
''Haisshh, apa lagi sih?'' ucap Agam dengan wajah kesalnya.
''Apa kau akan pergi hanya dengan menggunakan handuk seperti itu?'' tanya Raka sambil menunjuk handuk yang masih melilit di pinggangnya, Gavin langsung tertawa terbahak bahak sambil memegangi perutnya yang terasa kram akibat tertawanta yang berlebihan. Agam langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum dan menunduk untuk melihat handuk yang masih setia melingkar di pinggangnya, dia langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya lagi dan segera menutup pintunya.
''Apa itu efek dari rasa senangnya karena bisa terbebas dari si Markonah?'' tanya Gavin yang masih saja terus tertawa,
''Seharusnya, tadi kau biarkan saja dia pergi dengan menggunakan handuk seperti itu!'' lanjut Gavin lagi dan Raka hanya tertawa menanggapinya.
''Ayo, segera kita urus tikus kecil itu!'' ajak Raka sambil menarik ujung hoodie yang sedang di gunakan oleh Gavin.
__ADS_1
Agam yang telah selesai berganti pakaian langsung buru buru mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari dalam kamar, dia melihat ke sekitar tetapi tidak menemukan kedua sepupunya itu, ''Apa mereka sudah pergi?'' tanyanya pada diri sendiri dan langsung pergi menuju garasi mobilnya, dia terus melajukan mobilnya menuju kantornya, setelah sampai di kantor, Agam langsung berjalan menuju Ruang IT yang ada di lantai paling atas,
Karyawan IT yang melihatnya masuk ke dalam ruangan tersebut langsung memberi hormat, mereka berdua saling pandang karena tidak biasanya Direktur utama mereka datang langsung ke ruang IT mereka.
''Ada yang bisa kami bantu, Pak?'' tanya salah seorang karyawan yang bernama Andi.
''Ya, saya ingin melihat rekaman CVTV yang ada di tangga darurat lantai 20 pada tanggal XXX.'' jawab Agam dengan wajah datarnya. Mereka berdua langsung mencarikan rekaman CCTV pada tanggal yang di sebutkan oleh Direkturnya itu.
Agam terus berjalan menuju mobilnya, di perjalanan dia terus terusan memukul stir mobilnya dengan wajah kesal bercampur rasa bersalah, dia sungguh sangat menyesal karena tidak mempercayai isterinya itu, tidak seharusnya dia juga menyalahkan isterinya itu tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Pantas saja isterinya itu kabur darinya, karena dia juga merasa tidak pantas untuk menjadi seorang suami yang mengabaikan isterinya demi wanita lain.
__ADS_1
Agam langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin pergi ke rumah mertuanya lagi untuk menanyakan keberadaan sang isteri, karena dia sangat yakin bahwa mertuanya itu pasti tahu di mana keberadaan isterinya itu, dia juga yakin bahwa mertuanya adalah orang yang sudah menutup akses isterinya itu agar anak buahnya tidak bisa melacak keberadaan isterinya. Dia akui bahwa mertuanya itu memanglah seseorang yang cukup hebat.
Tak berselang lama akhirnya Agam telah tiba di depan pagar rumah sang mertua, dia langsung keluar untuk menemui Satpam yang sedang bertugas di depan gerbang rumah mertuanya itu,
''Eh, ada mas Agam!'' ucap Pak Satpam sambil beranjak berdiri dan segera menghampiri menantu dari majikannya itu.
''Papa ada Pak?'' tanya Agam sambil tersenyum ramah.
''Ada mas, tapi..--'' ucap Pak Satpam merasa tidak enak karena sebenarnya dia di tugaskan untuk tidak memperbolehkan menantu majikannya itu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
''Kenapa? apa saya tidak boleh masuk?'''' tanya Agam sambil menatapnya.
''Anu mas, maaf ya mas Agam, saya hanya menjalankan tugas mas!'' jawab Pak Satpam sambil mengatupkan kedua tangannya dan sungguh merasa tidak enak. Agam hanya mengangguk mengerti dan segera pergi dari rumah mertuanya itu.