Pelukan Hangat Paman Tampan

Pelukan Hangat Paman Tampan
34. Kegelisahan Hati


__ADS_3

Yena menghubungi Jonathan. Mereka membuat janji bertemu di suatu tampat. Yena lama menunggu.


Seseorang memeluk Yena dari belakang.


Yena: paman, jangan begini. Disini banyak orang. (Malu)


"Aku merindukanmu" (berbisik)


Yena kaget, dan cepat melepas kedua tangan di perutnya. Ini bukan suara Jonathan dan tangan Jonathan. Yena berbalik dan kaget. Derenwin dengan senyum tampannya menngoda Yena.


Yena: kamu lagi? Kamu disini? Di Bali?


Deren: iya, apa kamu kesini untuk menyusulku? Ayolah, jangan malu malu (menggoda)


Yena: jangan asal, aku sedang berlibur. Untuk apa aku menyusulmu?


Deren: oh begitu. Lalu? Untuk apa kamu disini?


Jonathan: menungguku!! (Suara dungin Jonathan dari belakang)


Jonathan mendekat dan menarik Yena dalam pelukan, mata elangnya menatap Deren. Deren membalas tatapan mata Jonathan dengan penuh rasa kesal dan jengkel.


(Dalam hati Deren)


Paman, aku sangat membencimu (mengepalkan ke dua tangan) kamu sangat berkuasa kan? Lihat saja, aku juga akan menjadi ornag berkuasa sepertimu. Aku akan rebut kembali Yena ku.


(Dalam hati Jonathan)


Tidak kembali dan melihat situasi perusahaan malah menggoda bibi sendiri. Deren, aku sudah sangat bersabar padamu! Kamu berani menyentuh Yena juga. Tidak kah kamu sadar posisimu Deren?


(Dalam hati Yena)


Mereka sedang perang batin? Tidak ada suara? Apa Deren sudah pergi? Aku tidak ingin melihatnya. Aku merasa Deren selalu punya niatan Jahat. Aku takut (mengeratkan pelukan,dan membenamkan wajah)


Deren: bibi, kamu membuatku iri. Bibi sungguh merindukan paman ku kah?


Jonathan: cukup, jangan menggoda bibimu lagi Deren.


Deren: aku tidak menggoda, aku hanya bicara.


Ponsel Deren berdering.


Deren: Aku masih ada kepentingan. Aku harus kembangkan bisnisku agar bisa membawa pergi kembali apa yang menjadi milikku. (Pergi dengan mengangkat panggilan)


Jonathan melepas pelukan dan meraba wajah Yena.


Jonathan: sayang, kamu baik? Maaf jika aku datang terlambat.

__ADS_1


Yena: tidak apa apa (tersenyum) paman tidak perlu cemaskan itu.


Jonathan: kita akan kemana? Masih mau jalan jalan?


Yena: kita kembali ke Villa saja.


Jonathan: oke.


Yena dan Jonathan berjalan menuju mobil. Yena kembali bertemu Mashito dan Niken.


Niken: Yena (menyapa, senang)


Yena: kalian masih disini? Belum pergi?


Mashito: kami menyelesaikan beberapa hal dengan polisi. Sekarang akan pergi ke rumah sakit.


Yena: ah, baiklah. Aku juga akan kembali. Sampai bertemu


Niken: Bye Ye.. hati hati.


Yena dan Jonathan masuk ke dalam mobil. Dari dalam mobil Yena melihat Niken dan Mashito juga masuk dalam mobil.


Jonathan menyandarakan punggungnya dan menghela nafas panjang. Pikirannya kacau sekarang.


Ponsel Jonathan berdering. Panggilan dari Brian.


Brian: Tuan kami sudah beli semua saham Luiso yang di jual Alexander. Tapi ada masalah.


Jonathan: katakan.


Brian: saham Liuso menurun tajam, dan harga nya dibawah rata rata. Semua investor menarik saham mereka kembali dari Perusahaan Luiso.


Jonathan: bagaimana Lewi Grub?


Brian: harga saham turun 5%.


Jonathan: lalu apa lagi? Bagaiaman denganya?


Brian: tuan, Alexander menggunakan perusaham Luiso untuk mengancam perusahaan Lewi. Saya takut ini adalah serangan balas dendam.


Jonathan: terus awasi. (Memutus panggilan)


Jonathan merasa kesal. Jonathan memijat lembut pangkal hidungnya.


(Dalam hati Jonathan)


Balas dendam. Mereka memanfaatkan Deren. Menggunakan Daren sebagai umpan utuk mendekati Lewi Grub?

__ADS_1


Max Alexander, sudah tua masih tidak tahu diri. Menanmkan dendam pada anak anaknya. ALexander tak akan aku biarkan kamu menghancurkan keluarga Lewi.


Yena terus menatap Jonathan. Yena merasa ada sesuatu yang aneh, tapi tidak masih merasa ragu untuk bertanya.


~~


°•Yena•°


Kami sampai di Villa, kami turun dari mobil dan masuk dalam Villa. Aku melihat paman berjalan cepat kekamar. Aku masih mengambil air minum di dapur.


Selesai minum aku berjalan menuju kamar. Dikamar aku melihat paman berbaring di ranjang. Aku mendekati dan ikut berbaring. Aku berbaring berlawanan dengan paman.


Yena: paman, ada apa? Kenapa gelisah?? (Berbisik lembut)


Jonathan: (mencium kilas pipi Yena) kamu tahu kegelisahanku? Kamu sungguh istri yang peka. (Tersenyum)


Yena: katakan paman, berbagilah denganku.


Jonathan: menurutmu, apa aku terlalu jahat pada papaku?


Yena: hmmm.. wajar saja jika paman marah, paman kehilangan 2 kakak. Tapi, apapun yang terjadi paman tidak boleh benci pada keluarga. Baik buruk nya mereka, mereka adalah keluarga.


Jonathan: aku tak pernah membenci papaku Yena, aku hanya kesal dan ingin menjauh darinya. Semakin aku menjauh, ancaman itu semakin dekat.


Yena: ancaman apa?


Jonathan: acaman berbaya dari masa lalu. Semacam serangan balas dendam.


Yena: paman, jangan terlalu dipikirkan. Pasti ada jalan keluar dari setiap masalah. Oke? (Mencium kilas pipi Jona berulang ulang)


Jonathan: Nyonya Lewi, kamu berani menggodaku?


Aku bangun dan mengubah posisiku, aku bersandar di bantal.


Yena: aku tidak menggoda. Jangan mesum!


Jonathan: (mendekat) sungguh? Hmm.. mata nakalmu berkata lain padaku.


Yena: (tersenyum cantik) paman jelek, aku membencimu.


Paman mencium bibir ku lembut. Aku merangkul leher paman, dan membalas ciuman paman. Perlahan tapi pasti, paman menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


Paman, jangan biarkan kegelisahan berkeliaran dalam hatimu. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu bersamamu dan mendukungmu. Paman.. aku mencintaimu❤


(Dalam hati Jonathan)


Kamu selalu bisa membuatku tenang Yena. Aku tidak akan biarkan kamu atau keluraga ku dalam masalah. Aku akan melindungi kalian semua. Apa pun yang terjadi tetaplah bersamaku. Dukunglah aku sepenuhnya. Aku mencintaimu Yena, sangat mencintaimu❤

__ADS_1


[Selamat Membaca😘]


__ADS_2