Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Meninggal


__ADS_3

Raizel akhirnya menceritakan semuanya kepada Gavin, tentang keadaan mereka yang sedang membutuhkan uang untuk pengobatan sang mama, tentang keadaan Raiza saat ini, dan tentang kontrak nikah antara Raiza dengan seorang pria, Raizel juga menceritakan kenapa dirinya harus berpura pura menjadi Raiza, namun Raizel tidak memberitahukan nama pria tersebut kepada Gavin.


Gavin yang mendengar semua penjelasan Raizel hanya diam sambil terus memandang ke arah kedua saudara kembar tersebut secara bergantian.


''Aku tidak tahu harus mengatakan apa Zel, jujur aku masih bingung dengan semua ini, kalian terlalu nekat untuk melakukan hal ini, bagaimana jika pria itu sampai tahu dan dia tidak terima di bohongi seperti ini!'' ucap Gavin panjang lebar, sementara Raiza dan Raizel hanya saling pandang satu sama lain.


''Tapi semuanya sudah terlanjur, dan kami tidak bisa membatalkannya!'' ucap Raiza sambil bersedekap dada. Gavin hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. dan Raizel langsung duduk bersandar di kursi dan langsung memejamkan matanya sejenak,


Tak lama kemudian seorang suster yang tadi sedang bertugas untuk menjaga sang mama di dalam, langsung keluar ruangan dengan wajah paniknya, mereka bertiga langsung menghampiri sang suster, sementara suster langsung menyuruh salah satu dari mereka untuk mencari dokter, karena keadaan pasien semakin kritis, Gavin langsung berlari menuju ruangan dokter. Sementara Raiza dan Raizel langsung berlari masuk ke dalam ruangan sang mama.


Mereka langsung menangis melihat sang mama seperti itu, mereka mendekat dan memanggil sang mama dengan lembut. Dokter datang dengan tergesa gesa untuk segera memeriksa pasien. Mereka berdua di minta untuk segera keluar. Gavin langsung membawa kedua saudara kembar tersebut untuk keluar ruangan agar sang dokter bisa segera memeriksa sang pasien.


Mereka berdua langsung duduk di kursi tunggu sambil berpelukan dan menangis tersedu sedu. Gavin terus menguatkan mereka berdua, dia terus mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja,


Tak berselang lama, seorang dokter keluar dari ruangan sang mama dengan wajah sedih, mereka bertiga langsung menghampiri sang dokter,


''Bagaimana keadaan mama saya, dokter?'' tanya Raiza sambil mengusap air matanya yang terus menetes, Dokter tersebut langsung menghembuskan nafasnya, dan menggelengkan kepalanya.


''Maaf, kami sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik, namun sang pencipta lebih sayang kepada pasien, kalian yang sabar ya!'' ucap sang dokter sambil melangkah pergi,


Mereka langsung berlari masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi sang mama, mereka langsung histeris dan langsung menangis sambil berlari ke arah sang mama, mereka berdua langsung berhambur untuk memeluk sang mama, Gavin yang melihatnya sampai ikut meneteskan air matanya juga.

__ADS_1


''Mama kenapa tinggalin kami secepat ini, ma? Ucap Raiza sambil memeluk sang mama.


''Ayo bangun ma, jangan tinggalin kami ma!'' ucap Raizel yang ikut memeluk sang mama.


''Kami tidak tahu harus bagaimana tanpa mama! Kami masih membutuhkan mama! Ayo, bangun ma!'' ucap Raiza sambil mengguncang guncangkan bahu sang mama. Raizel langsung memeluk Raiza agar menghentikan tindakannya.


''Kenapa mama begitu jahat sama kita, Zel? Kenapa mama tinggalin kita di sini sendirian? Tanya Raiza dengan terisak isak.


''Bangun, ma!'' lanjut Raiza sambil memeluk kembali sang mama, Raiza terus menangis dengan pilu.


''Bangun ma, katanya mama mau ketemu sama Raiza kan ma? Raiza sudah datang ma! Ayo, buka matanya ma!'' ucap Raizel di telinga sang mama.


Suster langsung meminta izin kepada Raizel untuk segera membawa jenazah untuk segera di mandikan, Raizel langsung mengikuti suster untuk membawa sang mama, sementara Gavin terus berada di sebelah Raiza yang sedang tak sadarkan diri, sang dokter yang memeriksanya langsung berpesan kepada Gavin, agar Raiza jangan terlalu lelah, karena kandungannya masih sangat lemah. Gavin hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Tak lama kemudian, Raiza sudah sadar dari pingsannya, dia langsung mengerjabkan matanya beberapa kali, setelah itu langsung memijit pelipisnya yang terasa sedikit pusing, Gavin yang sedang duduk di sebelahnya langsung mendekat ke arah Raiza.


''Kamu baik baik saja, Za?'' tanya Gavin dan Raiza langsung menganggukkan kepalanya.


''Astaga Vin, aku tadi mimpi aneh sekali, masa tadi aku bermimpi kalau mama pergi ninggalin aku, Vin! Aku sampai syok karena bermimpi seperti itu! Ucap Raiza sambil tersenyum simpul, dia masih merasa aneh dengan mimpinya barusan, sementara Gavin hanya terdiam sambil mengelus bahu Raiza dengan lembut. Dia masih bingung harus memberitahu Raiza atau tidak, bahwa yang di alaminya itu bukan hanya sekedar mimpi, namun itu semua adalah nyata.


''Oh ya Vin, Raizel mana?'' tanya Raiza karena dari tadi dia tidak melihat saudara kembarnya itu, Gavin menjadi lebih bingung lagi harus bagaimana menjawab pertanyaan Raiza.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu ruangan Raiza terbuka, tampaklah Raizel yang sedang berdiri di ambang pintu sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.


''Kamu, kenapa Zel?'' tanya Raiza dengan panik karena melihat saudara kembarnya itu menangis, Raiza langsung duduk bersandar di bantu oleh Gavin.


Raizel mendekat dan langsung memeluk Raiza dengan erat, Raiza langsung menepuk nepuk punggungnya dan menenangkannya. Raiza berfikir bahwa Raizel menangis karena melihat keadaannya.


''Hei sayang, jangan menangis seperti itu! Aku baik baik saja!'' ucap Raiza sambil menghapus air mata Raizel.


''Kamu tahu tidak Zel? Tadi aku bermimpi aneh sekali, aku melihat mama pergi ninggallin kita berdua sendiri di sini Zel! Ingin sekali rasanya aku memarahi mama di dalam mimpiku itu karena sudah berani beraninya pergi meninggalkan kita begitu saja!'' ucap Raiza dengan wajah kesalnya


''Ayo Zel, antar aku ketemu mama sekarang! mama pasti sudah menunggu kedatanganku sekarang? Dan aku bukannya langsung menemui mama, tapi malah tiduran di sini!'' ucap Raiza lagi sambil tertawa,


Raiza bangkit dari ranjangnya, namun dia melihat Raizel hanya diam berdiri disitu sambil terus menangis.


''Ayo Zel..!! Nanti mama keburu marah karena aku tidak segera menemuinya!'' ucap Raiza sambil menarik tangan Raizel untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


Mereka bertiga terus berjalan, namun Raiza langsung mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa mereka berhenti di sebuah ruangan yang sangat sepi.


Raiza langsung menatap Raizel yang terus menundukkan kepalanya, kemudian menatap Gavin yang sedang menghapus air matanya. Raiza merasa bingung melihat kedua orang tersebut, lantas dia mendongakkan wajahnya untuk melihat tulisan yang ada di atas pintu tersebut.


''Ruang Jenazah'' ucap Raiza dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2