Pelukan Hangat Paman Tampan

Pelukan Hangat Paman Tampan
23.Hampir Saja


__ADS_3

°•Jonathan•°


Yena, kamu sungguh sangat menggangguku. Jangan salahkan aku ya.


Aku perlahan mendekati Yena, aku merangkul pinggangnya. Aku menatapnya. Yena terlihat gugup. Wajahnya merona.


Jona: aku akan berikan reward pelukan gratis untukmu. Dengan satu syarat.


Yena: apa? Paman, aku tidak ingin berdagang denganmu. Paman suamiku, peluk saja ada syaratnya (kesal)


Jona: ya sudah, (melepas tangan dari pinggang Yena) tidak ada peluk untuk besok, besok, dan besok.


Aku naik ke atas ranjang dan berbaring. Aku melihat Yena masih terlihat kesal. Aku penasaran apa yang dia bicarakan dengan Deren tadi.


(Dalam hati Yena)


Uuh.. paman ini, peluk saja ada syaratnya. Dasar paman mesum. Ayolah Yena, paman juga suamimu. Nakal sedikit tidak akan membuatmu rugi.


Aku melihat Yena msnghampiriku. Aku kaget, Yena langsung menindihku. Astaga apa lagi ini.

__ADS_1


Jona: Yena, kamu mau apa?


Yena: Menggoda paman. (Tersenyum jahat)


Yena meraba wajahku lembut. Wajah Yena mendekat padaku. Yena mencium lembut tiap inci wajahku. Aku merasa geli dan aneh. Yena ini mau apa sebenarnya? Aku tetap diam menuruti Yena.


Yena mencium bibirku lembut, tanganya berkeliaran membuka kancing piamaku. Aku akan kehilangan akal jika begini. Aku memegang wajah Yena dan membalas ciuman Yena. Aku mengganti posisi menindih Yena. Tangan Yena menanggalkan piamaku. Yena menyusuri dadaku dan punggungku.


(Dalam hati Yena)


Eh, kenapa jadi buka piama? Aduh Yena, tangan mu sangat nakal. Aku masih belum siap jika paman melakukannya. Bagaimana ini? Paman, jangan jahat padaku. Aku akan patuh padamu.


Aku melepas ciumanku dan menciumi leher Yena. Nafas Yena tak beraturan. Aku menciumi bahu Yena yang mulus. Kulitnya dangat halus. Inilah pertama kalinya aku merasakannya. Ciumanku turun kedadanya. Lagi lagi tanganku tak terkendali. Aku meremas dada Yena. Yena mencengkaram kuat bahuku. Aku meninggalkan beberapa bekas ciumanku di dada dan perut Yena.


Aku langsung sadar. Mataku Melebar, tak seharusnya aku seperti ini. Aku tidak boleh lepas kendali. Meski Yena tidak menolakku. Aku tidak bisa memaksanya melakukannya denganku. Aku tak ingin membuatnya kecewa. Dengan cepat aku bangun dan mengancing kembali piama Yena.


Yena: paman, kenapa?


Jona: tidak, aku akan cuci mukaku dulu.

__ADS_1


(Dalam Hati Yena)


Paman tidak melakukanya? Apa ini mimpi? Paman bisa menahannya? Paman, kamu bisa mengendalikan dirimu dengan baik. (Tersenyum)


Aku keluar dari kamar mandi, aku meraih atasan piamaku dan memakainya. Tanpa mengancingnya aku langsung naik ke ranjang dan masuk ke dalam selimut. Yena terus menatapku. Aku tersenyum, aku merangkul Yena masuk dalam pelukanku.


Jona: tidurlah, aku akan selalu memelukmu saat tidur. Kamu begitu menyukai pelukanku?


Yena: ya paman, aku sangat suka. Pelukan paman hangat dan memnbuatku nyaman (bicara tanpa sadar)


Jona: baiklah, jika kamu menyukainya. Aku akan beri pelayanan mumuaskan seumur hidup untukmu.


Yena: paman?


Jona: hmm...


Yena: Terimaksih (memendamkan wajah kedalam pelukan Jona)


Aku tersenyum, aku senang. Yena perlahan merubah sikapnya. Beberapa sikapnya kadang tidak terkendali. Tapi aku suka.

__ADS_1


[Selamat Menikmati😘]


__ADS_2