Pelukan Hangat Paman Tampan

Pelukan Hangat Paman Tampan
57.Pengganggu!!


__ADS_3

Yena sudah dipindah ke ruang rawat. Perawat membawa baby Hans menemui ibunya. Senyum Yena mengembang saat melihat putranya.


"Pagi nyonya"


Yena: pagi (tersenyum)


"Saya membawa Baby Hans kesini untuk minum asi"


Yena: oke saya mengerti. Anda bisa meninggalkan kami.


" baik, saya sudah menyiapkan box baby disamping ranjang anda, jika anda butuh bantuan bisa tekan bel"


Yena: iya, terimakasih.


Perawat pergi meninggalkan Yena dan baby Hans. Yena menggendong baby Hans dan mulai memberi asi.


°•Yenako•°


Hmmm.. putraku sangat tampan. Kenapa kamu begitu mirip dengan papimu sayang. Membuat mami iri. Mami mencintaimu. Apa kamu sangat lapar? Minumlah perlahan.


Aku mengusap lembut kepala Hans, anakku jadilah pria tangguh seperti papi ya. Penuh kasih dan hangat. Mami yakin kamu akan menjadi kebanggaan keluarga.


Aku mendengar pintu ruang kamar terbuka, seseorang masuk.


Yena: sayang itu kamu, kamu sudah mau kekantor?


"Hallo bi, ini aku"


Aku kaget, Derenwin Luiso! Untuk apa datang kesini? Aku langsung mengubah posisiku membelakanginya. Aku tak ingin dia melihatku seperti ini.


Yenako: berhenti disitu. Jangan mendekat.


Derenwin: baik, aku akan duduk di sofa.


Yenako: ya lebih baik menjauh.


Derenwin: kamu baik baik saja?


Yenako: Kamu? Dimana sopan santunmu?


Derenwin: hmm.. kamu lebih muda dariku Yena. Hanya ada kita ber dua. Memanggil kamu atau nama tidak masalah kan?

__ADS_1


Dasar gila! Sabar Yena, sekarang Hans sedang minum asi. Sabar sabar. Atur nafas mu, aku mengambil nafas panjang. Dan menghembuskan perlahan.


Yenako: ada apa datang?


Derenwin: ingin melihatmu.


Yenako: jangan bicara sampah! Katakan tujuanmu. Dan cepat pergi.


Derenwin: hei, kamu mengusirku? Tega sekali. Apa salahnya aku merindukan mantan pacarku. Kamu terlihat semakin cantik Maruko. Semakin sexy. (Menggoda)


Yenako: sudah cukup bicaranya? Pergilah.


Hans sudah tertidur aku melepas asi dan mengancing bajuku. Aku meletakan Hans di Box dan mendekati Derenwin. Aku berdiri di belakang sofa. Derenwin menatapku dengan senyum sinis.


Yenako: sampai kapan kamu menggangguku? Apa perlu aku bicara pada pamanmu dan orangtuamu?


Derenwin berdiri dan menghampiriku. Aku mundur dia semakin mendekat. Aku sudah menempel di dindinng. Derenwin mencengkram daguku.


Derenwin: dengar baik baik sayang. Selamanya aku tidak akan rela melepasmu. Kamu hanya milikku.


Aku menepis tangannya dan mendorongnya jauh, aku berjalan menjauh ingin memanggil bantuan. Derenwin memelukku erat dari belakang.


Derenwin: hmm.. kamu memanggil namaku sekarang, dimana panggilan sayangmu padaku?


Yenako: lepas, aku sedang tidak sehat. Jangan mengangguku. (Berontak)


Derenwin: jawab dulu pertanyaanku.


Yenako: tidak perlu ada tanya jawab. Lepas atau aku akan teriak.


Derenwin: Hei, ada Anakmu sedang tidur. Apa kamu ingin dia menangis?


Yenako: apa yang ingin kamu tanyakan?


Derenwin: kenapa kamu meninggalkanku dan menikah dengan pamanku?


Yenako: berapa kali aku jawab. Aku mencintai pamanmu.


Derenwin: itu baru terjadi setelah kamu menikah dengannya. Sebelumnya? Kamu hanya mencintaiku kan?


Yenako: saat aku diculik aku tidak tau apa yang terjadi, saat bangun aku dan pamanmu sudah tidur satu ranjang. Apa kamu puas?

__ADS_1


Derenwin: kamu melakukannya? (Melepas pelukan)


Yenako: tidak, tapi pamanmu sudah melihat semua mulikku. Karena saat aku bangun, aku tidak pakai apapun. Itulah alasan pamanmu ingin menikahiku. Dia merasa bersalah padaku. Saat itu pamanmu tidak tau aku kekasihmu. Aku juga tidak tau dia pamanmu. Orang orang yang membawaku pergi malam itu salah kamar. Seharusnya kamar 109 yang ada di sebebrang kamarku. Apa ini salahku? Apa ini juga salah pamanmu? Tidak ada yang salah disini.


Derenwin: saat paman tau kamu kekasihku, kenapa dia tidak mau mengalah.


Yenako: cukup Derenwin! Mari kita akhiri ini. Pamanmu merasa bersalah padamu dan padaku. Bagaimana pikiran orang jika tau seorang pemuda menikah dengan wanita yang tidur seranjang dengan pamannya? Apa keluargamu tidak akan malu? Itulah yang ada dalam pikiran pamanmu. Jika aku tetap bersamamu, pamanmu akan merasa bersalah padamu. Dia lebih memilih kamu membencinya. Mengertilah Derenwin! Awalnya aku juga tidak mengerti jalan pikiran pamanmu. Semakin aku mengenalnya semakin aku tau. Aku mohon berhenti menggangguku.


Derenwin terlihat marah. Dia mengepalkan dua tangannya. Pintu terbuka.


"Sayang, pesanamu sudah aku bawakan"


Jonathan datang, dia melihatku dengan Derenwin. Jonathan tersenyum dan menyapa keponakannya.


Jonathan: kamu datang melihat sepupumu?


Derenwin: (tersenyum canggung) iya paman, aku sudah selesai, aku akan pulang. Bibi terimakasih atas nasihatmu! Aku pergi dulu. Paman aku pulang.


Jonathan: ya,, hati hati dijalan. (Menatap Yena)


Derenwin keluar dari ruanganku, aku sangat lega. Sudah lama tidak bicara panjang lebar. Sungguh menyebalkan!


Jonathan: ada apa?


Yenako: tidak ada, hanya masalah kecil.


Jonathan: apa kalian sedang reuni?


Yenako: apa kamu mendengarnya?


Jonathan: tentu. Aku dengar semua yang kalian bicarakan! Kamu sungguh tangguh, aku semakin mencintaimu.


Yenako: kamu tidak marah?


Jonathan: marah? Untuk apa? Kamu sudah menjadi istriku dan ibu dari anakku. Aku tidak akan marah hanya karena pertengkaran kalian sepasang mantan! Aku tahu kamu hanya mencintaiku, mencintai Jonathan Lewi.


Yenako: aku mencintaimu sayangku.


Aku memeluk erat Jonathan, kamu benar, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku melepas pelukan, Jonathan merangkul pinggangku dan mencium bibirku lembut. Ciuman ini, aku tidak akan pernah bosan. Aku justru selalu merindukannya setiap waktu. Baby Hans tiba tiba menangis. Jonathan melepas ciuman dan menatapku. Jonathan tersenyum, aku juga tersenyum. Jonathan merangkulku, kami berjalan bersama mendekati baby Hans.


[Selamat Membaca😘]

__ADS_1


__ADS_2