
''Nara..!'' panggil seorang wanita paruh baya yang langsung bergegas menghampirinya. Wanita tersebut langsung memeluk tubuhnya saat sudah berada di depannya.
''Apa kabar, sayang?'' tanya wanita itu yang tak lain adalah mertuanya, Mama Sarah.
''Nara baik, Ma!'' jawab Nara sambil tersenyum ke arah mertuanya,
''Maaf ya sayang, mama belum bisa menemuimu akhir akhir ini, karena mama masih ada urusan di Luar Negeri, kemarin mama baru sampai di sini dan langsung ke Rumah Sakit karena ada satu urusan.'' ujar Mama Sarah yang merasa tak enak hati kepada menantunya itu.
''Tidak apa apa, Ma, Nara baik baik saja kok!'' ujar Nara dengan lembut.
''Kamu ngapain sayang dari ruangan Dokter Obgyn?'' tanya Mama Sarah yang baru menyadari jika saat ini mereka sedang berada di depan pintu ruangan Dokter Obgyn.
''Kamu hamil?'' tanya Mama Sarah lagi sambil menatap menantunya itu yang hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya saja.
''Alhamdulillah, selamat ya, sayang!'' ucap Mama Sarah sambil memeluknya kembali dan mencium pucuk kepalanya dengan sayang, Abi yang merasa keberadaannya tidak di sadari dari tadi langsung berdehem dengan kuat, membuat Mama Sarah langsung menoleh ke arahnya,
''Kamu siapa?'' tanya Mama Sarah dengan jutek karena lelaki ini sangat mengganggunya yang sedang bahagia karena sebentar lagi akan segera punya cucu.
''Aku?'' tunjuk Abi pada dirinya sendiri.
''Ya iyalah, emangnya ada orang lain selain kamu di sini?'' jawab Mama Sarah dengan malas.
''Aku Abidzar, majikannya Nara!'' ujar Abi sambil mengulurkan tangannya.
Mama Sarah langsung menoleh ke arah menantunya,'' Kamu jadikan menantu saya pembantu'' tanya Mama Sarah sambil menatap tajam ke arah Abi yang langsung menarik kembali tangannya.
''Apa ada yang salah?'' tanya Abi sambil menautkan kedua alisnya.
''Tentu saja itu salah, kamu tidak tahu jika menantu saya ini adalah Puteri kong..--'' ucapan Mama Sarah langsung di potong oleh Nara.
__ADS_1
''Oh ya, Mama pasti capek kan? Gimana kalau kita duduk di kantin Rumah Sakit ini sambil bercerita?'' ujar Nara sambil mengedipkan sebelah matanya. Mama Sarah yang mengerti akan kode tersebut langsung menutup mulutnya, dia hampir saja keceplosan mengatakan bahwa menantunya itu adalah puteri konglomerat.
''Puteri apa? Kenapa Anda berbicara setengah setengah seperti itu?'' ujar Abi yang merasa penasaran dengan ucapan wanita tersebut.
''Halah, sudahlah kamu itu kepo sekali yah?'' gerutu Mama Sarah. ''Oh ya sayang, mending sekarang kamu ikut mama pulang saja, yuk? Kamu kan lagi hamil muda, jadi kamu tidak perlu bekerja jadi pembantu di rumah bocah ini!'' ajak Mama Sarah pada menantunya.
''Hei, aku bukan bocah lagi, lagian juga Nara itu tidak akan aku izinkan keluar dari pekerjaannya, karena dia sudah terikat kontrak kerja sama denganku!'' protes Abi kepada wanita paruh baya yang menurutnya terlalu unik tersebut.
''Enak saja kamu, pokoknya saya mau bawa menantu saya pulang! Berani kamu sama saya?'' ucap Mama Sarah sambil menggulung lengan bajunya, Abi langsung melongok melihatnya.
''Kamu tidak salah punya mertua Bar Bar seperti ini?'' tanya Abi sambil menoleh kearah Nara yang hanya tersenyum melihat interaksi antara mertuanya dan juga Abi.
''Heh, Maksud kamu apa? Kamu bilang saya bar bar? Sini kamu!'' Ujar Mama Sarah dengan garang, sambil menggoyang goyangkan jari telunjuknya di depan wajah seolah menyuruh Abi untuk mendekat ke arahnya, Abi hanya menelen salivanya dengan susah payah.
''Mending sekarang kita pergi dari sini!'' perintah Abi yang langsung mengajak Nara untuk segera pergi dari tempat tersebut.
''Baiklah, kamu janji ya sama Mama, nanti bakalan datang ke rumah, soalnya masih banyak yang ingin mama obrolin sama kamu, sayang! Kebetulan Mama juga lagi buru buru ini!'' pinta mama Sarah sambil menyodorkan kartu nama ke arah menantunya, Nara langsung menerimanya dan segera memasukkannya ke dalam tasnya.
