Pelukan Hangat Paman Tampan

Pelukan Hangat Paman Tampan
17.Paman Sempurna


__ADS_3

°•Jonathan•°


Aku menggendong Yena ke kamar. Perlahan aku membaringan tubuhnya ke atas ranjang. Aku buka sepatunya. Aku mengamati Yena yang sesang tidur. Mataku fokus pada kemeja yang dia pakai.


Kancing nya terlepas membuat dada putih Yena terlihat jelas. Pikiran kotorku mulai berdatangan. Sekilas ingin mengintip, tapi ada keraguan dalam hatiku. Tapi apa salahnya, aku suaminya. Tapi nanti akan ada masalah jika aku mengintip diam diam. Meski sudah melihat beberapa kali, aku masih penasaran seberapa besar saat aku pagang.


Hahaha.. pasti Yena akan berteriak " dasar paman mesum" namanya juga pria normal, lihat celah dikit aja bawaanaya pengen buka. Aku cepat menggelengkan kepalaku. Aku menarik selimut menutupi tubuh Yena. Aku melepas sepatu dan kaus kakiku. Aku berdiri mengambil kimono handuk di lemari dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.


°•Yena•°


Aku buka mataku perlahan. Aku bangun dari tidurku. Aku melihat kamarku sepi. Badanku terasa lengket. Aku lebih baik mandi. Aku berdiri dan mengambil komono handukku. Langkahku membawa ku masuk dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi aku tanggalkan semua bajuku. Aku berbalik dan terkejut. Aku melihat paman sedang berendam dan menatap ke arahku.


Aku cepat masuk dalam ruang mandi dan menutup pintu. Aku menyalakan Shower.


(Dalam hati Yena)


Cerobohnya aku, harusnya periksa dulu ada paman atau enggak. Kalau gini kan aku jadi malu sendiri. Yena, kamu sungguh gadis payah!


°•Jonathan•°


Aku berendam untuk menenangkan pikiranku. Aku menutup mataku.


Aku kaget saat pintu kamar mandi terbuka, Aku membuka mataku cepat.


Aku melihat Yena masuk membawa kimono handuknya. Aku ingin bicara tapi mulutku seperti terkunci saat melihat kemolekan tubuh Yena. Kulitnya yang putih bersih dan pinggangnya yang ramping, astaga ini membuat ku ingin mati. Aku begitu bersusah payah menahan. Godaan justru datang mengahampiriku.


Yena berbalik dan terkejut. Aku pun terkejut. Mataku seperti mau keluar. Baru kali ini aku dengan jelas melihat tubuh Yena. Dari belakang dan dari depan. Yena tak bicara apa apa dan langsung masuk ruang mandi. Aku melihar pintu tertutup. Aku hanya bisa melihat nya dari balik kaca. Melihatnya membasuk tubuhnya.


Ayolah Jonathan, tahan, jangan sampai nafsumu menguasaimu. Ayo kamu pasti bisa. Aku berulang ulang mengatur nafasku. Aku menunggu Yena keluar, dia tidak ada gerakan. Bagaiaman ini? Aku sudah sangat kedinginan.

__ADS_1


Aku alkhirnya berdiri dan berjalan keruang mandi, aku membuka pintu kaca perlahan dan menyelinap masuk.


Yena: paman, paman sedang apa disini?


Jona: tentu saja untuk mandi, aku butuh sabun dan shampo.


Yena: paman diam disitu, jangan bergerak. Aku akan selesaikan mandiku dulu.


Jona: kamu ingin kau mati kedonginan? Aku sudah berendam cukup lama dan kamu tidak selesaikan mandimu dengan cepat.


Aku mengambil shampo, aku menggosok kepalaku seluruhnya. Aku berjalan mendekati Shower aku meraba kran Shower. Posisiku semakin dekat dengan Yena. Berulang kali kami saling bersentuhan.


Yena mematikan Kran Shower dan menggok tubuhnya dengan sabun. Tanganku secara langsung menggosok punggung Yena. Kulit yang mulus dan Halus. Yena tak bersuara.


Yena: paman berbaliklah, aku akan gosok punggung paman.


Aku menurut dan berbalik. Yena perlahan menggosok punggungku dengan sabun. Astaga sentuhan ini, aku justru merasakan sensasi lain. Seperti Yena sedang menggerayangiku.


(Dalam hati Yena)


Jona: bilas badanmu cepat, dan kekuarlah.


Yena: iya (menyalakan kran shower dan cepat cepat menyelesaiakan mandinya)


Yena selesai mandi langsung keluar dari ruang mandi. Aku membilas seluruh tubuhku. Aku lama berada di bawah Shower. Aku meraba dan mematikan kran shower. Aku keluar dan meraih handukku. Aku mengeringakn tubuhku dan memakai kimono handuk. Aku keluar dari kamar mandi.



Jonathan berganti pakaian. Dia tidak melihat Yena di dalam kamar. Jonathan keluar dari kamar dan turun ke bawah. Jonathan melihat Yena memasak. Jonathan menghampiri Yena.


__ADS_1


Jonathan mengambil alih pekerjaan Yena.


Yena: paman, berikan padaku.



Jona: kamu duduk saja. Aku yang kerjakan.



Yena: paman, apa paman tidak lelah?


Sudah bekerja dan sekarang memasak?



Jona: kamu sendiri? Kenapa tidak suruh pelayan?



Yena: aku ingin memasak untuk paman. \(memeluk Jonathan dari belakang\)



Jonathan tersenyum, Jonathan memegang erat tangan Yena. Jonthan mematikan pematik kompor dan membalikan badannya.



Jonathan mencium mesra bibir Yena. Yena merangkul leher Jonathan dan membalas ciuman Jonathan. Yena memberikan ciuman lembut pada Jonathan. Mata mereka saling beradu.


__ADS_1


\[Selamat Membaca😘\]


__ADS_2