Pelukan Hangat Paman Tampan

Pelukan Hangat Paman Tampan
62.Salah Paham


__ADS_3

MANSION KELUARGA LEWI


Selesai makan siang,


Johan, Mayumi, Jesica, Derenwin, dan Felicia duduk santai di ruang keluarga. Mereka sedang berbincang. Felicia menceritakan sekolah dan pekerjaannya di luar negri.


Johan: berapa saudaramu sayang?


Felicia: 3 kakek. Aku anak bungsu. 2 kakakku laki laki. (tersenyum)


Mayuni: pasti kakak kakakmu memanjakanmu. (Tersenyum)


Felicia: tidak semua nek, hanya 1 kakakku yang peduli. Yang 1 lagi hanya peduli pada kekuasaan dan uang. Seperti kakekku. (Sedih)


Johan: oh sayang, jangan sedih. Disini masih ada kakek dan nenek bukan. Anggaplah kami keluargamu.


Felicia: terimakasih kakek, nenek.


Jesica: kamu sudah punya pasangan? Kekasih atau teman dekat?


Felicia: (menggeleng) belum bibi, bagaimana bisa memikirkan pria, aku sibuk bekerja dirumah sakit. Kadang juga sibuk di laboratorium.


Jesica: wah kebetulan anak bibi juga sendirian, bagaimana jika kalian berteman?


Derenwin: mama.. jangan aneh aneh. Aku dan Felicia baru kenal.


Felicia: hahaha.. (tertawa kecil) bibi bisa saja.


Ponsel Felicia berdering. Felicia berdiri dan menjauh untuk menerima panggilan. Jesica mendekati Deren, dan berbisik.


Jesica: kerja bagus anakku. Dia wanita cantik dan baik. Mama suka, Tidak rugi wajahmu babak belur.


Derenwin: mama jangan asal, nanti dia dengar.


Jesica: cobalah buka hatimu untuk wanita lain. Biarkan mantan kekasihmu bahagia dengan suaminya


Derenwin: mama..


Felicia kembali,


Felicia: kakek, nenek, bibi maaf sepertinya aku harus pergi. Kakakku ingin bertemu denganku. Kami sudah buat janji untuk bertemu. Terimakasih makan sianganya nenek.


Mayumi: sering seringlah datang cantik.


Felicia: tentu nenek.


Jesica: jika ada waktu bisa main di rumah bibi di Indonesia.


Felicia: iya bibi, saya permisi.


Johan: hati hati sayang.


Felicia: iya kakek, sampai jumpa.


Felicia pergi meningglkan ruang keluarga. Derenwin mengantar kepergian Felicia. Didepan pintu Felicia berhenti dan berbalik.


Felicia: aku pergi dulu ya, bye..


Derenwin : (menahan tangan Felicia) tunggu fel..


Felicia: ada apa?

__ADS_1


Derenwin: boleh aku pergi dengamu? Aku bosan dirumah. Aku tidak akan menggangu. Aku akan pergi setelah mengantarmu.


Felicia: hmmm.. baiklah, ayo pergi.


Derenwin dan Felicia berjalan menuju mobil. Mereka masuk dalam mobil bersamaan.


Derenwin: kemana aku harus mengantarmu?


Felicia: pusat kota A.


Derenwin: oke.


Mobil berjalan meninggalkan mansion. Dalam perjalanan, mereka terdiam.


Derenwin: jangan dengar apa kata mamaku. Dia memang cerewet.


Felicia: tidak apa apa. Kita bisa berteman. Aku juga tidak punya teman disini.


Derenwin: baiklah teman. Berikan nomor teleponmu. Agar aku bisa menghubungimu.


Felicia: mana ponselmu?


Derenwin: ini (memberikan ponsel)


Felicia menerima dan menyalakan ponsel, melihat wajah tampan Hans tepajang menjadi Wallpaper layar ponsel Deren.


Felicia: lucunya, ini siapa?


Derenwin: sepupuku. Anak pamanku.


Felicia: lucu sekali. (Tersenyum)


Felicia: sudah aku simpan ya. Ini (mengembalikan ponsel)


Derenwin: baiklah, terimakasih (menerima ponsel dan menyimpannya)


Mobil sampai pada tujuan. Derenwin memarkir mobilnya.


