Pelayan Tuan Muda

Pelayan Tuan Muda
Pemakaman


__ADS_3

Jantung Raiza langsung berdetak tidak karuan setelah membaca tulisan yang ada di atas pintu ruangan. Dia langsung terburu buru membuka pintu ruangan tersebut, matanya langsung tertuju kepada satu sosok yang berada di atas ranjang yang tertutup kain, dia berjalan pelan memasuki ruangan tersebut, setelah sampai di depan ranjang, dia langsung membuka kain penutup yang menutupi seluruh tubuh jenazah tersebut. Tangannya bergetar hebat ketika ingin membuka kain tersebut, dia menarik nafasnya sambil mengusap air matanya yang terus mengalir, dia terus meyakinkan hatinya bahwa yang ada di hadapannya bukanlah jenazah sang mama, dia yakin kalau sang mama baik baik saja dan sedang menunggunya di ruangan lain,


''Aku harus pergi dari sini, karena mama sudah menungguku,'' ucap Raizel yang langsung menarik tangannya kembali agar tidak membuka kain jenazah milik orang lain, Dia langsung membalikkan badannya untuk pergi, namun Raizel dan Gavin yang berada di belakangnya langsung menatapnya sambil berlinangan air mata,


''Kenapa kalian juga ikut masuk ke ruangan ini? Ayo segera pergi, aku tidak mau mama menungguku terlalu lama.'' ucap Raiza yang memaksakan senyumannya, padahal hatinya sedang bimbang karena hal ini, dia merasa takut namun dia terus berusaha menyangkal hatinya,


Raiza melangkahkan kakinya melewati mereka berdua, namun tiba tiba tangannya langsung di cekal oleh saudara kembarnya, Raiza langsung melihat ke arah pergelangan tangannya, setelah itu dia menoleh ke arah saudara kembarnya yang terus menangis tanpa suara,


Raizel menggelengkan kepalanya tanda jangan pergi, namun Raiza terus mencoba untuk melepaskan cekalan tangan Raizel,


''Aku harus pergi sekarang, aku mau ketemu mama!'' ucap Raiza yang sudah berhasil melepaskan tangan saudara kembarnya, dia melangkahkan kakinya kembali, namun suara Raizel langsung menghentikan langkahnya dan membuatnya membeku di tempat, kakinya tiba tiba terasa seperti jelly, pandangannya mulai mengabur, namun dia berusaha agar tetap tenang dan menguasai dirinya,


''Mama sudah pergi, Za!'' ucap Raizel sambil menghapus air matanya yang terus mengalir sejak tadi.


''Mama pergi ninggalin kita!'' lanjut Raizel dengan terisak, Gavin langsung memegang kedua bahunya, semenrara Raiza hanya terdiam di tempat tanpa berniat membalikkan badannya ke arah mereka berdua.

__ADS_1


''Jangan bercanda Zel, mama tidak mungkin pergi meninggalkan kedua puterinya sendiri di sini, mama sudah berjanji akan selalu menemani kita, mama tidak mungkin sejahat itu sama kita!'' teriak Raiza sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah Raizel,


''Jangan pernah berbicara omong kosong lagi Zel, atau aku akan sangat membencimu!'' teriak Raiza sambil menangis, dan tiba tiba tubuhnya langsung merosot di atas lantai, Raizel langsung memeluknya sambil terus terisak,


''Mama sudah tenang Za, mama sudah tidak merasakan sakit lagi, mama pasti sudah bahagia karena akhirnya bisa lepas dari pria brengsek itu.'' ucap Raizel sambil terus memeluk saudara kembarnya, Raiza langsung menggenggam erat kedua tangannya saat teringat akan wajah sang papa.


''Semuanya gara gara si brengsek itu, gara gara dia mama jadi seperti ini, aku harus membunuhnya!'' teriak Raiza dengan histeris dan penuh dengan aura kebencian,


Raiza langsung bangkit dan berlari keluar ruangan, namun Gavin langsung menarik tangannya dengan kencang hingga Raiza langsung menghentikan langkahnya. Raizel langsung berlari ke arah Raiza dan memeluknya kembali sambil terus menenangkannya. Raizel membawa Raiza ke hadapan jenazah sang mama. Gavin membuka kain penutup jenazah tersebut, Raiza langsung memeluk sang mama dengan menangis sejadi jadinya, dia berfikir bahwa semua ini hanya mimpi anehnya, namun ternyata semua ini adalah kenyataan, sang mama pergi meninggalkannya dalam kondisi sedang hamil dan tanpa suami. Dia merasa tidak sanggup untuk menerima ini semua. Dia juga tidak tahu harus bagaimana lagi setelah kepergian sang mama.


