
Nara yang baru selesai bersiap langsung keluar kamar untuk segera sarapan bersama dengan Abi, dia terus melangkahkan kakinya menuju ruang makan, Abi yang melihatnya langsung melambaikan tangannya dan segera menyuruhnya untuk segera mendekat ke arahnya, matanya langsung menatap ke arah meja makan yang penuh dengan beraneka macam buah dan makanan bergizi lainnya, dia langsung menautkan kedua alisnya bingung karena tidak biasanya meja makan terlihat penuh seperti ini saat mereka akan sarapan, dan jangan lupakan segelas susu berwarna putih yang ada di atas meja,
''Ayo, silahkan duduk!'' ucap Abi sambil menarik kursi untuk nya.
''Hei, ayo cepat duduk! Kenapa malah bengong disitu?'' lanjut Abi lagi karena melihat Nara tak kunjung duduk di kursi yang sudah di siapkan olehnya.
''Kenapa meja makan penuh seperti ini? Apakah kau mengundang orang lain untuk sarapan bersama kita?'' tanya Nara sambil menjatuhkan bokongnya di atas kursi yang tadi di siapkan oleh nya.
Abi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ''Aku tidak mengundang siapapun, ini semua untukmu, dan kau harus menghabiskan ini semua!''
''What? Apa kau bercanda?'' teriak Nara yang tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan oleh Abi.
''No, aku serius! buah ini sangat bagus untuk ibu hamil, dan ini juga adalah jenis makanan yang bergizi untuk ibu hamil, dan susu ini juga sangat bagus untuk perkembangan bayimu!'' jelas Abi sambil menunjuk buah, makanan dan susu yang ada di atas meja.
Nara hanya melongok mendengar semua ucapan Abi barusan, ''Apa kau sudah tidak waras, karena menyuruhku untuk memakan ini semua? Apa kau juga sengaja ingin membuatku gendut dengan ini semua?'' ucap Nara dengan lirih.
Abi hanya tertawa melihatnya misuh misuh seperti anak kecil, ''Ayo cepat di makan!'' kata Abi sambil mengambilkan beberapa potong daging dan juga beraneka macam sayuran hijau dan segera meletakkannya di atas piring.
''Tapi aku..---'' ucapan Nara langsung terhenti saat Abi menggerak gerakkan telunjuknya tepat di depan wajahnya.
''Tidak ada tapi tapian, dan kau harus segera menghabiskan ini semua!'' perintah Abi tidak mau di bantah.
''Baiklah,'' ucap Nara dengan pasrah, dan kemudian mulai memakan makanannya dan Abi hanya memperhatikannya sambil tersenyum, dia terus menatap Nara yang dari tadi sibuk dengan makanannya.
''Apa kau bisa kenyang hanya dengan menatapku terus?'' tanya Nara setelah selesai mengunyah makanannya. Abi hanya tertawa kecil mendengar pertanyaannya itu. Setelah itu Abi langsung mengambil makanan untuknya sendiri dan segera ikut sarapan bersama Nara juga.
__ADS_1
''Abi, please! perutku sudah tidak kuat lagi untuk menampung ini semua! Aku sudah kenyang, Bi!'' rengek Nara yang benar benar sudah tidak sanggup untuk menghabiskan susu dan buah tersebut. Tetapi Abi terys saja memaksanya agar menghabiskan semua yang ada di atas meja.
''Kau pasti bisa, ayo semangat!'' Ucap Abi dengan wajah tersenyum, membuat Nara langsung memijat pelipisnya yang tiba tiba saja terasa berdenyut karena ulahnya.
''Apa kau pusing? Bagaimana jika kita ke Dokter sekarang!'' ucap Abi dengan panik saat melihat Nara terus terusan memijat pelipisnya, Nara yang melihatnya panik seperti itu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
''Tidak perlu, aku hanya kekenyangan saja!'' ucap Nara menenangkannya.
''Mana ada orang kekenyangan langsung memijat mijat pelipisnya, kau pasti sedang pusing, karena seperti yang aku tau bahwa ibu hamil itu akan merasa pusing pusing dan juga mual, jadi sebaiknya kita ke Dokter saja sekarang!'' ucap Abi sambil berdiri dari tempat duduknya.
''Astaga, kenapa ini orang jadi seperti ini sih!'' gerutu Nara dengan lirih.
''Kau bilang apa?'' tanya Abi sambil menatapnya kembali.
