
Di dalam batu yang bergeser sendiri. Mereka di giring memasuki lorong bebatuan sempit. Banyuwangi menyalakan sihir air yang berselimut api di atas jari telunjuknya. Jin peri yang bercahaya terang menggunakan gaun putih mengingatkan agar jangan menyentuh sedikitpun tembok pada dinding. Banyuwangi hampir tergelincir karena jari telunjuk yang mengeluarkan api mengenai bebatuan pembatas sempit jalan.
Gongg__
Bunyi suara aneh menggema. Batu bergeser memisahkan satu sama lain. Panggilan mereka tidak lagi terdengar. Sadewa mendorong bebatuan dengan kekuatannya namun batu tidak bergeser. Terdengar suara sosok jin dari atas.
“Kepung penyusup!” teriakan para peri penjaga.
“Cepat! Waktu kita tidak banyak. Kalian harus segera pergi dari sini” ucap jin berbaju putih.
“Tapi bagaimana dengan panglima ketiga?”
“Saya akan berusaha menyelamatkannya.”
“Cepat Raja gurun. Gua ini akan runtuh” ucap sang raja Batara.
Mereka terhempas keluar perbatasan wilayah peri. Tembok raksasa tertutup memperlihatkan berbagai macam makhluk mengerikan. Sadewa mengeluarkan ilmu suwung laduni. Tapi tidak berpengaruh apapun.
“Raja Batara, bawa lah peri Seza. Aku akan menunggu Banyuwangi disini.”
“Berhati-hati lah raja.”
__ADS_1
Di ruangan permadani sang ratu menunggu kabar dari sang raja Gurun. Dia mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Hatinya kali ini sangat khawatir. Laporan dari Taga mengatakan sang raja beserta yang lainnya berhasil keluar dari istana peri. Sang raja Batara dan ratu Seza juga sudah keluar dari perut bumi. Ratu Winan mengutus Ruti mencari sang raja, dia langsung menjawab seruan sang ratu mengatakan baru saja dia mendapat kabar bahwa raja tidak terlihat tanda-tanda kehadirannya sejak berpisah dari raja Batara.
Ratu Winan mengutus ular hijau raksasa dan elang milik langit mencari sang raja. Makhluk-makhluk itu mengitari dunia peri. Panas-panah api dari beberapa sekte hitam menghujani. Elang dan ular hijau menghindari serangan. Ular raksasa menyemburkan bisa ke gerombolan pasukan sekte iblis. Tubuh makhluk-makhuk aneh meleleh melebur terkena sambaran bisa racun mematikan. Keanehan terjadi sosok-sosok penganut iblis bermata satu kembali ke wujud semula.
Kaki elang terlilit rantai api. Dia di tarik sekua-kuatnya sampai terbanting mengeluarkan suara yang sangat keras sampai ke negeri gurun. Ratu Winan mengutus para tangkla membantu makhluk-makluk utusannya. Namun mereka tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya.
“Maafkan kami yang mulia. Raja telah memerintahkan agar kami tetap menjaga yang mulia dan negeri Gurun” ucap Rakum.
Kali ini Winan hanya terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa menjawab apapun. Kondisinya sangat tidak memungkinkan mengeluarkan tenaga dalam. Jalan satu-satunya adalah menggunakan tongkat Fir’aun membuka fortal penghubung para jin. Menarik jin-jin yang di ucapkan dalam mantra. Sang ratu mencoba di atas pucuk menara tertinggi.
“Semua akibatnya akan aku tanggung di masa depan. Asal sang raja selamat” gumamnya mulai mengucapkan mantra.
Sihir-sihir mulai melayang di udara. Langit berubah berwarna merah, awan gelap, gumpalan kilatan membentuk pusara raksasa. “Kekuatan apa yang bisa melebih ku? Siapa pun itu harus aku habisi!” umpat peri iblis menegakkan tongkat sihirnya.
Panglima ketiga itu menarik sang raja. Namun, dia ikut tertarik masuk ke dalam. Dari atas langit gurun yang menghubung ke negeri peri. Sang raja dan Banyuwangi terjatuh tepat di bawah kaki sang ratu. Banyuwangi segera memberi hormat padanya. Namun, tangan sang ratu yang sudah berlumuran darah itu mulai Nampak bergetar.
