Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 10


__ADS_3

Hati Prameswangi lega melihat kedatangan Adipati Yetno, dia memeluk erat tubuhnya. Air mata menetes dalam benak ingin sekali merebut kembali tahta ayahandanya. Semuanya telah habis, tangisnya semakin mengalir dengar membasahi baju zirah yang bersimbah darah.


"Kita kalah Kakanda! Hiks! Ayahanda, ibunda telah pergi selamanya, hiks”


“Bersabarlah wahai dinda, ayo kita mengungsi ke tempat yang lebih aman.”


“Adipati, saya sarankan agar kita meminta bantuan kepada raja Alas Dayan” kata panglima perang.


“Saya takut kehadiran kita tidak di terima. Hubungan mereka sangat jauh, almarhum juga sering mengolok-olok saudaranya sendiri.”


“Tidak mungkin sang raja tidak menerima keponakannya sendiri, Adipati juga tidak pernah mencari masalah dengan beliau.”


Sang Adipati memutuskan membawa istri dan sisa pengikut Kartanegara pindah ke wilayah Ronggojagad.


......................


“Bagaimana Sadewa, Apakah engkau sudah siap menguasai elemen selanjutnya?” tanya Sahwana.


Melihat Sadewa berhasil menjalani pertapaan di bawah air terjun. Pusara air membentuk gulungan tinggi, ledakan di dalam air, Elemen selanjutnya mengendalikan angin, jurus


peringan tubuh fokus membungkus tiupan angin dari segala penjuru. Dalam hitungan tujuh hari tujuh malam saja Sadewa bisa menguasai dengan sempurna. Tiba jurus api, langkah pertama Sadewa harus bisa berjalan di atas bara api. Berpikir setelah tujuh hari berlanjut dia dengan mudah bisa melewati ujian itu. Baru saja menginjakkan satu tumpukan bara, dia sudah kepanasan. Telapak kaki melempuh, Sadewa kesakitan terbang menceburkan diri ke dalam air.


Di dalam pengendalian api, ada dua jenis api yang harus di kuasai. Api biru, api yang panasnya tidak terkalahkan bahkan hawa anginnya saja membakar habis sekitarnya. Api merah masih bisa menimbang rasa panas tanpa keabadian.


“Panas! Akkhhh!”


Dia tidak bisa menginjakkan kaki ke atas tanah. Sahwana mengangkatnya terbang untuk bertapa di atas batu raksasa di dalam gua. “Pusatkan pikiran mu, abaikan rasa sakit itu” pesan Sahwana yang duduk di belakangnya.


Dia mentransfer kekuatannya ke dalam tubuh Sahdewa. Seribu butiran cahaya ghaib dari dalam tubuh Sahwana berpindah ke tubuh Sahdewa. Mimpinya tadi malam membuat dia tidak tenang, merasa sebagai pertanda kematiannya semakin dekat. Sahwana melanjutkan sampai dia kehilangan tenaga dalam dan setengah kekuatan sihir miliknya.


Sementara di kediaman Gupta di kepung pasukan Sarang laba. Mereka mendobrak paksa pintu utama masuk. Si mbok Rongya bersembunyi di salah satu kamar sambil menarik Yuri.

__ADS_1


“Jangan keluar non” ucap si mbok.


“Aku mau menyihir para manusia itu mbok. Mereka mengambil semua ramuan sihir dan senjata milik ayah”


“Nyonya jangan kebawa emosi dulu. Lihat, di salah satu rombongan itu ada para pilar istana pasukan Sarang laba yang tidak lain yaitu Panglima, manusia tengkorak dan nyi merah.”


“Cepat! Ambil semuanya. Jangan sampai ada yang tersisa!” perintah sang panglima.


Laporan dari salah satu abdi dalem bahwa seluruh senjata dan ramuan sihir di ambil oleh Sarang laba. Gupta hanya bisa mengepal tangan menahan amarah. Dia di dalam persembunyian bersama dua orang abdi dalem. Sampai saat ini Gupta menjadi incaran Sarang laba yang di paksa membuat ramuan seperti tanda jasanya pada Kartanegara. Melihat kepergian para penjajah yang mencuri habis sampai seluruh isi pembuatan dan bahan ramuan, Yuri hanya bisa ikut bersembunyi di dalam rumah. Dia mengingat pesan Sadewa agar tetap mempertahankan diri agar bisa menjaga ayah mereka.


“Hiya!!”


Sadewa mengeluarkan jurus api merah, dia berhasil melakukan tiga elemen setelah di bantu Sahwana dari setengah kekuatannya. Sampai pada elemen tanah, Sadewa memusatkan pikiran. Hanya dengan satu pukulan energi dalam, dia bisa mengendalikan elemen tanah. Membelah dua batu raksasa yang ada di dalam, Sahwana bertepuk tangan sampai tersenyum mengacungkan jempol. Pedang berselimut ramuan sakti kini berada tangannya.


“Ahahah! Akhirnya kau bisa menjinakkan pedang arwah ini. Aku memberi namanya pamungkas peonix.”


“Terimakasih paman Sahwana” jawabnya tersenyum bahagia.


Berbagai macam ilmu, cara meracik ramuan sihir telah di turunkan pada Sadewa, hingga dari kejauhan terdengar langkah lari tapak kuda ke arah gua. Pasukan Sarang laba mengetahui persembunyiannya, Sahwana dan Sadewa melarikan diri sebelumnya Sahwana membakar tempai itu.