''Hei, kamu! Awas kamu ya, kalau sampai menantu saya kenapa kenapa, dan awas saja kamu jika kasih pekerjaan berat berat kepada menantu saya, bakalan saya gantung kamu, di pohon mangga depan rumah saya!'' ancam Mama Sarah dengan tampang garangnya.
Abi langsung mengajak Nara untuk segera pergi dari hadapan wanita garang tersebut.
''Kau yakin, wanita bar bar itu benar benar mertuamu?'' ucap Abi dengan lirih sambil melangkahkan kakinya,
Puukk...!!
''Awww...!'' Teriak Abi sambil meringis dan langsung memegangi kepalanya yang terasa berdenyut karena di timpuk tas oleh mertua Nara tersebut.
''Apa? Saya masih bisa mendengar apa yang kamu katakan barusan!'' ucap mama Sarah sambil tersenyum miring dan mengelus ngelus tas brandednya yang baru saja di gunakan untuk menimpuk kepala bocah tengil itu,
__ADS_1
''Untung saja, tas saya tidak lecet!'' ujar Mama Sarah yang sudah selesai memeriksa tasnya.
''Ha, Astaga, dia malah lebih takut jika tasnya lecet dari pada sama kepalaku, emangnya dia tidak takut, jika sampai aku hilang ingatan karena timpukan tas brandednya itu di kepalaku?'' gerutu Abi pada Nara sambil menatap tidak percaya ke arah mama Sarah yang tersenyum lebar ke arahnya.
''Mau ngerasai sepatu saya juga, kamu?'' tanya Mama Sarah dengan seringai liciknya, Abi yang mendengar ucapannya barusan, langsung mengajak Nara pergi dan segera berjalan cepat meninggalkan wanita bar bar itu.
''Hei, tolong jaga menantu saya dengan baik ya!'' teriak Mama Sarah sambil menatap kepergian mereka berdua yang semakin menjauh, Mama Sarah langsung tertawa sambil menggeleng gelengkan kepalanya saat melihat wajah panik Abi tadi.
''Aku berharap, semoga bayimu kelak tidak menuruni sifat neneknya yang seperti itu!'' ujar Abi saat mereka sudah masuk ke dalam mobil, Nara hanya tertawa kecil menanggapinya. Setelah itu mereka langsung pulang menuju rumah,
''Apa kau tidak ke kantor?'' tanya Nara karena melihat mobil mereka menuju arah pulang,
''Hari ini aku tidak ada jadwal penting, jadi aku akan bekerja dari rumah saja!'' ujar Abi sambil sesekali menoleh ke arah Nara.
''Bos mah, bebas!'' lanjut Abi lagi sambil tertawa, membuat Nara juga ikut tertawa karenanya.
''Oh ya, apa kau menginginkan sesuatu? Tanya Abi sambil menatap sekilas ke arahnya.
''Sepertinya aku ingin memakan mangga muda yang langsung di petik dari pohonnya langsung!' jawab Nara sambil menatap penuh harap pada Abi, semoga saja Abi mau mengabulkan keinginannya untuk makan mangga muda sejak tadi malam itu.
Di tempat berbeda, Agam yang baru memejamkan matanya langsung duduk kembali sambil mengusap perutnya, ''Kenapa aku tiba tiba ingin sekali memakan mangga muda ya!'' ucap Agam pada dirinya sendiri. Dia langsung turun dari ranjang dan segera keluar kamar. matanya langsung menatap ke arah Gavin yang sedang rebahan di sofa sambil memainkan ponselnya dan juga menonton Televisi, tapi lebih tepatnya Televisi yang sedang menonton Gavin sambil memainkan ponselnya.
''Enak sekali hidupmu ya, tidak ikut bayar token listrik, tapi malah menghidupkan televisi yang bahkan sama sekali tidak kau lihat!'' sindir Agam sambil menjatuhkan bokongnya untuk duduk di sebelah Gavin yang sedang rebahan.
''Apaan sih, holang kaya sirik aja!'' ujar Gavin tanpa menoleh ke arah Agam yang langsung melemparkan bantal sofa ke arah wajah Gavin, membuat Gavin langsung berdecak kesal karenanya.
''Apaan sih, jahil banget!'' gerutu Gavin sambil meletakkan kembali bantal sofa ke tempatnya semula.
''Tolong carikan mangga muda sekarang Vin, tiba tiba aku ingin sekali memakannya langsung dari pohonnya.'' ucap Agam membuat Gavin langsung melongok ke arahnya.
__ADS_1