Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Melarikan Diri Dari Seseorang


__ADS_3

Nara dan Mama Sovia langsung turun ke bawah untuk ikut bergabung bersama dengan Papa Tama, Abi dan juga Arisha. Mereka berempat saling mengobrol satu sama lain, ''Kau bisa tinggal di sini selama berada di Indonesia!'' ujar Papa Tama sambil menatap Abi yang sibuk bermain dengan Arisha,


''Apakah tidak merepotkan?'' tanya balik Abi sambil menatap ketiga orang dewasa itu secara bergantian.


''Di rumah ini banyak kamar kosong, jadi kau tenang saja!'' jawab Papa Tama sambil tertawa, kemudian Papa Tama dan Mama Sovia langsung meminta izin untuk membawa Arisha bermain bersama mereka di lantai atas, Abi yang melihat kepergian mereka bertiga langsung menoleh ke arah Nara yang sejak tadi hanya diam saja, ''Bisakah kau jelaskan sekarang?'' tanya Abi menuntut penjelasan dari Pelayan pribadinya itu.


''Baiklah, sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu karena sudah menyembunyikan identitasku,'' jawab Nara sambil menatap matanya.

__ADS_1


''Pantas saja orang orangku tidak bisa mengetahui identitas aslimu, ternyata kau bukan orang sembarangan!'' ucap Abi dengan tersenyum sinis.


''Aku punya alasan untuk itu semua!'' ucap Nara datar.


''Baiklah, bisakah kau jelaskan semua alasanmu?'' tanya Abi sambil bersedekap dada dan menaikkan sebelah alisnya.


''Apa orang itu Papanya Arisha?'' tanya Abi dengan lirih, entah kenapa hatinya begitu tercubit saat menyebutkan kata Papanya Arisha. Ada rasa tidak rela ketika ada seseorang yang akan menyebut dirinya sebagai Papa dari Arisha. Dia ingin hanya dirinya lah yang pantas untuk mendapatkan sebutan Papanya Arisha.

__ADS_1


''Kau benar, ada hal rumit yang tidak bisa ku jelaskan padamu tentang hubungan kami!'' ujar Nara sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiba tiba dadanya terasa sesak saat mengingat foto foto suaminya bersama dengan wanita lain, dan dari berita yang terakhir kali dia dengar, bahwa wanita itu telah mengandung anak dari suaminya. Hal itu tentu saja membuat dirinya menjadi sangat marah dan juga kecewa, namun dia bisa apa? hanya kabur dari masalah yang bisa dilakukannya saat ini. Dirinya belum siap jika harus melihat suaminya bersama dengan wanita lain dan juga buah hati mereka. dirinya takut jika suaminya lebih sayang kepada anak dari wanita itu dari pada kepada anaknya kelak. Dirinya juga tidak sanggup jika Arisha memiliki saudara tiri. Membayangkannya saja dia sudah tidak sanggup. Lebih baik dia mundur dan pergi dari kehidupan mereka,


''Baiklah, aku mengerti!'' ucap Abi dengan lirih, setelah itu dia langsung pamit untuk beristirahat sebentar sebelum dia pergi menemui klien nya. Nara langsung mengantarnya ke kamar tamu untuk beristirahat. Setelah itu Nara langsung masuk ke dalam kamarnya yang sudah lama di tinggalkannya.


Nara duduk di atas ranjang sambil menatap foto pernikahannya yang masih terpajang indah di dinding kamarnya, dia menatap sosok tampan yang sedang tersenyum bahagia di sampingnya. ''Apa yang harus ku lakukan setelah ini?'' tanyanya pada diri sendiri, dia bingung harus bagaimana setelah ini, apakah akan meminta cerai kepada Agam atau bagaimana, tidak mungkin baginya terus terusan kabur dari masalah ini.


Mama Sovia langsung mengetuk pintu kamarnya, ''Apa Mama boleh masuk, sayang?'' tanya seorang wanita dari balik pintu. Nara langsung membuka pintunya dan mempersilahkan sang Mama untuk masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2