Raja Sadewa tidak bisa mengambil air tongkat dari tangannya. Muncul serangan dari dalam pusara membentuk kilatan petir menyambar atap istana. Kebakaran besar di sapu dengan air tangkla Banyuwangi. Pusara mulai tertutup namun bala tentara Firaun belum sepenuhnya masuk ke dalam.
“Lepaskan tongkat itu ratu ku. Pergelangan tangan mu akan terlepas di telan api!”
Sadewa memegangi tanganya walau ikut terbakar. Banyuwangi di larang memadamkan api karena pusara Fortal makhluk yang bangkit setelah ratusan ribu tahun itu belum kembali ke asalnya.
__ADS_1
Sadewa membuka pembungkus pedangnya yang sakti. Dia lupa ada arwah anaknya yang bercampur dengan burung peonix di dalamnya. Dia menancapkan pedang ke dalam tanah. Seluruh makhluk Firaun tersedot ke dalam pusara pembuka fortal begitu pula arwah Langit.
“Tidak! Langit!”
Sadewa tidak bisa masuk, hanya sosok arwah yang menapak di muka bumi jin yang ikut terhisap ke dalam. Fortal tertutup, tongkat Firaun mulai terlepas dari tangan sang ratu. Sadewa menahan diri menggunakan seluruh kekuatannya. Winan terluka parah di tambah pendarahan.
“Raja, hamba akan segera kembali membawa tabib Sicin”
Banyuwangi secepat kilat menggunakan sihir hitam kembali membawa sang tabib. Ratu di tempatkan di sebuah ruangan yang terdapat perapian. Tubuhnya menggigil. Sang tabib meminta di sedikan sebuah wadah yang berisi air hangat. Dia juga menyuruh Ruti merebus ramuan herbal yang di sediakan di dalam kantung plastik.
“Gawat! Ratu Winan tidak boleh kehilangan bayinya. Ini akan menjadi malapetaka di negeri gurun. Aku harus ke alam arwah memanggil jabang bayi itu kembali dan bertahan di dalam Rahim sang ratu”
Semua hal yang ada di alam dunia maupun alam jin sediki banyak ikut campur tangan kegelapan. Tidak bisa di hindari kegelapan yang paling cepat menimbulkan efek apapun. Usaha Banyuwangi mengaruhi alam arwah di dalam persemediannya tidak semudah berjalan di atas dunia. Dia juga mendapat banyak rintangan agar bisa sampai ke sosok bayi yang dia tuju.
Tubuhnya seolah-olah berada di atas air. Dalam alam di atas awang-awang para penjaga makhluk-makhluk aneh menghalangi. Banyuwangi melawan menggunakan senjata elemen air. Dia membekukan salah satu makhluk itu. Memanggil sukma bayi sang ratu. Beranjak di alam jin, tabib Sicin berhasil memperjuangkan keselaman keduanya. Setelah meminum habis ramuan rebusan, dia terlelap terlihat wajahnya tidak lagi memucat dan demamnya mereda. Bekas bakaran pada tangannya di alasi daun khusus obat pengering.
Selesai mengurus sang ratu, Tabib Sicin membalut luk abakar di tangan sang raja. Penanganan kulit setengah manusia dan jin menperlihatkan kulit hingga tulang tangan. Raja sesekali meringis, sang tabib tampak telaten mengobati.
Air bercampur bebatuan es membawa Banyuwangi kembali ke negeri jin. Di atas ubin, dia mengeluarkan batuk darah berwarna hitam. Sepanjang perjalanan dia kelelahan melawan gangguan makhluk yang tidak ada habisnya.
“Cepat, bawa panglima ketiga ke ruangan lain dan obati lukanya” perintah Sadewa.
__ADS_1
Hatinya berat sebelah akan meninggalkan Winan di dalam persemedian. Dia harus menemukan langit di dalam pusara fortal Firaun. Dia berpesan pada Ruti agar menjaga sang ratu selama dia melakukan persemedian untuk sementara waktu. Pedang dan tongkat Firaun saling berdekatan berputar di depannya. Di sebuah gua di belakang perbukitan dekat istana, sang raja menggunakan ilmu Suwung laduni mulai melepaskan sukma.