
°•Yena•°
Hari yang tidak aku inginkan akhirnya datang. Aku menikah dengan paman. Kami sudah mengadakan pemberkatan dan mendaftarkan pernikahan kami.
Paman langsung membawa ku ke Inggris, dia bahkan tidak menunggu besok atau lusa. Sekarang aku adalah istrinya. Aku harus menurut dan patuh pada paman.
Perjalan panjang dan melelahkan aku lalui. Akhirnya aku sampai di Inggris. Sepanjang perjalanan aku tidak banyak bicara. Hanya menjawab beberapa hal saja yang paman tanyakan.
Mobil berhenti, penjaga membuka pintu mobil untukku dan paman. Aku keluar dari dalam mobil. Mataku langsung terpesona oleh keindahan mansion paman.
Jona: Ayo cepat masuk, diluar sangat dingin (merangkul pinggang)
Aku berjalan bersama paman masuk dalam mansion. Para pelayan menyambut. Tak heran paman selalu menyombongkan diri. Ternyata memang dia seorang yang dihormati.
Jona: siapakan makan untuk kami. Jangan masak makanan pedas. (Memerintah)
"Baik tuan"
Paman membawaku ke sebuah kamar. Paman membuka pintu kamar dan membawa ku masuk ke dalam. Kamarnya harum dan sangat rapi.
Jona: inilah kamar kita. Kamu istirahat dulu, aku ada sedikit pekerjaan. (Mencium kilas kening Yena)
Aku hanya mengangguk. Aku melihat paman berjalan ke sebuah ruangan. Membuka pintu dan masuk kedalamnya. Aku duduk di sofa dan menatap luar kamar. Pemandangan yang indah. Aku membuka pintu dan keluar ke teras. Aku melihat pemandangan. Sungguh indah, pemandangan ini menyejukan hati.
Aku merasakan sesuatu. Paman menyelimuti ku dan memelukku dari belakang. Entah sudah berapa lama aku hanyut menikmati pemandangan dan memikirkan Erwin.
Jona: sudah aku bilang, di luar dingin. (Suara lembut)
Yena: paman?
Jona: hmm..
__ADS_1
Yena: kenapa paman ingin menikahiku? Bukankah kesepakatan kita, aku hanya akan membayar dengan uang saat kembali ke Jepang?
Jona: kamu menyesal menikah denganku? Ingin kembali pada nya? (Tenang)
Yena: bukan itu maksudku, aku hanya takut jika paman akan menyiksa dan membuangku suatu saat nanti.
(Dalam hati Jona)
Gadis bodoh! Tidak peka sama sekali. Dia berfikir aku hanya main main dengannya? Baiklah, aku akan membuatmu benar benar jatuh dalam pelukanku dan mencintaiku Yena. (Tersenyum)
Jona: kamu berfikir terlalu jauh sayang. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Membuangmu. Mendapatkanmu saja sungguh sangat sulit, bagaimana bisa aku melepasmu? (Mengeratkan pelukan)
Aku terdiam, aku tak bicara apapun.
Paman membalikan badanku kedua tangannya memegang wajahku lembut. Aku menatap kedua mata paman, paman mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. Aku menutup mataku, aku tak bisa menolak. Paman sekarang adalah suamiku.
Aku merasa tubuhku panas. Darahku mendidih. Paman sungguh lihai. Aku merasakan ciumannya begitu dalam. Aku membuka mataku dan melepas ciuman paman. Paman memelukku erat.
Yena: ya paman, aku tau.
Jona: gadis pintar (mencium kilas kening Yena) ayo kita makan (melepas pelukan dan menggandeng tangan Yena)
Paman menggandeng tanganku berjalan ke meja makan. Menarik kursi untukku, dan membantuku duduk. Paman duduk di sampingku.
Jona: makanlah, aku sudah menyuruh pelayan memasak makanan kesukaanmu.
Paman bahkan menyiapakan makanan kesukaanku? Aku tak bisa menebak jalan pikiran paman ini, kadang membuatku nyaman kadang membuatku ketakutan.
Paman mengambil udang yang sudah dikuliti dan menyuapnya padaku. Aku kaget dan merasa canggung.
Jona: buka mulutmu, (tersenyum)
__ADS_1
Yena: tidak perlu seperti ini, aku bisa makan sendiri. (Merasa aneh)
Jona: aku akan menyuapimu. Ayo buka mulutmu. Atau kamu mau aku menyuapimu dengan cara spesial? (Menggoda)
Aku langsung membuka mulutku dan memakannya. Menyuapai dengan cara spesial? Apa paman ini sudah tidak waras? Bagaimana bisa didepan banyak pelayan paman berkata seperti ini, sungguh memalukan.
Paman menatap pelayan seakan memberi isyarat. Semua pelayan menunduk dan pergi. Paman mendekatkan kursinya. Sekarang paman begitu dekat denganku. Paman memakan udang dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku menatapnya. Dia ingin aku makan udang ini kah??
Aku memakan udang yang ada dimulut paman. Mataku terbelalak, Paman melumat bibirku saat aku memakan udangnya. Aku tak bisa menolaknya. Ini memalukan tapi aku menyukaianya. Paman melepas lumatannya dan tersenyum.
Jona: kamu sangat menyukai ciumanku? Aku akan memberikannya setiap saat untumu. (mengedipkan satu mata)
Yena: jangan asal, aku tidak menyukai ciumanmu. Jangan terlalu percaya diri
Aku makan dengan lahap, aku benar benar malu sebenarnya. Aduuhh.. Yena, ayoo dong sadar!! Dia bukan Erwin, tapi Jonathan. Bukannya kamu akan membuatnya membencimu?? Kenapa malah sepeti ini? Aku meracau sendiri dalam hati.
Jona: ayolah sayang, wajahmu sudah seperti warna udang didepanmu. Kamu masih mau mengelak? (Menggoda)
Yena: sudah, jangan menggodaku. Makanlah makannanmu. (Kesal)
Aku tak berani menatap paman, aku sungguh sangat malu. Paman ini sungguh membuatku gila.
[Selamat Membaca😘]
__ADS_1