
Supir taksi yang membawa Nara pergi langsung menghentikan taksinya, dan memberitahukannya bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan, Nara langsung menghapus air matanya dan melihat ke sekitar, namun tiba tiba hatinya meragu saat melihat pagar tinggi rumah orang tuanya.
''Astaga, kenapa aku malah datang ke mari, aku tidak mau Agam menemuiku disini, mendingan aku pergi ke luar negri saja ke rumah mama Sarah,'' ucap Nara dalam hati yang tiba tiba merasa ragu dengan apa yang akan di lakukannya.
''Jadi turun tidak, nona?'' tanya sang supir sambil menoleh ke belakang, karena dari tadi penumpangnya itu hanya diam sambil melihat ke arah rumah berpagar tinggi itu tanpa berniat untuk turun,
''Kita jalan ke bandara saja pak!'' jawab Nara sambil menoleh ke arah sang supir. taksi tersebut pun akhirnya melaju kembali menuju Bandara, sesampainya di Bandara, Nara langsung membeli tiket dan tak lama kemudian Pesawat jurusan Negeri Kincir Angin itu akan segera berangkat, Nara duduk di dalam pesawat dan memandangi cincin pernikahannya yang melingkar di jari manisnya, kilasan masa lalu saat dia pertama kali bertemu dengan Agam hingga saat seminggu terakhir ini langsung memenuhi isi kepalanya, dia menarik panjang nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan
''Selamat tinggal, Gam! maaf karena aku pergi tanpa izin darimu, aku tidak sanggup jika harus di madu, Gam!'' ucap Nara dengan lirih sambil menyeka air matanya yang terus mengalir dan membasahi cincin pernikahannya yang masih berada di jari manisnya,
Nara langsung memejamkan matanya saat Pesawat mulai lepas landas, mungkin karena lelah dari tadi menangis terus akhirnya dia langsung tertidur di dalam pesawat.
Beberapa jam kemudian, pramugari memberitahukan bahwa mereka akan segera tiba di Bandar Udara Internasional Schiphol, Nara langsung membuka matanya dan membenarkan posisinya, dan benar saja tak berselang lama akhirnya Pesawat mendarat sempurna di Bandara Schiphol, Amsterdam.
Nara langsung turun dari Pesawat, setelah itu terus berjalan ke luar Bandara, namun tak sengaja seorang pria berwajah sangar tiba tiba menabrak tubuhnya, Nara hampir oleng jika dia tidak segera menyeimbangkan tubuhnya, pria itu langsung meminta maaf padanya dan setelah itu langsung pergi terburu buru. Nara melanjutkan lagi langkahnya untuk menuju pintu keluar Bandara, namun tiba tiba perutnya terasa sangat lapar, dia melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah kafe kecil yang berada tidak jauh dari pintu keluar tersebut, dia langsung merogoh dompetnya yang ada di dalam saku belakang celananya, namun ternyata dompetnya tidak ada di sana.
''Astaga, kenapa dompetku tidak ada, perasaan tadi aku meletakkannya di dalam saku belakang,'' ucap Nara pada dirinya sendiri.
Nara menjadi panik saat dia teringat dengan orang yang menabraknya tadi, dia langsung memijat pelan pelipisnya dan berjalan mondar mandir di dekat pintu keluar.
''Apa yang harus aku lakukan, karena kartu identitas dan Black Card nya semua ada di dalam dompet tersebut, dia menjadi tambah panik saat menyadari bahwa alamat Mertuanya yang akan di tujunya ada di dalam ponsel yang tadi di lemparkannya di jalan depan rumah sakit.
''Astaga Nara, kenapa bisa apes seperti ini sih!'' gerutu Nara sambil menghentak hentakkan kakinya dengan sangat kesal.
Seorang pria tampan yang dari tadi terus memperhatikan tingkah anehnya itu, langsung berjalan keluar dari dalam kafe kecil tersebut, dia berjalan menghampiri Nara yang terus mondar mandir di dekat pintu keluar.
''Excuse me, can I help you?'' tanya pria tampan tersebut kepadanya, Nara yang sedang mondar mandir itu langsung menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah pria tersebut.
__ADS_1
''Oh, tidak tidak!'' ucap Nara dengan panik sambil menggelengkan kepalanya,
''Kau bisa berbahasa indonesia?'' tanya pria tersebut sambil melihat penampilan Nara dari atas hingga ke bawah, dan Nara langsung menganggukkan kepalanya.
''Baiklah, kalau begitu apakah ada yang bisa aku bantu? Dan kenapa wajahmu terlihat panik seperti itu?'' tanya nya sekali lagi.
