Pelukan Hangat Paman Tampan

Pelukan Hangat Paman Tampan
44.Kejutan Dari Yenako


__ADS_3

°•Yena•°


Pagi ini selesai sarapan, kak Jesi pamit untuk kembali ke Jakarta. Kerena mendengar informasi dari Brian jika Luiso sudah berdiri kembali.


Dan penjahat yang membuat Jonathan celaka sudah tertangkap. Entah berita ini benar atau tidak. Aku juga tidak tahu.


Aku mengatar kak Jesi samapi di halaman. Kak Jesi memelukku erat.


Jesica: aku sungguh sungguh minta maaf Yena. Aku tidak mendidik anakku dengan baik.


Yena: kakak, bukan salah kakak. Maaf, aku hanya terlampau kesal pada Deren. Maaf jika kakak sebagai ibu tersinggung.


Jesica: tidak Yena, sesekali memang pantas di beri pelajaran. Dari kecil Darwin selalu memanjakan, belum lagi oma dan opanya.


Yena: iya, kakak hati hati ya


Jesica: jaga dirimu dan keponakanku ya.. bye..


Yena: Bye..


Kak Jesi naik dalam mobil dan langsung pergi. Aku kembali masuk dalam rumah. Bibi Marry membantuku.


Marry: nyonya, tolong hati hati.


Yena: tidak apa apa bibi. Oh iya, bi aku akan kerumah sakit. Aku harus periksa kandunganku.


Marry: saya akan antar.


Yena: tidak tidak, aku bisa naik taxi. Aku akan baik baik saja, jangan khawatir.


Marry: tapi pesan tuan?


Yena: abaikan pesan nya, dia tidak dirumah. Beristirahatlah bi, tubuhmu juga perku istrirahat. Aku akan ke kamar mengambil tasku.


Marry: baik nyonya.


Aku berjalan perlahan ke kamar, aku meraih tasku dan keluar dari kamar. Aku berjalan perlahan keluar dari ruamah.


Aku berbohong jika naik taxi. Itu akan merepotkan. Aku membawa mobil ku sendiri. Aku masuk ke dalam mobil dan melesat pergi ke rumah sakit.


Sepanjang jalan aku berfikir, separah apa lukanya. Aku berencana memeriksa detail keadaanya sesampainya di rumah sakit.

__ADS_1


Tak lama aku sampai, aku hentikan mobilku diparkiran. Aku menyetir lumayan cepat tadi. Aku mengusap perutku. Sayang, maafkan mami. Mami harus cepat sampai. Sayang ayo kita menemui papi.


Aku turun dari mobil dan masuk kedalam lobby rumah sakit. Perawat perawat yang mengenalku menyapa ramah.


"Hallo Dr. Kimoro"


"Hallo Dr. Kimoro"


"Dr. Kimoro apa kabar?"


Aku berhenti dan tersenyum menyapa, Yena: hallo semua apa kabar?


" wah.. anda seperti biasannya sangat ceria"


Yena: apa Dr. Haivy ada?


"Sedang keluar negri"


Yena: oh, apa Dr. Quiin sudah kembali dari Belanda?


"Beliau memang dipindah tugaskan disana, bukankah anda yang menggatikan posisinya?"


"Saya dengar anda sedang ada urusan dan minta cuti beberapa bulan"


Aku berjalan perlahan, sial!! Paman jelek itu membohongiku. Dia bilang Dr yang aku gantikan telah kembali. Hmmm.. awas saja, akan aku balas.


Aku berjalan ke ruanganku. Aku buka pintu dan masuk ke dalam. Aku menutup pintu perlahan. Ruanganku tidak berubah. Tetap bersih dan rapi. Di meja ku juga masih ada papan namaku.


Aku teringat akan misiku. Aku letakkan tasku di kursi. Aku buka lemari ku dan mengeluarkan jubah kebesaranku, hehehe.. Jonathan Lewi, kali ini kamu tidak bisa menghindariku. Aku pakai jubahku, aku mengambil ponsel dan stetoskop ku. Aku keluar ruangan dan berjalan menuju lorong VIP. Aku menyapa perawat yang berjaga di area VIP.


Yena: hallo...


"Hallo dokter, selamat pagi"


Aku mengembangkan senyumanku. Aku berjalan perlahan melewati kamar kamar VIP. Aku mencari kamar nomor 10. Dari jauh aku melihat penjaga. Aku berjalan perlahan mendekat.


Yena: hallo.. selamat pagi


"Pagi dokter"


Yena: Karena Dr. Haivy sedang keluar negri. Saya menggantikan tugasnya sementara untuk memeriksa pasien didalam, ijinkan saya masuk.

__ADS_1


"Silahkan"


Aku masuk kedalam saat pintu di buka oleh penjaga. yeah!! Aku berhasil masuk ke dalam. Aku berjalan perlahan. Aku melihat Jonathan dari jauh.


Jonathan: bagaimana Brian, sudah kau kerjakan?


Aku melihat paman jelek sedang asik membaca buku dengan bersandar.


Yena: ehemm!!...


Jonathan menutup buku dan memalingkan wajah, dia terkejut melihatku.


Jonathan: Yena..


Yena: ya aku, Yena. Tidak senang melihatku?


Jonathan: kenapa kamu bisa masuk?


Yena: aku dokter disini, bebas masuk kemana saja tuan Lewi.


Jonathan: kamu sungguh cerdik Yena. Kamu mengejutkanku.


Yena: memang aku sengaja mengejutkanmu. Kamu berencana menghindariku? Huh!! Jangan harap!!


Aku perlahan mendekati Jonathan. Aku berdiri di samping ranjangnya memeriksa infus.


Yena: ada satu kejutan lagi untukmu.


Jonathan: apa? Jangan buat aku penasaran.


Aku memegang tangan Jonathan dan menempelkan di perutku.


Yena: Aku mengandung anakmu paman! Kamu harus bertanggung jawab! Jangan menghindar.


Jonathan: kamu mengandung? (Yersenyum)


Yena: ya.. kita akan punya bayi.


Jonatham meraba lembut perutku, aku melihatnya menangis. Ntah apa yang dia pikirkan. Aku duduk di tepi ranjang, aku menyeka air mata Jonathan. Aku memeluknya. Aku menangis, aku tidak bisa menahan lagi. Aku sangat merindukanmu paman.


Aku merindukanmu..

__ADS_1


[Selamat Membaca😘]


__ADS_2