
Pagi ini mama Sarah menelfon Agam dan memintanya agar datang malam nanti ke rumah utama karena semua keluarga besar akan berkumpul.
Agam langsung berdecak kesal dan meletakkan Handphonenya dengan kasar ke atas meja membuat Nara yang sedang menyapu langsung menoleh ke arahnya.
''Kenapa?'' tanya Nara
Agam hanya menoleh sekilas dan langsung mengambil air minum dari dalam kulkas lalu duduk di kursi makan. Nara berjalan menghampirinya dan ikut duduk di sebelah Agam.
''Mama nyuruh aku datang ke rumah utama!'' kata Agam setelah selesai meminum air dingin.
''Terus?'' tanya Nara lagi
''Mama pasti mau bahas masalah perjodohan lagi, aku malas!'' jawab Agam sambil bersandar ke kursi dan menengadahkan kepalanya ke atas.
Nara hanya menganggukkan kepalanya sekilas.
Tiba tiba Agam yang duduk disampingnya langsung menjentikkan jarinya membuat Nara langsung menoleh ke arahnya.
''Ahaaa, Aku punya ide!'' kata Agam dengan antusias sambil menatap Nara dengan menaik turunkan alisnya.
''Apa?'' tanya Nara dengan perasaan mulai tidak enak.
''Gimana kalau kamu ikut aku ke rumah utama, terus aku kenalkan sama mama pasti nanti mama langsung membatalkan perjodohan itu!'' kata Agam
''Malas ah..!'' ucap Nara sambil berdiri dari kursi dan melangkahkan kakinya namun tiba tiba Agam menarik tangannya membuat tubuh Nara hilang keseimbangan dan jatuh ke pangkuan Agam. Nara membolakan matanya saat menyadari wajah Agam berada sangat dekat dengan wajahnya.
Agam terus mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Nara membuat Nara langsung memejamkan matanya karena mengira Agam akan menciumnya.
__ADS_1
''Kamu sangat berat sayang!'' ucap Agam di telinga Nara sambil tersenyum membuat Nara langsung melotot mendengar ucapan Agam dan langsung memukul lengan Agam tanpa ampun. Agam hanya tertawa melihat wajah kesal Nara dan langsung menghentikan aksi Nara dengan memegangi kedua tangannya. Nara hanya mengerucutkan bibirnya.
''Aku hanya bercanda sayang!'' ucap Agam sambil mengulum senyum.
🌺🌺🌺
Siang ini Nara dan Agam pergi ke Minimarket yang tidak terlalu jauh dari rumah, mereka membeli banyak cemilan dan minuman kemasan untuk stok di kulkas mereka. setelah selesai Agam menyuruh Nara untuk menunggunya di dalam mobil karena Agam yang akan membayar belanjaan mereka di kasir.
Nara langsung melangkahkan kakinya keluar dari minimarket dan pergi menuju mobil Agam yang ada diparkiran. saat dia akan membuka pintu mobil tiba tiba beberapa orang dengan pakaian serba hitam langsung membekap mulutnya dan nembawanya masuk ke dalam mobil mereka. Agam yang melihatnya langsung berteriak memanggilnya dan buru buru masuk ke dalam mobil untuk mengejarnya, namun Agam kehilangan jejak mobil yang membawa Nara.
''Shitt... kemana mereka!'' ucap Agam sambil mengacak ngacak rambutnya dengan frustasi.
Sementara Nara yang sedang berada di dalam mobil langsung melihat orang orang di sekelilingnya. Nara terkejut melihat mereka semua tersenyum ke arahnya sambil mengangguk hormat.
''Maafkan kami nona muda, karena sudah membawa nona dengan paksa, kami hanya menjalankan perintah nona!'' ucap seorang pria yang memiliki tato naga di lehernya.
''Jangan bilang kalau ini perintah papa?'' tanya Nara sambil bersedekap dada membuat ke empat pria tersebut langsung mengangguk.
''Hentikan teriakanmu itu sayang, ini rumah bukan hutan!'' ucap sang papa sambil tertawa dan berjalan menghampirinya bersama sang mama disampingnya.
''Apa kabar puteri kesayangan papa?'' tanya papa Tama setelah sampai di depan puterinya itu. papa Tama langsung merentangkan kedua tangannya berharap sang puteri memeluknya tapi puterinya itu hanya diam dan menatap tangan papanya saja.
''Kenapa papa suruh mereka buat bawa Nara pulang!'' tanya Nara
''Ya ampun sayang, kamu ini uda lama tidak ketemu bukannya tanya kabar, atau peluk mama sama papa malah tanya seperti itu!'' ucap mama Sovia sambil mencubit kedua pipi Nara dengan gemas.
''Apa sih ma?'' ucap Nara sambil merajuk membuat papa dan mama nya langsung tertawa.
__ADS_1
''Ayolah, My sweet heart kamu pasti tahu apa alasan papa bawa kamu pulang kan?'' ucap papa Tama
''Kenapa papa melanggar perjanjian kita? ini kan belum satu tahun papa!'' tanya Nara
''Maaf sayang, tapi ini mendadak! keluarga temannya papa itu ingin kamu dan anaknya tunangan sekarang juga!'' ucap papa Tama yang membuat Nara langsung terkejut.
''What do you say papa?'' ucap Nara sambil memijat pelipisnya dan memejamkan matanya sekilas.
"Sayang, Are you okay?'' tanya mama Sovia dengan khawatir sambil merangkul pundak puteri semata wayangnya itu.
''Ayolah sayang please, jangan buat keluarga kita malu dengan membatalkan perjodohan ini sayang!'' ucap papa Tama sambil menyatukan tangannya di depan dada berharap sang puteri mau menyetujuinya.
''Ck, pokoknya Nara tetap tidak mau dijodohkan Pa, mending mama aja deh yang papa jodohkan dengan anaknya teman papa itu, jadi keluarga kita tetap tidak akan malu!'' ucap Nara tanpa rasa bersalah.
''Hussstt... kamu ini jangan ngawur!'' ucap mama Sovia sambil menjewer telinga Nara pelan..
''Kamu gak lihat itu pawang mama uda siap nerkam kamu?'' lanjut mama Sovia sambil menunjuk sang papa dengan dagunya. Nara hanya nenyengir sambil mengangkat dua jarinya.
''Peace Papa, just kidding!'' ucap Nara sambil berlari masuk ke dalam kamarnya, membuat mama Sovia langsung menggelengkan kepalanya karena kelakuan Naraya Putri Arkhatama.
''Nara hanya bercanda papa, udah yuk kita ke halaman belakang!'' ajak mama Sovia sambil merangkul lengan papa Tama.
Sementara itu Nara yang baru masuk ke dalam kamarnya langsung tersenyum saat melihat keseluruh sudut kamarnya.
''Masih sama seperti terakhir kali gue tinggalin, OMG gue kangen banget sama kasur gue dan juga teddy bear gue!'' ucap Nara sambil memeluk teddy bear dan langsung rebahan di atas kasur empuknya.
Nara memandang langit langit kamarnya. Dia langsung teringat saat Agam berteriak memanggil namanya ketika dia di bawa masuk ke dalam mobil oleh bodyguard sang papa.
__ADS_1
Nara langsung merogoh ponsel di dalam sakunya dan langsung terkejut saat melihat ada banyak panggilan dari Agam.
Nara langsung menelfon Agam kembali namun tidak di angkat akhirnya dia pun mengechat Agam, Dia mengatakan bahwa dirinya baik baik saja. setelah menunggu beberapa saat chatnya belum juga dibaca akhirnya Nara ketiduran sambil memegang ponselnya di atas perutnya.