
Nara langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran, dan langsung menyuruh sang supir untuk segera mengikuti mobil suaminya menuju rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Nara langsung melangkah masuk dan melihat suaminya berdiri di depan ruangan sambil mondar mandir. Nara berjalan mendekat ke arah sang suami.
''Bagaimana keadaannya, Gam?'' tanya Nara sambil meremat kuat tasnya, Agam langsung menoleh ke arah sang isteri.
''Kenapa kamu dorong Kayla dari atas tangga?'' tanya balik Agam.
''Aku tidak dorong dia, Gam! Dia yang menjatuhkan dirinya sendiri.'' jawab Nara jujur.
''Omong kosong, hanya orang yang tidak waras yang akan dengan sengaja menjatuhkan dirinya sendiri dari atas tangga!'' ucap Agam dengan penuh penekanan.
''Tapi itu yang sebenarnya, Gam! Aku..--''
''Cukup..!'' bentak Agam membuat Nara langsung menghentikan ucapannya karena terkejut dengan suara Agam yang meninggi, matanya langsung berkaca kaca sambil menundukkan kepalanya dan meremat kuat tasnya.
''Tapi aku tidak salah, Gam! Aku bisa jelasin semuanya.'' ucap Nara dengan lirih sambil terus menunduk,
''Aku tidak butuh penjelasan kamu, karena aku sudah melihatnya sendiri saat kamu mendorongnya dari atas tangga, kamu keterlaluan, Nara!'' ujar Agam sambil berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak ledak akibat perbuatan sang isteri kepada temannya itu. Nara yang sudah tidak tahan lagi langsung membalikkan badan dan pergi berlari dari hadapan Agam, dia terus berlari ke arah mobilnya dan segera meminta sang supir untuk segera pergi dari tempat ini.
Agam langsung menjambak rambutnya frustasi saat melihat sang isteri pergi begitu saja. tak berselang lama dokter langsung keluar dari dalam ruangan, Agam langsung menghampiri dan bertanya tentang keadaan Kayla,
''Pasien baik baik saja, jangan khawatir kami akan memberikan yang terbaik untuk pasien!'' ucap sang dokter sambil melangkah pergi.
Setelah Kayla di pindahkan di ruang rawat inap, Agam langsung masuk untuk menemuinya, Agam membuka pintu ruangan dan melihat Kayla sedang menangis sambil memegangi kepalanya yang di perban.
__ADS_1
''Kamu kenapa, Kay?'' tanya Agam dengan panik sambil mendekat ke arah Kayla.
''Kenapa isteri kamu setega itu sama aku, Gam? emangnya apa salahku, Gam? Gara gara isteri kamu, kaki aku jadi seperti ini! Sepertinya aku tidak akan bisa berjalan untuk beberapa waktu.'' kata Kayla sambil menangis terisak isak, dia membohongi Agam dengan mengatakan kalau kakinya patah, Agam langsung memeluknya dan menenangkannya. Kayla langsung tersenyum di sela sela tangisnya sambil memeluk Agam dengan erat.
''Aku minta maaf atas nama isteriku, Kay! Tapi kamu tenang saja, aku pasti akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah di lakukan Nara sama kamu!'' ucap Agam sambil melepaskan pelukannya, Kayla hanya menganggukkan kepalanya sambil menghapus air mata buayanya.
''Selangkah lagi aku akan bisa mendapatkanmu untuk selamanya Agam, aku akan menyingkirkan isteri sialanmu itu dari kehidupanmu,'' ucap Kayla dalam hati sambil terus mengusap air matanya.
Agam menunggu Kayla di rumah sakit, dia menyuapi dan membantu Kayla untuk minum obat, setelah itu Agam langsung pamit untuk pulang dan berganti pakaian terlebih dahulu, karena tadi Kayla memintanya untuk menemaninya malam ini, karena dia merasa takut jika harus di tinggal sendirian di ruangan nya itu, terpaksa Agam mengiyakan permintaannya untuk menginap di rumah sakit dan ini juga sebagai bentuk pertanggung jawabannya kepada Kayla.
Kayla langsung tersenyum, sambil melihat punggung lebar nan kokoh itu berjalan keluar dari ruangan nya, setelah Agam menutup pintu ruangannya, Kayla langsung bersorak senang.
Agam yang baru sampai di rumahnya, langsung masuk dan segera menuju ke kamarnya, dia membuka pintu dan matanya langsung menatap sang isteri yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya,
''Kamu sudah makan?'' tanya Nara lagi, namun Agam masih tetap diam dengan wajah datarnya sambil terus menyiapkan beberapa map dan memasukkannya ke dalam sebuah tas kerja,
''Kamu mau kemana, Gam?'' tanya Nara lagi sambil menghadang jalan suaminya,
Agam langsung menghela nafasnya dengan kasar, setelah itu menatap sang isteri yang berada di depannya.
