
BALI
°•Yena•°
Aku dan paman sudah sampai di Bandara. Kami telah tiba di pulau Bali. Kami dijemput oleh sopir dan kami langsung menuju villa yang sudah dipesan.
Paman merangkul ku, menyandarkan kepala ku di dadanya.
Jona: tidurlah, nanti aku bangunkan.
Yena: hmm..
Aku menutup mataku perlahan, aku memang lelah. Aku buka mataku kembali.
Aku angkat kepalaku dan meraba tasku. Ponsel ku bergetar.
Panggilan masuk dari papa.
Yena: Hallo pa?
Yushiku: bulan depan papa ada kepentingan di paris, kamu datang ya? Kita jalan jalan bersama.
Yena: oke pa.. i love you
Yushiku: hmmm.. love you too sayang. Papa masih banyak pekerjaan nanti kita lanjutkan lagi.
Yena: baik pa, papa dan mama jaga kesehatan oke?
Yushiku: baik tuan putri. (Memutus panggilan)
Aku masukan ponselku ke dalam tas. Aku sandarkan kembali kepalaku ke bahu paman.
Jona: ada masalah apa?
Yena: bulan depan papa ke paris.
Jona: ayo kita temui bersama
Yena: (mengangkat kepala) paman, kamu sungguh pengertian (tersenyum)
Jona: sayang, aku mencintaimu (mencium punggung tangan Yena kilas)
Yena: aku juga mencintaimu paman.
Paman menatapku, senyum tampanya muncul. Membuat hatiku kacau! Jantungku berdebar cepat. Ooh paman aku tidak mampu melihat senyumu lagi.
Aku memalingkan wajah dan melihat ke arah luar. Paman merebahkan kepalanya di bahuku. Aku tersenyum dan menyentuh lembut wajahnya. Paman menahan tanganku dengan tangannya agar tetap ada di wajahnya.
__ADS_1
Jona: jangan pernah tinggalkan aku Yena. Apapun yang terjadi nantinya. Kamu berjanjilah padaku.
Yena: tentu, aku akan selalu ada disampingmu paman. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Jangan cemaskan itu.
Jona: terimakasih Yena, aku senang dengan jawabanmu.
Bagaimna bisa pergi paman. Aku sudah terperangkap dalam cintamu. Aku akan bertahan, apapun kesulitan yang akan kita hadapi kedepannya. Ayo kita hadapi bersama.
Mobil pun berhenti. Kami sudah sampai, aku perlahan membangunkan paman.
Yena: paman, ayo bangun. Kita sudah sampai.
Paman mengangkat kepalanya. Terlihat sangat lelah. Matanya meemerah.
Yena: ayo, paman bisa langsung istirahat.
Jona: hmm.. aku sangat lelah. Maafkan aku Yena. Kamu pasti kesulitan tadi.
Aku dan paman turun dari mobil, kami perlahan masuk dalam Villa. Pelayan Villa menyambut mami.
"Hallo Tuan dan Nyonya, selamat datang"
Yena: terimakasih Mbok. Mohon bantuannya selama kami tinggal disini.
"Baik Nyonya"
~~
°•Jonathan•°
Aku keluar dari kamar mandi, Yena berlajan masuk dalam kamar mandi. Yena sudah menyiapkan baju tidurku. Aku segera berganti. Aku duduk di ranjang,bersandar bantal. Aku melihat ponselku.
Yena keluar dari kamar mandi, dan ganti pakaian. Tak lama dia naik ke ranjang dan tidur di pangkuanku. Yena juga sibuk dengan ponselnya.
Aku letakkan ponselku di meja. Dan mengambil ponsel di tangan Yena. Aku meletakan ponsel Yena dekat dengan Ponselku. Yena menatapku terlihat kesal. Aku mencium kilas keningnya.
Jona: jangan terlalu sering melihat ponsel, melihatku saja (mengedipkan satu mata)
Yena: paman.. jangan menggoda lagi. (Kesal)
Aku membelai rambut Yena. Yena bermain main dengan rambutnya.
Jona: tidurlah, sudah malam.
Yena: aku belum mengantuk. Paman boleh aku bertanya?
Jona: boleh, apa yang ingin kamu tahu?
__ADS_1
Yena: berapa usia paman?
Jona: berapa ya? Menurutmu? Tebak saja, jika benar aku akan berikan apapaun yang kamu mau.
Yena: ayolah paman, aku tak inginkan apapun. Aku hanya ingin tau usia paman.
Jona: kenapa kamu begitu ingin tahu? Apa aku terlihat tua?
Yena: aku penasaran saja, paman tidak tua, hanya terlihat dewasa dari.. (terputus)
Jona: dari.. Derenwin? (Menyambung kata kata Yena)
Yena: bukan itu maksduku paman. Paman selalu salah paham.
Jona: usiaku 39 tahun.
Yena: hmmm.. paman tidak terlalu tua.
Jona: aku tidak katakan jika aku tua. Kamu lah yang dari awal memanggilku paman.
Yena: Bagaimna ya.. hanya panggilan itu yang terlintas di kepalaku. (Tersenyum)
Yena duduk disampingku. Memegang erat tanganku.
Yena: kenapa paman menyukaiku? Dan kapan? Jika saat itu wanita yang dikirim benar, apakah paman akan menikahinya juga??
Jona: aku sebelumnya tidak pernah dekat dan berhubungan dengan wanita Yena. Kamulah wanita pertamaku. Aku tidak tertarik pada wanita itu, aku hanya iba. Peter bercerita jika memasang tarif mahal pada wanita itu karena ayahnya sedang sakit keras. Aku berniat menolongnya. Maka dari itu aku membelinya dari Peter, aku tidak menyewa. Agar wanita itu bebas. Aku ingin membawanya pada Ricardo. Aku kasian, wanita itu rela menjual diri hanya demi uang, terlebih lagi untuk pengobatan.
Yena: lalu, saat itu kenapa paman membuka semua bajuku?
Jona: hahaha (tertawa) maaf Yena, aku sedang mabuk. Kamu tiba tiba sudah ada di atas ranjang, saat aku masuk ke dalam kamar. Apa kamu marah?
Yena: (menggeleng) paman orang yang baik, lalu wanita itu bagaimana?
Jona: aku sudah kirim orang mengurusnya. Sepertinya ayahnya sekarang baik baik saja. Sudah jangan bahas lagi, ayo tidur.
Yena: aku belum mengantuk. Paman belum menjawabku. Kapan paman mulai menyukaiku?
Jona: saat aku mendengarmu menangis Yena. Aku merasa dadaku sesak mendengarmu menangis. Maka dari itu aku langsung memintamu menikah denganku.
Yena: tentu saja menangis, bagaimana tidak. Aku tidak mengenal paman dan tidak pakai apapun. Aku kacau saat itu.
Jona: masih ada hal lain yang ingin kamu tanyakan?
Yena: tidak paman, (tersenyum)
Aku melihat senyum cantiknya lagi. Jatungku berdebar, aku perlahan mendekatkan wajahku pada Yena. Aku mencium bibirnya lembut. Yena tak menolak. Yena mencengkram lenganku. Aku menyusuri setiap sudut bibir Yena. Bibirnya lembut dan kenyal, Hmmm.. aku sungguh gemas. Yena, i love you❤
__ADS_1
[Selamat Membaca😘]