Felicia: turunlah, masuk bersamaku, aku akan kenalkan pada kakakku. Dia orang yang baik.


Derenwin: tapi wajahku jelek, kamu tidak lihat?


Felicia: tidak, kamu tetap tampan! ayo..


Felicia dan Derenwin turun dari mobil dan masuk dalam cafe. Felicia melihat kiri kanan.


"Sayang disini"


Felicia memalingkan wajah dan tersenyum. Deren sedikit menunduk karena malu. Felicia menghampiri kakaknya. Mereka berpelukan.


Felicia: kakak, aku merindukanmu.


"Aku juga, siapa dia?"


Felicia: dia temanku. Namanya Deren. Deren ini kakakku Gidion.


(Deren dan Gidion saling berjabat tangan)


Felicia: mana kakak Mauren?


Gidion: tidak bisa ikut. Ada acara sendiri.(Menatap Derenwin) wajahmu kenapa? Apa adikku yang melakukannya?

__ADS_1


Derenwin: tidak, aku baik baik saja.


Gidion: kamu apakan adik iparku? (Menatap Felicia)


Felicia: apa? Adik ipar? (Kaget)


Gidion: iya adik ipar. Kalian sangat cocok kenapa tidak menikah saja? Menikah lalu kencan. Sepertiku dan istriku.


Felicia: kakak, jangan bicara omong kosong. Aku dan Deren hanya teman.


Gidion: Teman tapi mesra, ya kan?


Derenwin: tidak seperti itu, sepertinya ada salah paham.


Gidion: aku mendukung kalian untuk menikah. Tidak untuk pacaran.


Felicia: kakak, jangan begitu pada temanku. Kami hanya teman.


Gidion: kenapa? Memang aku salah bicara? Apa kalian takut ketauan olehku karena berbuat yang aneh aneh?


Felicia: kakak, aku dan Deren baru kenal tadi.


Gidion: sungguh? Baru kenal tadi? Lalu kenapa kamu bawa pulang kerumahmu?


Felicia: kakak tau? (Kaget)


Gidion: kamu pikir? Kakak ada dibelakang sofa ruang tamu mendengar kalian bicara.


Felicia: kakak tadi di rumahku? Kakak menguping?


Gidion: aduh, bagaimana ya.. aku tidak bermaksud menguping kalian, tapi tidak ada waktu berpindah tempat saat kalian datang. Terpaksa sembunyi dibelakang sofa ruang tamu.


Derenwin: Felicia hanya mengobatiku, itu saja.


Gidion: jangan mengelak. Kalian saling bertatapan, berpegangan tangan. Lalu kalian pindah ke dapur duduk berdua dan tertawa bersama. Sampai akhirnya kalian pergi. Baru aku bisa pergi. Kalian ini, aku sudah lihat semuanya. Cepat kalian menikah! Jangan sampai hal tadi terulang.


Felicia: kakak sabar ya, aku dan Deren tidak ada apa apa. Sungguh kak.


Derenwin: maaf, tapi aku sungguh tidak ada hubungan apa apa dengan Felicia, dia hanya membantuku dan merawat lukaku, itu saja.


Gidion: (menyodorkan ponselnya) beri aku nomor telepon mamamu.


Derenwin: (kaget) apa?? Tapi.. (Gidion menatap Derenwin dengan tatapan tajam) iyaa..


Derenwin mengetik nomor mamanya di ponsel Gidion. Gidion mengambil ponselnya dan melihat nomornya yang diketik oleh Derenwin.


Gidion: siapa nama mamamu?


Derenwin: Jesica.


Gidion: oke, aku akan bicarakan ini pada papaku. Adik ipar, kamu jangan berani berani menghindar atau kabur ya. Kamu harus bertanggung jawab.


Felicia: kakak.. (kesal)


Derenwin: aku sungguh.. (kata kata terputus)


Gidion: ssstttt.. kalian diam dan menurut saja. Jika tidak aku akan menikahkan kalian sekarang juga. Apa kalian ingin menikah sekarang?? (Serius)


Derenwin dan Felicia saling menatap. Mereka tidak bisa membantah kata kata Gidion, semua yang Gidion katakan memang benar. Tapi Gidion sudah salah mengartikan apa yang dia lihat. Sehingga kesalah pahaman terjadi.


[Selamat Membaca😘]

__ADS_1


__ADS_2