Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Mereka kembar


__ADS_3

Hari ini Nara mendapatkan kabar bahwa Irvan sudah sadar, dia lantas meminta izin kepada sang suami untuk menjenguk Irvan di rumah sakit.


Namun karena Agam sedang meeting di luar, akhirnya Nara pergi lebih dulu ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Nara langsung masuk ke dalam ruangan Irvan, dia melihat Irvan sedang terbaring di atas ranjang sambil memejamkan natanya, Nara mendekat ke arah Irvan dan berdiri di sebelahnya, Irvan yang menyadari kehadiran seseorang langsung nembuka matanya, dia terkejut melihat sang mantan yang masih di cintainya itu berada di sebelahnya sambil tersenyum dengan lembut ke arahnya, senyuman itu yang selalu Irvan rindukan selama ini, dia menyesal karena dulu sudah menyia nyiakan Nara, dia sungguh sangat menyesal karena sudah mengkhianati cinta Nara, dan sekarang tidak ada lagi kesempatan baginya untuk memperbaiki semuanya, karena Nara sudah menjadi milik orang lain,


Nara langsung berdehem membuat Irvan langsung tersadar dari lamunannya, dia mencoba untuk duduk namun punggungnya masih terasa nyeri, Nara langsung memeganginya dan membantunya untuk duduk bersandar,


''Terima kasih ya Van, karena sudah menyelamatkan aku waktu itu.'' ucap Nara dengan tulus,


''No problem..!!'' balas Irvan sambil tersenyum, mereka saling terdiam cukup lama, mereka bingung harus memulai obrolan dari mana,


Irvan langsung menoleh ke arah nakas, saat tiba tiba cacing di perutnya berbunyi membuat Nara yang mendengarnya langsung tertawa,


''Kamu lapar?'' tanya Nara sambil melihat makanan yang ada di atas nakas,


''Ada bubur, kamu mau?'' lanjut Nara kemudian dan langsung mengambil bubur tersebut.


''Biar aku suapin!'' ucap Nara sambil melihat tangan Irvan di infus dan tangan sebelahnya lagi sepertinya sangat sulit untuk di gerakkan, mungkin karena terlalu lama dia koma kemarin,


Nara mengarahkan sendok yang sudah di isi bubur tersebut ke arah mulut Irvan, Irvan langsung membuka mulutnya, walaupun dia sungkan, namun rasa laparnya sungguh sangat menyiksanya.


Sementara Agam yang baru selesai meeting, langsung pergi ke rumah sakit untuk menjemput sang isteri, namun dia langsung menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan Irvan, dia tertegun melihat sang isteri sedang menyuapi sang mantan, Agam mendengus kasar, setelah itu langsung masuk ke dalam ruangan Irvan dengan wajah kesal. Nara dan Irvan langsung menoleh ke arahnya bersamaan.

__ADS_1


''Sudah selesai meetingnya?'' tanya Nara sambil menelisik wajah sang suami yang terlihat masam, Agam hanya menganggukkan kepalanya dan langsung duduk di atas sofa yang ada di dalam ruangan tersebut, Irvan yang menyadari wajah Agam seperti itu langsung menyudahi makannya,


''Aku sudah kenyang, Ra!'' ucap Irvan yang kemudian langsung meminta tolong kepada Nara untuk mengambilkan minum. Setelah selesai Irvan langsung mengucapkan terima kasih, Agam hanya terdiam sambil memainkan ponselnya di atas sofa, sementara Nara yang sudah selesai menyuapi Irvan, langsung mengambilkan obat obatnya untuk segera di minumkan ke Irvan,


''Mau minum obat sekarang?'' Tanya Nara dan Irvan langsung menganggukkan kepalanya. Setelah itu Nara langsung menoleh ke arah sang suami yang sejak tadi hanya diam sambil memainkan ponselnya,


''Oh ya Van, kalau gitu aku sama Agam pamit pulang dulu yah? Besok aku akan datang lagi kemari!'' Agam langsung mendongakkan kepalanya menatap sang isteri saat mendengar ucapannya barusan,


Irvan hanya menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih karena hari ini sudah mau menjenguknya.


Setelah selesai berpamitan, Nara langsung mengajak Agam untuk pulang, Agam langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, setelah itu dia langsung berpamitan kepada Irvan dengan wajah datarnya.


