
''Arisha adalah puteri kita, maaf karena aku sudah menyembunyikannya darimu!'' jawab Nara sambil terisak, Agam langsung membuka masker oksigennya secara perlahan, dan beranjak duduk secara perlahan, ''Kau mau apa? Kau baru saja sadar!'' kata Nara sambil memegangi lengannya. Agam hanya tersenyum sambil terus berusaha duduk karena sejujurnya tulangnya masih sangat nyeri dan juga sangat lemas, ''Aku ingin memeluk puteriku!'' pintanya sambil terus menatap Arisha yang terlihat senang, tidak seperti beberapa hari belakangan ini yang selalu saja rewel, membuat Mama sovia dan Baby sitter nya kewalahan akibat ulahnya itu.
Mama Sovia langsung memberikan Arisha kepadanya, Agam dengan bahagia menerima Arisha di gendongannya, namun seketika dia langsung meringis saat merasakan nyeri di punggungnya yang baru saja di operasi, Nara dengan sigap langsung meraih Arisha dari gendongannya.
''Kan sudah ku bilang, jangan terlalu banyak bergerak, kau baru saja sadar sayang!'' ucap Nara sambil tersenyum lembut ke arahnya.
"Aku hanya ingin memeluk puteriku!" ucapnya dengan lirih sambil mencoba berbaring lagi.
__ADS_1
"Baiklah, setelah kau sehat, kau bisa memeluknya sepuasmu!" ujar Nara sambil mengelus punggung tangannya, mereka saling tatap satu sama lain, namun suara ketukan pintu membuat tatapan mereka langsung terputus, dan segera menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka, tampaklah Papa Tama yang sedang berdiri di ambang pintu dan perlahan mulai berjalan menghampiri mereka,
"Maaf," ucapnya setelah berada di dekat ranjang Agam, membuat mereka berdua saling pandang lagi, "Agam yang seharusnya minta maaf sama Papa, karena sudah menyakiti puteri kesayangan Papa, Maaf, Pa!" ujar Agam sambil meraih tangan mertuanya,
"Sebenarnya, Papa yang sudah mengirim surat perceraian itu untukmu!" ucapan Papa Tama barusan membuat Nara langsung menatap ke arah Papanya, "Maksud Papa, apa?" dia sungguh sangat terkejut saat mendengar pengakuan dari Papanya itu, karena dia tidak pernah menyangka bahwa sang Papa akan melakukan hal itu tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Sementara Agam hanya terdiam sambil menggenggam erat tangan Nara dengan lembut,
''Sudahlah Pa, tidak ada yang perlu di sesalkan lagi, karena sekarang, aku dan Nara sudah bersama lagi, dan aku janji kali ini, aku tidak akan membuat puteri kesayangan Papa menangis lagi,'' Nara langsung tersenyum saat melihat Agam berbicara seperti itu sambil menatapnya,
__ADS_1
Mama Sarah dan Papa Bara yang baru sampai di Indonesia langsung pergi menuju Rumah Sakit untuk melihat keadaan putera mereka, Sesampainya di depan pintu, mereka hanya diam sambil mendengar apa yang sudah di ucapkan oleh beberapa orang dewasa yang ada di dalam ruangan puteranya itu, senyumnya langsung melengkung saat mendengar kalimat terakhir dari puteranya itu, mereka langsung membuka pintu ruangan membuat mereka semua langsung menatap kearahnya,
''Mama, Papa, kenapa kalian datang tidak memberitahuku terlebih dahulu?" tanya Agam dengan wajah bingungnya,
''Memangnya kenapa? Apa kau ingin menjemput kami di Bandara saat kami memberitahumu!'' jawab Mama Sarah dengan kesal sambil menjewer telinganya, membuatnya langsung mengaduh kesakitan, dan Arisha yang melihatnya seperti itu langsung tertawa, membuat mereka semua langsung menoleh ke arah nya sambil tersenyum, ''Hallo Arisha sayang!'' sapa Mama Sarah sambil meraihnya dari gendongan sang besan.
Agam menautkan kedua alisnya, saat melihat Mamanya itu yang begitu akrab dengan sang puteri, padahal ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. ''Kenapa Mama bisa tahu nama puteriku?''
__ADS_1