''Ya sudah, kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang!'' ajak Abi sambil menarik tangannya. Nara langsung berdiri dari tempat duduknya. Dan terpaksa mengikuti kemauannya untuk pergi ke Rumah Sakit
Abi membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan Nara untuk masuk, setelah itu dia langsung mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi, setelah itu langsung menyalakan mesin mobilnya. Mobil pun langsung keluar dari halaman rumah Abi yang cukup luas tersebut.
''Kenapa kau mengendarai mobil seperti siput seperti ini sih?'' tanya Nara dengan kesal karena Abi menjalankan mobilnya dengan sangat pelan tidak seperti biasanya.
Abi langsung menatapnya sekilas, ''Aku tidak ingin bayimu merasa pusing di dalam sana saat aku mengendarai mobil seperti biasanya.'' jawab Abi sambil menatap lurus ke depan lagi,
''Ha, ada apa denganmu? Apa kau sedang tidak sehat?'' tanya Nara sambil menatap ke arahnya tidak habis fikir.
''Ayolah, Bi! jangan berlebihan seperti ini!'' lanjut Nara lagi dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
''Jangan bilang aku berlebihan, Aku hanya ingin menjaga kalian berdua, aku tahu menjadi ibu hamil itu tidak mudah,'' ujar Abi sambil sesekali menoleh ke arahnya.
Nara hanya menghela nafasnya pasrah, dan mengangguk lemah, karena dia tahu bahwa Abi adalah orang yang keras kepala sama seperti dirinya, jadi jika dia sudah mengatakan A maka harus A tidak mau B apalagi C.
''Begitu dong!'' ucap Abi sambil mengulurkan tangannya dan mengelus lembut pucuk kepalanya. Nara hanya tersenyum sambil memandang lurus ke depan lagi.
Akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit, Abi langsung membawanya menuju ruangan Dokter spesialis kandungan. Mereka langsung di persilahkan untuk masuk oleh seorang perawat yang berjaga di depan pintu ruangan.
''Selamat pagi, Bapak dan Ibu!'' ucap sang Dokter wanita dengan sangat ramah. Dan segera mempersilahkan mereka berdua untuk segera duduk di kursi.
''Ada yang bisa saya bantu?'' tanya sang Dokter lagi setelah mereka duduk. Sejenak mereka berdua saling pandang, sebelum akhirnya Abi mengatakan bahwa dia ingin memeriksakan kandungannya.
''Baiklah, silahkan ibu berbaring di atas tempat tidur ya!'' perintah sang Dokter sambil menunjuk arah ranjang yang ada di belakang mereka berdua. Nara langsung berjalan dan segera merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tersebut, Dokter langsung permisi untuk mengangkat bajunya sedikit dan mengoleskan sebuah gel ke atas perut nya, setelah itu langsung menempelkan sebuah alat yang terhubung ke sebuah layar yang ada di depannya.
Dokter itu lanhsung tersenyum sambil menatap layar tersebut.
''Janinnya sehat ya ibu, detak jantungnya juga normal, dan janinnya sudah sebesar kacang.'' ucap sang Dokter menjelaskan, mata Nara langsung berkaca kaca saat mendengar penjelasan dari sang Dokter, dia tidak menyangka bahwa ada kehidupan di dalam rahimnya, Akhirnya keinginan Agam sudah terwujud karena akhirnya benih yang selalu di taburnya setiap malam sudah mulai tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam rahimnya, Abi yang mendengar penjelasan Dokter langsung berjalan mendekat ke arah mereka, dia sungguh sangat takjub saat melihat pemandangan yang ada di depannya,
''Sudah berapa minggu usia kandungannya, Dok?'' tanya Abi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tersebut.
''Usia kandungan ibu sudah memasuki usia 7 minggu ya, Pak! janinnya sangat sehat, tapi ibu jangan terlalu banyak beraktifitas ya bu. Karena masih sangat rentan.'' ucap sang Dokter sambil mempersilahkan Nara untuk duduk kembali karena sudah selesai melakukan USG.
Abi terlihat begitu sangat antusias saat membicarakan kehamilannya, Nara hanya geleng geleng kepala saja mendengarnya, dia sudah seperti seorang suami siaga yang saat ini sedang berkonsultasi dengan sang Dokter,
Setelah semuanya selesai, mereka langsung keluar dari ruangan tersebut, Abi membukakan pintu ruangan untuk Nara, setelah mereka akan melangkahkan kakinya tiba tiba seseorang langsung memanggil Nara
__ADS_1