
Mansion
Johan dan Mayumi sedang berbincang. Mereka duduk bersama di ruang keluarga.
Johan: apa Jona akan datang?
Mayumi: menurutmu? Tentu akan datang.
Johan: sampai kapan dia akan kabur dari tanggung jawab. Bukannya mengurus perusahaan Lewi, justru mendirikan usahannya sendiri. Membuat ku kesal saja. (Mengomel)
Mayumi: tuan Lewi yang terhormat, seharusnya kamu bangga pada putramu. Tanpa bantuanmu bisa mendirikan perusahaan nya sendiri. Kenapa harus marah?
Johan: kamu selalu membela anakmu.
Mayumi: ayolah, Jonathan juga anakmu. Kamu tak mengakuinya? Bahakan orang asing pun tau kalian ayah dan anak.
Johan: aku akan selalu kalah berdebat denganmu.
Mayumi: hahaha(tertawa) ayolah, dulu kamu merayu ayahku sedemikian rupa? Kamu bahkan rela berlutut 2 hari di depan kamar ayahku. Jika kamu mengenal ayahku seperti apa, tentu kamu mengenalku dengan baik.
Johan: tentu aku mengenalmu dengan baik sayang. (Tersenyum) bagaimana keadaan Derenwin?
Mayumi: sudah lebih baik, nanti akan ikut turun untuk makan malam.
Johan: bagus, setelah sekian lama kita bisa berkumpul bersama.
Mayumi: (melihat pelayan mendekat) sepertinya mereka datang.
"Nyonya, nona Jeni datang"
Johan: Jonathan?
__ADS_1
"Tuan muda belum terlihat"
Mayumi: sudah, dia pasti akan datang. Ayo temui anak kita dulu.
Johan dan Mayumi pergi menemui Jeni dan keluarganya.
Cherish: nenek, kakek (menyapa)
Mayumi: hallo sayang.
Jeni: dimana kakak?
Johan: mungkin merawat Deren, kamu temuilah dia di kamar Deren.
Jeni: baik pa, (berjalan masuk dalam, menuju kamar Deren)
~~
°•Jonathan•°
Aku berbisik lembut pada Yena.
Jona: ingat, hapus nama paman.
Yena: baik sayang, aku akan mengingatnya. (Mengedipkan satu mata)
Semua menyambut Yena dan aku, papa mama begitu senang. Aku menyapa keluarga besar dengan senyuman. Aku menarik kursi dan duduk. Aku duduk berdampingan dengan Yena.
Cherish: bibi cantik sekali (kagum)
Yena: teriamaksih sayang, kamu juga sangat cantik. (Tersenyum cantik)
__ADS_1
Jeni: sayang jaga sikapmu di meja makan.
Cherish: baik mama, maaf.
Aku tidak melihat kak Jesi dan kak Darwin, apa mereka sudah pulang ke Indonesia?? bukankah kak Jesi bilang akan kembali ke Indonesia akhir bulan?
Jona: kakak Jesi dimana?
Jeni: masih ada kesibukan. Sebentar lagi juga akan turun.
Aku melihat kak Jesi dan kak Darwin turun. Tiba tiba aku mendengar sesuatu. Aku melihat Deren duduk dekat piano dan bermain gitar. Deren mulai bernyanyi.
Mata Deren menatap ke arah Yena. Aku sangat kesal, kenapa Deren selalu membuatku kesal.
Yena menatapnya sekilas ke arah Deren lalu menatapku, tangannya memegang erat tanganku di bawah meja.
(Dalam hati Yena)
Paman,aku tidak akan menghiraukannya. Tenang lah. Jangan kesal.
Kamu menenangkan aku kah? Kamu tau jika aku kesal? Seketika senyumku mengembang. Yena pun memberikan senyum cantiknya padaku. Hatiku kini merasa tenang.
Lagu pun berakhir. Semua memuji bakat Deren. Senyum tampannya muncul dengan perlahan mendekati meja makan. Deren duduk tepat di hadapan Yena. Matanya lengket seperti lem menatap Yena. Aku mengeratkan gengamanku, membuat Yena kaget dan menatapku. Aku tidak ingat tanganku memegang tangan Yena.
Aku berbisik di telinga Yena.
Jona: maaf sayang.
Yena berbisik di telingaku.
Yena: jangan cemburu, aku hanya milikmu.
__ADS_1
Aku tersenyum mendengar kata kata Yena. Mataku menatap tajam arah Deren, mata kami saling menatap. Aku melihat mata Deren penuh kebencian padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum tampanku.
[Selamat Membaca😘]