
°•Yena•°
Tangisku tak terbendung. Aku menangis di ruangan kerjaku. Aku memikirkan kata kata Erwin. Hatiku sakit saat Erwin mengatakan itu. Kenapa? Kata kata itu sepertu jarum yang menusuk.
Dulu aku sangat menyukai kata kata itu. Setiap saat Erwin selalu mengatakannya. Karena senangnya aku sampai merekam kata katanya di ponselku.
Bahkan saat Erwin menciumku, aku sudah tidak merasakan apa apa. Benarkah aku sudah membuang Erwin jauh jauh dalam hatiku? Benarkah aku sudah tidak mencintainya? Atau aku memang tidak mencintainya selama ini? Lalu apa yang aku lakukan selama setaun ini, jika bukan cinta?
Aku memang tidak pernah cemburu pada Erwin, mau dekat dengan siapapun aku tidak pernah melarang. Aku juga tidak pernah marah jika dia lupa menghubungiku atau mengabaikanku sesaat.
Aku selalu senang dekat Erwin, melihatnya tersenyum, mendengarnya bernyanyi dengan bermain gitar. Banyak hal yang kita lalui bersama, kenapa harus berakhir seperti ini? Berakhir saat kita ke Roma.
Aku mendaratkan dahiku di meja kerjaku. Aku bingung, pikiranku kacau balau. Kepalaku pusing.
Ponselku berdering, aku melihat layar ponselku "Suami"
Yena: suami? Sejak kapan suami? aku ingat menyimpan nama paman.
(Menganggkat panggilan) Hallo..
Jona: kamu sedang apa?
Yena: mengerjakan laporan (sibuk menyeka air mata)
Jona: suaramu? Kamu menangis? Siapa yang membuatmu menangis?
Yena: tidak ada, hanya aku sedikit flu.
Jona: dokter bisa sakit juga?
Yena: dokter juga manusia.
Jona: keluarlah, aku didepan pintu ruanganmu.
Yena: apa (kaget,langsung mematikan panggilan)
__ADS_1
Aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Aku membuka pintu, paman masuk dan menutup pintu. Aku berbalik, paman memelukku erat dari belakang.
Jona: Thankyou Yena. (Berbisik lembut)
Aku kaget, tidak mengerti maksud paman. Aku melepaskan tangan paman yang melingkar di perutku. Aku berbalik dan menatap tajam pada paman.
Yena: terimakasih untuk apa?
Paman langsung mencium bibirku lembut, mataku melebar. Paman ini selalu seperti ini. Aku tak pernah bisa menolaknya. Paman melepas ciuamnya.
Jona: kamu lulus ujian pertama. (Tersenyum)
Yena: ujian apa? Paman bicara yang jelas.
Jona: kamu lulus sebagai istri yang setia. kamu tadi memeriksa Daren kan, kalian bicara dan.. (tangan Yena membungkam mulut Jonathan)
Yena: (menggeleng) jangan teruskan. Maaf paman (melepas bungkaman dan memeluk Jonathan)
(Mengeratkan pelukan)
(Dalam hati Yena)
Paman, pelukanmu selalu membuat hatiku tenang. Aku selalu ingin memelukmu seperti ini paman. Aku selalu takut kamu marah dan menjauh.
Yena: (memendamkan kepala dalam pelukan) ayo kita pulang paman, aku sedikit lelah.
Jona: (melepas pelukan, lalu menyeka air mata Yena) ambilah tasmu, aku menunggu di luar pintu.
Aku mengangguk dan berjalan perlahan ke mejaku mengambil ponsel dan tasku. Aku keluar dan melihat paman di depan pintu. Kami berjalan keluar dari rumah sakit menuju parkiran.
Aku dan paman masuk dalam mobil, paman memegang erat tanganku, dan mencium kilas punggung tanganku.
Jona: ayo kita berlibur.
__ADS_1
Yena: paman mengajakku? Kemana?
Jona: Kamu ingin kemana?
Yena: aku ingin pulang ke Bali. Ayo kita kesana, jika paman mau.
Jona: baiklah, jika kamu ingin ke Bali, ayo kita ke Bali.
Yena: sungguh?
Jona: apa aku pernah berbohong?
Yena: terimakasih paman.
Jona: sama sama sayang (tersenyum tampan)
Yena: paman yang terbaik (merangkul lengan dan menempelkan kepala ke bahu Jonathan)
Perasaanku saat dekat dengan Erwin, dan saat dekat dengan paman sungguh berbeda. Satu tahun yang aku lewati dengan Erwin memang menyenangkan tapi tidak ada sesuatu yang spesial.
Sedang dengan paman, aku merasa selalu kesal. Namun aku merasa nyaman dan hangat. Aku takut paman akan membuangku. Menjauhiku, aku bahkan ketakutan saat paman marah denganku. Semua ini membuat hatiku ragu.
[Selamat Membaca😘]
__ADS_1