
°•Jonathan•°
Aku menunggu di luar. Entah apa yang dibicarakan Ricardo dan Yena sampai begitu lama. Aku gelisah, aku mondar mandir seperti orang bodoh.
"Hahaha.. baik, terimaksih dokter"
Aku mendengar suara Yena, aku langsung menghampiri mereka.
Ricardo: hai kawan, kamu lama menunggu ya? Maaf, aku betah dengan istrimu. (Menggoda)
(Dalam hati Yena)
Hohoho.. Ricardo ini sengaja ya. Beraninya mengganggu singa tidur. Cari mati!!
Yena: hmm.. terimaksih dokter. Penawaranmu sangat menarik. Aku suka (tersenyum)
Ricardo: senyumnu manis sekali nyonya. Sayang sekali kamu sudah jadi milik temanku. (Menatap Jonathan) jika tidak, pasti aku akan merayumu (tersenyum tampan)
Jonathan: (kesal) sudah kan? Ayo pergi
(Menarik tangann Yena)
Yena: eh.. sampai besok dokter, terimakasih (pergi bersama Jonathan)
Aku dan Yena masuk dalam mobil, aku longgarkan dasiku dan aku buka kancing kemejaku paling atas. Aku kesal! Sangat kesal.
Yena: paman, apa kamu cemburu?
Jona: bicara apa lama sekali?
Yena: banyak sih, kasih tau nggak ya?? (Menggoda)
Jona: (mendekatkan wajahnya pada Yena) lihat saja kalau kamu berani merayu pria lain, aku akan mengurungmu di rumah (marah)
Yena: (mencium kilas bibir Jonathan) coba saja kalau bisa (tersenyum)
Aku menjauhkan wajahku dari Yena. Dia menciumku, Merayuku agar aku tidak marah kah? Hmm.. kamu mulai bermain api Yena.
°•Yena•°
Aduh tanganku sakit, paman jelek ini sangat kasar. Dia sungguh marah? Apa dia akan memukulku? Membuangku? Aku bahkan belum mengambil apa apa darinya.
Paman menariku hingga ke tempat parkiran. Dia membuka pintu mobil, aku masuk ke dalam mobil. Aku melihatnya berjalan kesisi lain mobil. Dia pun masuk ke dalam mobil. Di dalam kami hanya diam. Paman melonggarkan dasinya dan membuka kancing kemejanya. Aduh bisa apa kalau dibuang?
Aku bertanya apa dia menjawab apa. Paman terlihat kesal, wajah tampannya begitu dekat denganku. Wajah tampan dengan tatapan mata yang penuh kemarahan. Paman terlihat menggemaskan. Dia mengancam akan mengurungku? Hmm..
Aku daratkan ciuman ku tepat dibibirnya. Aku menciumnya kilas. Aku pasang senyuman cantikku. Aku melihat wajah paman yang merona. Ha..ha..ha.. sudah tua juga masih malu malu.
__ADS_1
Paman menjauh dariku. Baguslah, aku lelah bila terus di introgasi. Mobil pun melaju. Sepanjang perjalanan aku hanya diam sesekali aku melihat paman yang menyetir. Dilihat dari sudut manapun paman tetap tampan.
Jona: sampai kapan melihatku? Ayo turun
Aku kaget, aku sudah melamun. Bodohnya aku! Bisa bisanya melamun di depannya. Aku turun dari mobil. Melihat gedung besar di depanku.
Jona: sayang, ayolah. Diluar sangat dingin.
Aku berjalan mendekati paman. Paman menggandeng tanganku masuk kedalam gedung. Semua mata melihatku. Apa ada yang aneh?
Yena: apa ada sesuatu di wajahku?
Jona: tidak, jangan hiraukan mereka. Lihat lah jalan di depanmu.
Aku sedikit takut, mata mata orang disini sungguh menakutkan. Aku merangkul lengan paman erat. Dan menempelkan kepalaku. Kami berhenti di sebuah ruangan.
"Selamat pagi Presdir"
Jona: pagi.
Aku mendengar suara wanita, presdir? Paman membawaku masuk dalam ruangan.
Jona: kamu bisa istrirahat diruang buku sayang.
Jona: kantor ku.
Yena: oh, dimana ruang bukunya?
Paman mengantarku, Dia membuka sebuah pintu. Aku melihat buku buku tersusun rapi dan sebuah ranjang kecil.
Jona: istirahatlah, aku akan ada beberapa rapat hari ini. Selesai rapat kita akan pergi belanja ke mall.
Yena: oke (terseyum)
Paman mencium keningku, lalu pergi. Aku duduk di tepi ranjang dan melihat lihat sekeliling. Aku membuka laci lemari yang ada di samping ranjang. Aku melihat album foto. Aku mengeluarkannya dan membukanya.
Aku melihat foto keluarga. Aku kaget saat pintu ruangan terbuka
Jona: sayang..
Yena: (menatap) ya, ada apa?
Paman masuk dan menutup pintu, lalu duduk disampungku.
__ADS_1
Jona: kamu lihat apa?
Yena: ini, ini foto keluargamu?
Jona: ya, itu papa mama dan ke empat kakakku. Dan laki laki tampan itu aku tak perlu mengatakan siapa itu.
Yena: hahaha(tertawa) paman sangat lucu dan menggemaskan. Saudara paman banyak juga. Ini namanya keluarga besar.
Jona: kakak ke dua dan ke empat meninggal karena kecelakaan, sekarang hanya tersisa kakak pertama dan ke tiga.
Yena: siapa nama mereka? Boleh aku tau?
Jona: tentu, aku akan mengenalkan keluargaku. Papaku adalah Johan Lewi, mamaku Mayumi Izuka, kakak pertama ku Jesica, kakak ke dua Jeslyn, ke tiga Jenifer, ke empat Joice, dan ke lima aku Jonathan.
Yena: oh, jadi mama mertua ku orang jepang. Pantas saja paman bisa langsung merayu papaku.
Jona: hahaha(tertawa) ketauan ya, ya sudahlah. Itu sudah lewat. Yang penting kamu sudah menjadi milikku.
Yena: ya benar. (Memasukkan album dalam laci lalu menutup kembali)
Aku berdiri dan melihat buku buku di rak. Paman menarik lenganku dan langsung mencium bibirku. Umh.. Jantungku berdebar kencang. Paman mendorongku ke rak buku. Paman meraba wajahku lembut. Paman melepas ciumannya dan menempelkan dahinya ke dahiku.
Jona: jangan pernah pergi dariku Yena. Apapu yang terjadi, kamu hanyalah milikku.
Paman memelukku erat. Aku heran dengan sikap paman yang aneh. Paman melepaskan pelukannya.
Jona: aku rapat dulu ya, tadi aku kembali karena sesuatu. Jika kamu lapar kamu bisa suruh sekertaris atau pesan makanan sendiri. Ada menu di laci meja kerjaku.
Yena: iya aku mengerti, paman berkerjalah. Aku akan disini (terseyum)
Jona: oke..
Paman pergi dan menutup pintu ruang baca. Aku lemas bersandar pada rak buku. Astaga paman mengejutkanku. Tiba tiba menyerangku seperti seekor singa yang kelaparan. Jantungku masih berdebar.
[Selamat Membaca😘]
__ADS_1