Setelah keluar dari ruangan Irvan, Nara langsung menggenggam tangan suaminya dan bertanya ''Ada apa?'' namun suaminya itu hanya diam sambil terus melangkah menuju parkiran,


Agam yang akan membuka pintu mobilnya langsung mengurungkan niatnya, dan kemudian langsung menghadap ke arah sang isteri.


''Kamu kenapa sih pake acara nyuapin mantan kamu itu?'' tanya Agam dengan raut wajah kesal, karena dia saja yang suaminya belum pernah di suapin oleh sang isteri, malah sekarang sang isteri nyuapin sang mantan di hadapannya. Tentu dia merasa sangat kesal.


Nara yang mendengar pertanyaan dari suaminya langsung tertawa sambil menutup mulutnya.


''Ya ampun Gam, kamu cemburu?'' tanya Nara sambil terus tertawa, sementara Agam yang kesal karena di tertawakan oleh sang isteri langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa menghiraukan sang isteri. Nara yang dari tadi tertawa langsung menghentikan tawanya saat melihat suaminya sudah menyalakan mesin mobil, dia langsung buru buru untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Nara terus membujuk sang suami, setelah melakukan berbagai cara akhirnya Agam mau juga memafkannya karena tadi sudah membuatnya cemburu.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Raiza yang mendapat kabar dari saudara kembarnya bahwa sang mama masuk ke dalam rumah sakit, langsung pulang dari luar kota untuk menemui sang mama, Raiza langsung pergi menuju rumah sakit tempat sang mama di rawat. Setelah menemukan ruangan sang mama, Raiza langsung membuka pintunya untuk masuk, namun langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil namanya, Raiza langsung menoleh ke arah sumber suara.


''Raiza..!'' ucap seorang pria sambil tersenyum dan berjalan menghampirinya yang sedang memegang handle pintu. Raiza mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengenali pemuda tersebut.


''Kenapa teleponku dari tadi tidak di angkat angkat?'' tanya pemuda tersebut setelah berada di depannya.


Raiza hanya terdiam sambil terus memandanginya, karena dia bingung harus mengatakan apa kepada pemuda tersebut. Tak lama kemudian, pintu ruangan sang mama terbuka dari dalam, Gavin langsung tersentak kaget dan langsung memundurkan langkahnya kebelakang sambil memegangi dadanya.


Raizel yang melihat Raiza dan Gavin ada di depan pintu juga tidak kalah terkejutnya dengan Gavin, setelah itu Raizel langsung menutup pintu ruangan sang mama agar tidak mengganggu istirahatnya.


''Kenapa ada du--'' ucapan Gavin langsung terpotong saat tiba tiba Raizel menarik tangannya dan juga tangan Raiza untuk berjalan ke arah kursi tunggu yang ada di depan ruangan sang mama.


Raizel menarik panjang nafasnya, setelah itu langsung menghembuskannya secara perlahan, sementara Raiza hanya terdiam sambil memperhatikan Raizel dan pemuda tersebut karena dia sungguh tidak mengerti apapun yang sudah terjadi saat dirinya pergi ke luar kota, dan Gavin masih terlihat syok dengan apa yang barusan di lihatnya, dia sungguh tidak bisa membedakan kedua saudara kembar tersebut, karena mereka berdua memiliki rambut dan perawakan yang sama persis. Hanya warna baju mereka saja yang berbeda.


''Jadi, yang mana Raiza?'' tanya Gavin sambil memandang saudara kembar tersebut secara bergantian. Raiza yang namanya di sebut langsung mengangkat jari telunjuknya, Gavin tersenyum dan langsung menelisik penampilan Raiza yang terlihat memakai baju kebesaran, setelah itu menelisik penampilan gadis yang ada di sebelahnya,


''Terus, kamu siapa?'' tanya Gavin sambil memandang wajah gadis tersebut,


''Aku, Raizel..!'' ucap Raizel menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Gavin langsung menggaruk dahinya yang tidak gatal, sambil terus memandang kedua saudara kembar tersebut secara bergantian.


Raizel yang mengerti kebingungan Gavin langsung menarik tangan Gavin untuk duduk terlebih dahulu.


__ADS_2