Setelah sang mama selesai di kuburkan, semua orang yang melayat langsung mengucapkan belasungkawa kepada saudara kembar tersebut, mereka pamit untuk pulang, sementara saudara kembar tersebut masih setia berada di makam sang mama ditemani oleh Gavin, mereka berdua terus menangis namun tiba tiba seorang pria paru baya langsung datang berlari ke arah mereka dan langsung menubruk makam sang mama dengan menangis histeris sambil memeluk batu nisan tersebut.


Raiza langsung mengepalkan kedua tangannya namun Raizel yang melihatnya langsung menggenggam erat tangannya dan memeluk ke dua bahunya sambil terus terisak,


''Kenapa kamu pergi secepat ini ma, kenapa kamu ninggalin aku ma!'' ucap pria tersebut sambil terus menangis histeris,

__ADS_1


Raiza langsung bangkit dan menarik kasar tangan sang papa yang sedang memeluk batu nisan sang mama.


''Jangan mengotori nisan mamaku dengan tangan kotor anda itu, sudah puas anda kan buat kami menjadi piatu? Sekarang pergi dari sini, jangan berpura pura untuk bersedih!'' teriak Raiza dengan histeris sambil terus memukul mukul sang papa yang hanya terdiam sambil menatap sang puteri yang menatapnya dengan penuh kebencian, Gavin yang melihatnya langsung memegangi kedua bahu Raiza dan langsung memeluknya dari belakang sambil terus menenangkannya. Raizel langsung menghampiri sang papa yang hanya terdiam sambil berlinang air mata.


''Jangan merusak suasana berkabung kami dengan kehadiran anda di sini, sekarang silahkan pergi!'' ucap Raizel dengan suara dinginnya sambil menatap tajam ke arah sang papa.


''Pergi atau aku akan membunuhmu sekarang juga!'' teriak Raiza yang berusaha lepas dari pelukan Gavin, dia sudah seperti orang kesetanan ketika melihat sang papa.


''Om, mending sekarang om pergi dari sini om, kasihan mereka berdua om,'' pinta Gavin kepada pria tersebut sambil terus memeluk Raiza yang terus memberontak di pelukannya.


Sang papa melihat ke arah Raizel yang sedang menatapnya dengan aura membunuh, setelah itu gantian menatap ke arah Raiza yang seperti orang kesetanan dan ingin menyakar nyakar wajahnya. Sang papa menjadi ciut ketika mendapati wajah kedua puterinya yang sepertinya sangat membenci dirinya. Dia melangkah mundur sambil menatap ke arah puteri kembarnya yang selalu menatapnya dengan aura penuh permusuhan. Tiba tiba hatinya menjadi teramat sakit saat melihat ke dua mata sang puteri kembarnya, kilasan masa lalu langsung terngiang di kepalanya, saat dulu kedua mata mereka penuh dengan kerinduan yang teramat dalam dan selalu memancarkan kebahagiaan, namun sekarang ke dua mata tersebut penuh dengan amarah dan kebencian. Dia langsung membalikkan badannya karena tidak sanggup melihat mata ke dua puteri kembarnya itu, dia berjalan ke luar pemakaman sambil terus menangis dengan pilunya.


Setelah kepergian sang papa, Raiza menjadi sedikit tenang dan Gavin akhirnya melepaskan pelukannya, Raiza langsung jatuh merosot ke tanah sambil memeluk nisan sang mama, dan Raizel hanya terdiam karena dia sungguh sangat kecewa dengan sang papa. Dia terus menangis dalam diam, Gavin yang melihatnya langsung berdiri di sebelahnya dan memeluk ke dua bahunya dengan lembut.


''Kamu yang sabar ya Zel, mama sudah tenang di sana!'' ucap Gavin sambil menghapus air mata Raizel dengan ibu jarinya.

__ADS_1


__ADS_2