
Sesampainya mereka di rumah, Agam langsung mengambil pisau untuk segera mengupas mangga mangga muda tersebut, setelah itu langsung memakannya, karena dia sudah tidak sabar ingin segera merasakan rasa dari mangga muda tersebut, dia menggigit dan setelah itu langsung mengunyahnya sambil menatap Gavin yang sedang melongok ke arahnya dengan wajah menahan ngilu.
''Kau mau?'' tanya Agam sambil menyodorkan mangga yang sudah di kupasnya itu ke hadapan Gavin,
Gavin langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, ''Untukmu saja, gigiku langsung terasa ngilu saat melihatmu memakan mangga muda itu!'' ujar Gavin
Agam langsung memakan kembali mangga mangga itu, setelah itu langsung mencuci tangannya, ''Jangan lupa tutup semua jendelanya, aku mau ke kamar terlebih dahulu!'' perintah Agam sambil melangkahkan kakinya menuju kamar,
Gavin langsung menuruti perintah Agam untuk segera menutup jendela, Dia berjalan sambil bersenandung riang dengan suara suara cemprengnya, membuat siapa pun yang mendengarnya pasti akan langsung merasa sakit telinganya. Dia terus menutup semua jendela yang ada di rumah Agam tersebut, saat akan menutup jendela ruang tamu, matanya tidak sengaja melihat mbak kukun yang tadi ada di atas pohon,
''Aaaaa...!'' teriak Gavin sambil berlari menuju kamar Agam yang kebetulan tidak di kunci, dia langsung membuka kasar pintunya, membuat Agam yang sedang mengecek email di atas ranjang, langsung terlonjak kaget, karena mendengar suara pintu yang di tutup kembali dengan sangat kuat.
Gavin langsung naik ke atas ranjang dan langsung mendekap Agam, membuat Agam langsung memberontak keras. ''Apaan sih, Vin! lari larian sambil peluk peluk segala.'' ujar Agam yang membuat Gavin langsung tersadar dan setelah itu langsung melepaskan tangannya yang masih memeluk tubuh Agam,
Dia langsung meraih gelas yang ada di atas nakas sebelah Agam, dan segera meminumnya, setelah itu langsung menatap Agam yang hanya melongok melihat tingkahnya.
''Jadi kau datang ke kamarku sambil berlari lari seperti itu hanya untuk, minum?'' tanya Agam sambil menatap kembali ke arah laptopnya.
''Bukan, Gam. Itu di luar ada mbak kukun!'' ucap Gavin dengan wajah takutnya, Agam langsung menautkan kedua alisnya, ''Ngapain, dia kemari?'' tanya Agam
''Mau nagih duit mangga, kali!'' jawab Gavin dengan entengnya.
''Apaan sih, gak jelas!'' gerutu Agam sambil menatap ke arah jendela yang sedang di ketuk ketuk dari luar, mereka berdua saling pandang, Gavin langsung menarik selimut dan segera bersembunyi di balik selimut tersebut,
''Tuh, kan, apa kubilang tadi, pasti itu mbak kukun mau nagih duit mangga nya!'' ucap Gavin dari balik selimut.
__ADS_1
''E.. Emang berapa duit mangganya, Vin?'' tanya Agam terbata bata, sambil menarik narik selimut yang menutupi tubuh Gavin seluruhnya.
''Mana aku tahu, tanya aja noh sama orangnya langsung!'' ucap Gavin asal ceplos membuat Agam langsung menelan salivanya dengan susah payah.
''Ya udah ini uangnya, ayo cepat kasih sama dianya, Vin!'' ujar Agam sambil mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah ke arah Gavin yang masih setia menutup tubuhnya dengan selimut,
''Ogah, Kasih aja sana sendiri, ngapain nyuruh nyuruh aku segala!'' tolak Gavin membuat Agam langsung melototkan matanya.