''Aku mau menemani Kayla di rumah sakit,'' kata Agam masih dengan wajah datarnya.
''Maksudnya, kamu mau menginap di rumah sakit? Terus gimana sama aku? Aku butuh kamu, Gam!'' protes Nara yang tidak setuju karena suaminya akan menginap di rumah sakit.
__ADS_1
''Kayla lebih membutuhkan aku, kakinya tidak bisa untuk berjalan, dan itu semua karena perbuatan kamu, dan aku sebagai suami kamu, terpaksa harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu yang sangat keterlaluan itu!'' kata Agam sambil berjalan melewati Nara begitu saja.
''Tapi aku emang tidak bersalah Gam, aku tidak mendorongnya!'' teriak Nara sambil terus memanggil manggil nama suaminya. Dia merasa kesal dan juga kecewa, karena sang suami lebih percaya kepada Kayla dari pada dirinya, dia berusaha mengatakan yang sebenarnya namun tetap saja sang suami terus saja menuduhnya bahwa Kayla terjatuh karena ulahnya.
Hampir seminggu Agam tidak pernah tidur di rumah, dia hanya pulang jika ingin berganti pakaian, dan setelah itu dia pergi lagi ke rumah sakit untuk menemani Kayla disana, sementara sang isteri hanya bisa menelan rasa kecewanya sendiri, dia merasa bahwa Agam selalu mengacuhkannya, jangankan untuk menyapa, memandangnya saja Agam tidak mau,
Hari ini Nara memutuskan untuk pergi keluar rumah tanpa izin dari suaminya, namun saat dia akan menutup pintu, seorang kurir langsung memanggil dan menghampirinya, Nara langsung mengerutkan keningnya dengan heran, karena dia merasa tidak pernah memesan apa pun namun kenapa seorang kurir malah memanggil dan menghampirinya.
''Dengan ibu Nara?'' tanya sang kurir setelah berada tepat di hadapannya, Nara hanya menganggukkan kepalanya saja,
''Ini ada paket, bu!'' ujar sang kurir sambil menyerahkan sebuah kotak kecil,
''Maaf mas, tapi saya tidak pernah pesan apa pun, mas!'' ucap Nara yang hanya melihat kotak tersebut tanpa berniat untuk mengambilnya dari tangan sang kurir yang sedang mengulurkan kotak tersebut ke arahnya.
''Tapi di sini tertulis nama dan alamat ibu!'' ucap sang kurir lagi,
Nara terpaksa mengambil paket tersebut dan langsung mengucapkan terima kasih, dia langsung melihat kotak tersebut, di sana memang tertulis nama dan alamatnya, Nara yang penasaran langsung membuka pintunya kembali dan langsung masuk ke dalam rumahnya lagi, untuk melihat isi yang ada di dalam kotak tersebut.
Matanya langsung melongok saat melihat isi yang ada di dalam kotak tersebut, dia langsung mengambilnya dan melihatnya. Matanya langsung membola dengan sangat lebar dan jantungnya langsung berdegup dengan sangat kencang, badannya langsung berkeringat dingin dan dia langsung terduduk di atas sofa karena tiba tiba saja kakinya terasa lemas,
Tangannya terus bergetar hebat saat melihat sebuah foto dimana suaminya sedang tidur dengan Kayla tanpa mengenakan pakaian, walaupun dia melihat wajah pria tersebut dari samping, namun dari postur tubuh dan juga rambutnya, dia sangat yakin bahwa itu adalah suaminya.
Air matanya langsung turun tanpa permisi, dia terus memandang foto tersebut dan melihatnya dengan seksama, berharap itu hanya foto editan saja, namun ternyata foto itu terlihat sangat asli, dan dia langsung menangis lagi sejadi jadi nya. Namun beberapa saat kemudian dia langsung menghapus air matanya, dan dia buru buru memasukkan foto tersebut ke dalam tasnya, setelah itu langsung segera pergi menuju rumah sakit tempat Kayla di rawat, dia langsung bertanya kepada resepsionis namun ternyata Kayla sudah keluar dari rumah sakit, Nara yang bingung langsung menelfon Raka untuk menanyakan apakah suaminya berada di kantor atau tidak, namun kata Raka Agam hari ini tidak masuk ke kantor, lagi lagi Nara merasa lemas dan dia langsung duduk di pinggiran rumah sakit, dia tidak tahu harus mencari suaminya kemana lagi, dia yakin jika saat ini suaminya sedang bersama dengan Kayla, namun dia juga tidak tahu di mana alamat rumah Kayla.
__ADS_1