Pelukan Hangat Paman Tampan

Pelukan Hangat Paman Tampan
11.Menyukai Ciuman Paman


__ADS_3

°•Yena•°


2 Minggu sudah aku menjadi istri paman. Tidak buruk. Paman selalu baik dan perhatian. Bahkan rela menjadi supir mengantar dan menjemputku di rumah sakit.



Aku berjalan keluar dari rumah sakit. Dari kejauhan melihat mobil paman. Aku langsung dalam mobil.



Yena: paman, mau ajak aku kemana?



Jona: ke mall.



Yena: Mall lagi? Minggu lalu kita sudah ke mall. Mau belanja lagi?



Jona: minggu lalu kita beli kebutuhan rumah dan kebutuhanmu. Hari ini kita akan mencari gaun untukmu dan setelan jas untukku.



Yena: ada acara?



Jona: ya, orang tua ku mengadakan pesta penyambutan untukmu.



Yena: kenapa baru bilang? (Kesal)



Jona: aku juga baru tahu, 10 menit yang lalu. Jangan kesal padaku.



Aku terdiam, pesta keluarga. Erwin akan hadir kah? Erwin bilang Jonathan pamannya. Jadi Erwin anak dari.... (lamunan Yena terhenti)



Jona: Yena..



Yena: eh iya,(kaget) ada apa?



Jona: kita sudah sampai, ayo turun. Kamu kenapa?



Yena: nggak papa kok. Ayo..



Aku dan paman turun dari mobil. Aku berjalan merangkul lengan paman. Tiba tiba dalam pikiranku, terpenuhi wajah Erwin. Aku menggelengkan kepala ku. Mengusir itu semua.



Jona: ada apa? Wajahmu pucat.



Yena: aku baik paman, tidak perlu cemas. (Tersenyum cantik)



"Selamat datang Tuan dan Nyonya Lewi"



Sambutan pelayan toko ramah pada kami. Ternyata paman sudah memesan beberapa baju untuk kami coba. Kami sudah diruang ganti. Aku mengeratkan tanganku merangkul paman.



Jona: ah.. iya aku lupa, kita langsung pulang saja. Bungkus semua gaunnya.



Yena: tidak jadi coba?



Jona: kamu takut kan? Kita akan coba di rumah saja.



Aku kaget, paman mengerti ketakutanku sebelum aku bicara. Aku memeluk paman erat. Paman menyambut pelukanku dengan hangat.



Jona: kamu mau makan ice cream? (Berbisik)

__ADS_1



Yena: (melepas pelukan) mau.. (tersenyum)



Paman menggandeng tanganku keluar ruang ganti.



"Tuan, yang mana pilihan anda?"



Jona: bungkus semua yang aku pesan. Dan kirim ke mansion ku. (Memberikan kartu)



"Baik tuan"



Pelayan itu menerima kartu dan melakukan proses pembayaran.



"Tuan silahkan (mengembalikan kartu) terimakasih"



Paman menerima kartu dengan tersenyum. Aku kesal, bisa bisanya tersenyum pada wanita lain. Paman menggandengku keluar toko.



"Selamat jalan tuan"




♡♡♤♡♡


GERAI ICE CREAM



°•Jonathan•°


Sikapnya aneh setelah keluar dari toko. Ini salah itu salah. Aku jadi pusing.



Jona: pesan ice apa?




Jona: hei, ada apa? Bicaralah.



Yena: tidak ada apa apa. Hanya kesal.



Jona: kesal? Kepadaku?



Yena: iya, memang nya harus kesal kepada siapa lagi? Begitu mudah mengobral senyum (bicara jujur secara tidak sadar)



Jona: oohhh.. kamu cemburu pada pelayan toko? Hahaha (tertawa)



Yena: (kaget) cemburu? Untuk apa cemburu. (Pura pura)



Sudah ketahuan masih tidak mau mengaku. Mau sampai kapan pura pura terus? Baguslah, sepertinya Yena sudah mulai luluh padaku. Aku akan terus berusaha mendapatkan hatimu Yena.



Jona: sudah, lupakan itu. Aku hanya bersikap ramah, apa itu salah? Aku berjanji tidak akan senyum kepada sembarang orang lagi. Hanya akan tersenyum padamu.



Yena: sungguh?? (Senang)



Jona: sungguh. Apa kamu senang sekarang?



Yena mengangguk.

__ADS_1



(Dalam hati Yena)


Tentu saja, aku senang. Senyum paman begitu mempesona, jika tersenyum sembarangan akan membius wanita lain.



Pesanan Jona datang. Jona menyendok ice dan menyuap pada Yena. Yena melahap ice disendok dan tersenyum. Yena mengambil ice dan menyuap pada Jonathan.



Jona: kamu suka? Mau pesan ice rasa lain?



Yena: tidak, Ini saja. Aku sedang diet.



Aku melihat sisa ice menempel di sudut bibir Yena. Aku dengan cepat pindah tempat duduk di samping Yena.



Yena: ada apa? (Bingung)



Yena menatapku bingung. Perlahan aku mendekati wajahnya dan mencium bibirnya, aku menyapu sisa ice disudut bibir Yena dengan bibirku. Rasanya manis. Aku menyukainya.



Yena: (mendorong Jonathan) paman, jangan buat aku malu (melihat kiri kanan)



Jona: kenapa malu? Aku kan suamimu. Memang salah suami mencium istrinya sendiri?



Aku melihat wajah Yena yang merona. Sungguh Yena ini unik. Jika dia marah aku semakin menyukainya. Dia menggemaskan.



(Dalam hati Yena)


Dasar paman genit! Mencuri kesempatan dalam kesempitan. Aneh, kenapa aku tidak pernah marah ya, saat paman mencium bibirku? Aku malah senang jika paman menciumku. Aku jadi ketagihan. Haishhh.. paman ini membuat ku gila.



Jona: apa kamu siap bertemu orang tuaku? kakakku? Dan..



Yena: dan apa?



Jona: keponakan ku



Yena: aku selalu siap. (Tersenyum)



Jona: ubahlah panggilanmu padaku Yena. Jika orang tuaku mendengar mereka akan menertawakanku.



Yena: aku harus panggil apa, honey? Baby? Aku lwbih suka memanggilmu paman.



Jona: terserah mau panggil apa, jangan panggil paman. Kamu istriku, bukan keponakanku. Oke?



Yena: oke aku akan ingat. (Terseyum)



Aku akan sangat malu jika Yena melupakan hal ini saat di pesta. Paman? Dulu aku biasa mendengar kata paman dari Deren dan Cherish. Sekarang istriku sendiri juga memanggil paman. Ya, sejak awal memang Yena memanggilku paman. Dan sejak itu juga aku mulai menyukainya.









__ADS_1



[Selamat Membaca😘]


__ADS_2