
''Silahkan tembak aku sekarang, tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah merestui isteriku menikah dengan lelaki lain!'' tantang Agam sambil menyunggingkan senyumnya. Setelah itu dia membalikkan badan kembali dan melangkah keluar dari pintu utama, Papa Tama yang naik pitam karena mendengar ucapannya barusan, langsung menarik platuknya dan segera melepaskan pelurunya hingga menembus punggung kokoh Agam.
''Argghh...'' teriak Agam sambil menghentikan langkahnya, Nara yang ada di sebelahnya langsung menoleh ke arahnya sambil melebarkan kedua bola matanya dan menutup mulutnya saat melihat Agam yang langsung jatuh tergeletak di atas lantai dan bersimbah darah. ''Agam!'' teriaknya sambil meraih kepala suaminya ke dalam pangkuannya, ''Agam bangun, Gam!'' teriaknya lagi dengan histeris sambil menangis,
''Apa yang Papa lakukan?'' tanya Mama Sovia sambil menghampiri suaminya yang hanya diam sambil menjatuhkan pistolnya begitu saja, Mama Sovia langsung menghampiri Nara dan Agam dengan panik.
''Cepat bawa ke Rumah Sakit!'' teriak Mama Sovia sambil menatap Abi yang hanya terdiam sambil terus menatap Agam, dia masih sangat syok saat melihat Agam yang tertembak di depan matanya.
__ADS_1
''I..iya Tante,'' Abi langsung buru buru menggendong Agam walaupun perutnya terasa mual akibat melihat darah Agam yang berceceran dan mengenai kemejanya, Mama Sovia langsung menyuruh supir pribadinya untuk ikut membantu Abidzar.
Gavin yang sedang berdebat dengan Satpam karena sejak tadi tidak di perbolehkan untuk masuk, langsung terlonjak kaget saat mendengar suara tembakan dari dalam rumah mewah milik Nara, perasaannya langsung tidak enak saat mengingat sepupunya yang ada di dalam sana. Dan tak lama kemudian, matanya langsung menatap ke arah Abi yang sedang membopong Agam menuju mobilnya, Gavin langsung berlari kencang melewati gerbang, ''Apa yang terjadi dengannya?'' Gavin langsung panik saat melihat Agam berlumur darah seperti itu.
''Dia tertembak, cepat ikut kami ke Rumah Sakit sekarang!'' ucap Abidzar sambil meletakkan Agam di kursi belakang, Nara langsung masuk ke dalam mobil dan segera memangku kepala Agam sambil terus menangis, sementara Gavin langsung berlari menuju mobilnya dan segera mengikuti mobil Nara dari belakang.
''Bukankah sudah ku katakan, jangan datang ke rumah ini lagi, kenapa kau tidak mau mendengarkanku, Gam!'' ucap Gavin dengan lirih saat berada di dalam mobilnya, dia jadi merasa bersalah, andai saja dia tidak datang terlambat pasti semua ini tidak akan terjadi, ini semua gara gara Satpam sia-lan itu yang sejak tadi terus menghalanginya untuk segera masuk ke dalam rumah Nara.
__ADS_1
''Bisa lebih cepat lagi tidak sih Pak?'' tanya Nara dengan berteriak, dia merasa supirnya sangat lambat saat melajukan mobilnya, dia sungguh tidak mau terjadi apa apa dengan suaminya.
''Tenang Ra, jangan panik!'' ucap Abi dengan lembut.
''Tenang? Bagaimana aku bisa tenang, saat suamiku sedang sekarat seperti ini!'' ucap Nara dengan suara yang meninggi,
Deg...
__ADS_1
Abidzar langsung tersentak saat Nara membentaknya, Abidzar langsung membalikkan badannya seketika untuk menghadap ke depan lagi, ''Apa Nara masih mencintai suaminya?'' tanyanya pada diri sendiri
Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung membawa Agam ke IGD untuk segera mendapat pertolongan,