......................


Kekecewaan Dewi Bahati menjadi istri Adika karena setiap hari harus makan buah yang


pahit. Dia hanya bisa menangis dia atas bantal mengingat dan menyadari pengkhianatan pada Sadewa. Farasa ibunya sudah mengingatkan berkali-kali mengenai sepak terjang suaminya itu. Dia tidak bisa menyembuhkan ramuan hitam yang telah tercampur di darah daging anaknya.


Seolah ingin pergi tapi tidak bisa. Berniat melarikan diri dari rumah, nyatanya sampai saat ini dia masih berada di sisi Adika. Sifatnya semakin arogan, dia juga tidak pernah memperhatikan anaknya Surya. Pria itu malas bekerja, dia jarang sekali meracik ramuan untuk di jual di pasar. Dewi bahati beserta anak dan suaminya mendapat sokongan hidup dari Linjao dan Yen.


“Semua kebutuhan rumah hanya aku saja yang memikirkannya.Matahari sudah tergelincir tapi dia masih bermimpi di pulau kapuk!” gumam Bahati.


Tidak sadar selama ini perbuatannya, Adika selalu saja kasar sampai keributan di dalam rumah tangganya menjadi sorotan para tetangga.

__ADS_1


“Aku sudah tidak tahan lagi menghadapi sikapnya mbok, dia bukan Adika yang dahulu ku kenal. Kurang apalagi aku setia mendampinginya tapi perlakuannya begitu sadis pada ku” ucap Dewi Bahati sambil memeras kain.


“Mohon bersabar nyonya, menurut mbok sebaiknya nyonya adukan saja ke nyonya besar” jawab mbok Rija.


“Ayah dan ibu pasti akan menyuruh ku bercerai dengannya. Bagaimana nasib Surya mbok, aku jadi serba salah.”


......................


Setelah perpisahan di hutan, tampaknya itu akan menjadi perpisahan panjang bagi Sahwana dan Sadewa. Pamannya yang suka berkelana itu meninggalkan batas pedesaan, dia melihat perkembangan dari negera Sarang laba setelah berhasil merebut negerinya.


Di ujung sana banyak orang berkerumun membuat ramuan sihir yang mereka pelajari dari buku milik Gupta. Simbol negara itu mengibarkan bendera-bendera besar di setiap sudut jalan.


“Apa kau mendengarnya? Raja menawarkan satu peti emas bagi siapa saja yang berhasil menangkap Gupta, Sahwana maupun anak-anak Gupta yang konon kabarnya bisa meracik ramuan.”


“Tapi sampai saat ini mereka belum di temukan, Aku jadi penasaran apakah ramuan sihir yang kita racik ini sama seperti punya mereka.”


Pembicaraan mereka di dengar Sahdewa, dia sudah lega berhasil menurunkan seluruh ilmu ramuan sihir dan ilmu bela diri pada Sadewa. Senjata yang ampuh membunuh seekor lalat, langkah Sahwana berlanjut ke daerah pesisir pantai. Dari kejauhan mereka melihat kapal dari negara asing berlabuh di tepi pantai. Ada dua kapal yang kira-kira terdapat ratusan orang di dalamnya. Wajah negara asing yang tiba di wilayah sarang laba.


Suara kentungan penduduk desa mengabarkan kedatangan kapal asing. Ada sebagian penduduk mengira kapal itu sedang melaksanakan eksplorasi sumber daya laut melanggar hukum sehingga banyak warga di tepi pesisir mencurigainya.


Ketua penjaga pantai menimbang kemungkinan musibah yang akan melanda kampung jika melawan arus menyerang tanpa tau tujuan dari orang-orang di dalamnya. Banyak pasukan berpakaian seragam militer, lambang simbol negara mereka adalah naga. Salah satu panglima perang mengatakan akan menemui sang raja atas dasar penyampaian petisan istana negeri naga.


“Dengan ini aku menyatakan perdamaian jika negeri sarang lama mau bertekuk lutu, tunduk di bawah naungan negeri naga putih. Maka aku raja naga putih tidak akan pernah menyatakan perang dan menyatakan perdamaian yang abadi” ucap panglima perang menutup gulungan petisan itu.


Sang raja Diraga mengerang tidak terima atas pernyataan raja yang ingin menjajah negeri mereka itu. Dia meminta sang panglima mendekat, lebih dekat sampai jarak kedua hampir bersentuhan. Sang raja Diraga mengeluarkan pedangnya, dia menyayat dada sang panglima hingga baju zirah yang terbuat dari besi itu terbelah menembus tubuh.


“Arghh!” para prajurit di negeri naga yang ingin melawan akan di jadikan tahanan.


Mereka mendirikan tenda di dekat kapal. Di dalam pemberhentian perjalanan mengobati sang pangima, mereka bertemu seorang pria tua yang sedang mabuk-mabukan sambil memainkan pedangnya mencari ikan.


Duar___

__ADS_1


Kekuatan sihir dan pedang yang luar biasa bisa menembus air. Para prajurit dan panglima yang berbaring ikut terperangah menyaksikan kehebatannya. Salah satu prajurit ingin merampas senjata yang ada di tangannya. Tapi dia mengayunkan pedang memecahkan batu dan apapun yang di dekatnya.


“Lari! Atau kalian akan mati!” teriak sang panglima sambil menahan luka.


__ADS_2