Pelukan Hangat Paman Tampan

Pelukan Hangat Paman Tampan
14.Merayu Paman


__ADS_3

°•Yena•°


Sepanjang perjalanan hingga sampai di mansion paman diam tidak bicara apa apa. Mungkin dia kesal, siapa yang tidak kesal. Apa untungnya menjawab pertanyaan konyol seperti itu.



Aku turun dari mobil, paman meninggalkanku dan berjalan dahulu masuk ke mansion. Aku merasa sedih. Seperti ada sesuatu yang kurang.



Aku berjalan dibelakangnya. Paman masuk kedalm kamar, aku pun mengikuti paman masuk dalam kamar. Paman mengganti bajunya dan ke kamar mandi. Aku melepas pakaianku dan menggantinya dengan gaun tidur.



Aku melihat paman, dari kamar mandi langsung naik ke atas ranjang dan menarik selimut menutupi kepala. Paman ini seperti anak kecil saja tingkahnya. Aku mengehela nafas panjang dan masuk dalam kamar mandi.




°•Jonathan•°


Aku sengaja meninggalkan Yena. Memilih saja masih butuh waktu. Aku kesal. Aku tidak tega sebenarnya. Tapi aku ingin tau bagaiamana reaksi Yena jika aku tidak perhatian padanya.



Aku keluar dari kamar mandi dan naik ke atas ranjang, aku berbaring, menarik selimut menutup kepalaku. Sekilas aku melihat wajah Yena yang cemas. Sangat lucu dan menggemaskan aku menutup mulutku dengan tangan menahan tawa.



Yena ruapanya sudah mau tidur. Aku diam dan tidak bergerak. Aku menunggu lama, tak ada hal yang terjadi? Padahal aku berharap dia merayuku sampai aku memaafkannya. Aku sungguh kecewa. Aku menutup mataku melupakan angan anganku.



Sesuatu menyentuhku, tangan Yena memelukku erat dari belakang.


Yena: maaf paman. Jangan marah padaku.


__ADS_1


Aku membuka mataku, aku masih diam.


Yena: aku akan memilihmu. Memilih suamamiku. Karena hanya suamiku yang selalu ada untukku.



Aku mengembangkan senyumku, merasa puas. Akhirnya Yena membuka suaranya.


Yena: paman, masih marah?



(Dalam hati Yena)


Paman masih marah padaku, aku harus bagaimana? Apa aku harus merayunya? Tapi dia yang salah, bertanya hal tidak berguna. Jika tidak merayu pasti akan terus marah, jika aku disiksa atau dibuang bagaimana? Ayolah Yena.. mengalah saja! Anggap paman jelek didepanmu ini adalah anak anak usia 5 tahun.



Yena perlahan mendekat dan mencium lembut pipiku, aku membalikan badanku. Aku ingin tau apa yang bisa Yena lakukan. Yena mencium keningku, kedua mataku, hidungku, daguku, dan bibirku. Saat mencium bibirku aku menahan wajahnya erat. Aku membuka mataku perlahan.



Yena: paman, masih marah? maafkan aku.. (Nada lembut)



Jona: mana bisa aku marah padamu.



Yena melepas pulukanya dan menatapku. Senyum cantinya mengembang. Yena menindihku dan mencium bibirku lembut. Yena melepas ciuman dan menciumku lagi, dia melakukan berulang ulang, lalu memelukku. Hatiku terasa diaduk aduk.



Jonathan tahan, kamu tidak boleh menyerah, tahan tahan dan tahan. Yena hanya merayumu, ini bukan ungkapan cinta.



Aku tidak tahu bagaiama perasaanmu padaku Yena, yang aku tahu kamu merasa takut jika aku menjaga jarak denganmu. Aku pun merasa sedih menjauhimu.

__ADS_1



Yena: biarkan aku tidur memelukmu paman. Aku menyukai pelukanmu. Pelukanmu membuatku nyaman.



Jona: tidurlah, aku akan menjagamu.



Yena, seberapa besar rasa sukamu padaku? Kau menyukaiku atau hanya sekedar kagum? Aku tak peduli, apapun itu kamu adalah Yena ku. Milik ku. Aku akan pernah melepasmu.



Aku akan melindungimu, menjagamu selamanya. Maaf jika aku egois, aku hanya ingin selalu bersamamu.



Aku megusap lembut kepala Yena, aku melihat Yena tertidur. Aku pindahkan posisinya, aku dekap Yena dalam pelukanku. Aku mencium keningnya kilas dan tertidur bersamanya.











[Selamat Membaca😘]

__ADS_1



__ADS_2