''Oh, aku tidak tahu di mana alamat family yang akan aku datangi, karena alamatnya berada di dalam ponselku yang hilang itu!'' jawab Nara sambil menghela nafasnya.
''Kau baru pertama kali mengunjungi family mu itu?'' tanya nya lagi, dan Nara langsung menganggukkan kepalanya saja.
Pria tersebut langsung menggaruk dahinya yang tidak gatal, dia menatap Nara lagi yang juga menatapnya dengan wajah nelangsa.
''Apa kau mau ku antar ke penginapan?'' tanya pria tersebut yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
''Mau, tapi aku tidak punya uang!'' jawab Nara jujur dan masih dengan wajah nelangsanya.
''What? Apa katamu? Berani sekali kau pergi ke luar negeri tidak membawa uang!'' seru pria tersebut sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum miring.
''Kau yakin? Ini Bandara Internasional, tidak mungkin ada copet di dalam sana,'' tunjuk pria tersebut ke arah dalam Bandara.
''Entahlah, aku juga tidak tahu!'' seru Nara sambil melengos,
Saat pria tersebut ingin mengatakan sesuatu padanya, tiba tiba ponselnya berdering, dan dia langsung menjawabnya sambil melangkah menjauh darinya.
''Hallo..!'' ucap pria tersebut.
''Maaf Tuan, pelayan pribadi Anda hari ini izin tidak bisa menemani Anda, karena tiba tiba dia ada urusan mendadak,'' ucap seseorang dari balik telefonnya.
__ADS_1
''Astaga, kenapa dia selalu izin seperti ini!! baiklah, pecat dia sekarang!! Karena aku tidak membutuhkan pelayan yang terlalu banyak urusan seperti itu!'' perintahnya dan langsung mematikan ponselnya begitu saja, dia langsung memijat pelipisnya yang tiba tiba berdenyut karena tingkah dari pelayan pribadinya itu. Dia langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jas nya kembali, setelah itu melihat ke arah wanita tadi yang sedang duduk sambil mengayun ngayunkan kakinya.
Dia lantas menghampirinya kembali, Nara yang menunduk sambil mengayunkan kakinya langsung mendongak saat menatap sepasang sepatu mewah yang berdiri tepat di hadapannya.
''Ada apa?'' tanya Nara dengan heran, saat dia melihat pria tersebut menatapnya dengan wajah tersenyum.
''Kau bilang tidak punya uang kan?'' tanya nya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, Nara hanya menganggukkan kepalanya saja dan kemudian menunduk lagi
''Bagaimana kalau kau bekerja di rumahku?'' tanya pria tersebut membuat Nara langsung mendongak kembali ke arahnya.
''Dari pada kau luntang lantung tidak jelas seperti ini!! Dan Aku beri tahu padamu, di sini itu sangat berbeda dengan di Indonesia!'' ujar pria tersebut
Nara langsung menatap ke dua kakinya kembali. ''Benar yang di katakannya, tidak mungkin aku seperti ini, luntang lantung di Negara orang!! tapi, niatku datang ke sini kan untuk menenangkan diri bukannya untuk bekerja!'' bathin Nara yang merasa bimbang harus bagaimana.
''Bagaimana?'' tanya nya sekali lagi
''Baiklah, apa boleh buat!'' jawab Nara dengan wajah lemasnya.
''Kalau begitu, ayo sekarang ikut denganku!'' ucap pria tersebut sambil melangkah keluar menuju parkiran Bandara.
Seorang supir langsung membukakan pintu untuk mereka berdua, setelah mereka memakai safety belt nya, sang supir langsung menyalakan mesin mobilnya, mobil pun melaju dan bergabung dengan pengendara lain di jalanan, Nara langsung memandang ke arah luar jendela, matanya langsung di suguhkan dengan pemandangan indah Kota Amsterdam. Sementara pria tersebut langsung membuka laptopnya untuk melihat beberapa email dari klien nya. Setelah selesai mengeceknya, dia langsung menutup laptopnya kembali.
''Siapa namamu?'' tanyanya kepada wanita yang duduk di sebelahnya,
''Naraya,'' jawab Nara sambil mengalihkan pandangannya dari jendela kaca tersebut dan langsung menoleh ke arahnya.
''Aku Abidzar,'' ucapnya memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
''Baiklah Tuan Abidzar, terima kasih karena sudah memberiku pekerjaan!''Walaupun aku tidak menginginkan nya sama sekali!'' lanjut Nara dalam hatinya.
''Hei, Kau tidak perlu memanggilku seformal itu, panggil saja aku Abi, tanpa Tuan!'' ucap Abi sambil tertawa dan membuat Nara juga tertawa melihatnya.