🌺🌺🌺
Mama Sarah yang baru pulang dari Rumah Sakit langsung menghampiri sang suami yang sedang berada di dalam ruang kerjanya, dia membuka pintu ruangan tersebut secara perlahan setelah itu langsung melangkahkan kakinya untuk masuk dan menghampiri sang suami yang terlihat sibuk menatap layar laptopnya
''Hai Papa..! Lagi sibuk yah?'' tanya mama Sarah sambil tersenyum dan langsung duduk di kursi kosong yang ada di dekat meja kerja sang suami.
''Kenapa senyum senyum seperti itu, Ma?'' tanya balik Papa Bara yang heran karena melihat sang istri senyum senyum sendiri.
''Canda, Ma!'' ujar papa Bara sebelum sang isteri mengamuk lebih dulu. ''Tadi mama bilang ada kabar baik, kabar baik apa itu ma?'' tanya papa Bara.
''Oh iya, hampir saja lupa! Papa tau tidak?'' papa Bara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat membuat mama Sarah langsung berdecak kesal. ''ihhh, Papa!! Papa Bara langsung tertawa melihat ekspresi kesal sang isteri.
''Sebentar lagi kita akan punya cucu, Pa!'' seru mama Sarah dengan girang,
''Maksudnya?''
''Ih Papa, kenapa loadingnya lama banget sih!'' gerutu Mama Sarah,
__ADS_1
''Nara itu lagi hamil, Pa! Dia sedang mengandung cucu kita, anaknya Agam!'' lanjut Mama Sarah dengan wajah berbinar. Dan Papa Bara langsung mengucap syukur ketika mendengar kabar bahwa sang menantu sedang hamil.
''Apa perlu kita kasih tau Agam, Ma?'' tanya Papa Bara.
''Tidak perlu Pa, biarkan saja bocah tengil itu menderita, itu adalah hukuman buat dia karena sudah berani membuat Nara menangis karena ulahnya,'' ujar Mama Sarah sambil bersedekap dada.
''Sudahlah Ma, jangan seperti itu! Kasihan Agam sudah lebih dari sebulan dia menderita akibat tidak bisa menemukan isterinya itu,'' kata Papa Bara yang mengingat bagaimana perjuangan sang putera untuk bisa menemukan keberadaan sang isteri,
''Biarkan saja Pa, siapa suruh dia mengibarkan bendera perang untuk menantu kita demi wanita ulat bulu seperti si Kokom!''
''Kayla Ma, bukan Kokom! Heran deh, suka banget ganti ganti nama orang!'' seru papa Bara sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
''Hallaahh, mau Kokom kek mau Kayla kek, sama aja itu Pa!'' ujar mama Sarah tidak mau kalah, entah kenapa dia merasa sangat sensitif saat menyebut nama ulat bulu tersebut. Ulat bulu yang sudah membuat puteranya itu kegatelan,
''Jadi mau sampai kapan kita menghukum Agam seperti ini, Ma?'' tanya papa Bara
''Sampai Mama puas!'' ucap Mama Sarah dengan enteng.
''Ya sudahlah terserah Mama saja, terus sekarang Nara nya mana, Ma?'' tanya papa Bara
''Nara tidak mau di ajak pulang kemari, Pa! Karena katanya dia masih terikat kontrak sama majikan gendeng nya itu!'' ucap Mama Sarah sambil melihat kuku kuku cantiknya yang berwarna merah.
''Nara bekerja dengan seseorang?'' tanya Papa Bara sambil menatap sang isteri yang masih fokus sama jari jari tangannya itu.
''Kenapa malah mama biarkan Nara bekerja sih, Ma? Dia kan lagi hamil!'' ujar Papa Bara yang tidak habis fikir dengan sang isteri karena masih membiarkan sang menantu untuk bekerja.
__ADS_1
''Tenang saja Pa, tadi mama sudah ngabarin Sovia, terus Sovia bilang, katanya biarkan saja Nara melakukan apa saja yang ingin dia lakukan! Dan yang ingin dia lakukan saat ini adalah bekerja, Jadi mama tidak mau memaksanya untuk berhenti bekerja!'' ungkap Mama Sarah dengan raut wajah tenangnya.