu tidak boleh masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Akhirnya Agam bisa juga membuka pintu gerbang walaupun dengan tergesa gesa karena Pak Satpam terus menghalanginya, ''Aduh, bagaimana ini?'' tanya Satpam itu pada dirinya sendiri, setelah melihat Agam berlari masuk ke dalam rumah mewah itu.
Agam langsung masuk ke dalam rumah yang kebetulan tidak di kunci itu, dia berteriak seperti orang kesetanan sambil memanggil nama isterinya, Nara dan Mama Sovia yang mendengarnya langsung keluar dari dalam kamar Arisha yang baru saja tertidur, mereka berdua turun ke lantai bawah dengan terburu buru,
''Kenapa kau berteriak seperti itu di rumahku?'' tanya Nara dari ujung tangga, Agam langsung menoleh ke arah tangga dan segera berjalan menghampiri isterinya yang sedang berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.
''Ikut aku, sekarang!'' jawab Agam dengan penuh penekanan sambil menarik tangannya dengan sangat erat, Mama Sovia langsung berteriak saat melihat puterinya di seret seperti itu oleh suaminya. Namun Agam tidak memperdulikannya dan segera berjalan keluar dengan cepat karena Nara terus memberontak,
__ADS_1
''Minggir Pa, Jangan ikut campur dengan urusan kami?'' jawab Agam sambil membalas tatapan tajam dari sang mertua.
''Kurang a-jar!'' teriak Papa Tama sambil meninju wajahnya, namun Agam hanya diam saja sambil memegang erat tangan isterinya agar tidak terlepas darinya.
''Lepaskan tangan kotormu itu dari tangan puteriku sekarang!'' perintah Papa Tama sambil menarik kera bajunya, Agam hanya mendengus kasar tanpa rasa takut.
''Nara itu masih isteri sah ku, jadi aku akan membawanya pulang ke rumahku!'' ujar Agam sambil melepaskan tangan mertuanya yang masih mencengkram erat kera bajunya, setelah itu Agam langsung kembali menarik tangan Nara dan segera berlalu melewati mertuanya dan juga Abi yang hanya diam sambil terus menatapnya.
__ADS_1
''Selangkah saja kau keluar dari pintu itu membawa puteriku, maka aku tidak akan segan segan untuk menembakmu!'' ucap Papa Tama dengan suara beratnya yang penuh dengan aura membunuh sambil mengarahkan pistol kecil ke arah menantunya itu.
Agam langsung menghentikan langkahnya tepat di depan pintu utama, dia membalikkan badannya dengan tangan yang masih setia menarik tangan sang isteri yang dari tadi terus memberontak dan memohon untuk segera di lepaskan karena tangannya terasa sakit akibat cengkraman kuat dari suaminya itu.