
Dom kehilangan jejak sang putri, dia ketakutan sang raja akan menghukum gantung kalau sampai tau sang putri menghilang. Membentuk pasukan berkelompok mencari san putri, hingga petang bunyi suara kereta kuda menggetarkan san pengawal. Raja tiba memanggil Dom, gerakan sang pengawal inti tidak berani menatapnya.
“Dom, apakah ada kabar mengenai serangan musuh di negara Api?”
“Menjawab sang raja, tanda-tanda prajurit negeri api terlihat di bagian hutan tengah. Mereka membangun barak tenda, persiapan yang mereka bawa seperti akan melakukan sebuah peperangan panjang."
“Pantas saja raut wajah engkau sedang memikirkan sesuatu. Saya tau beban yang ada di pundak mu Dom. Panggilkan putri ku, ada yang ingin aku bicarakan padanya.”
Kaki Dom menekuk lutut, dia menunduk membenturkan dahi ke atas ubin. Dia sosok pendamping sang putri yang gagal. Raja turun dari kursi kebesaran, mengguncangkan pundak mempertanyakan dimana anaknya. Tidak ada jawaban darinya, dia menyodorkan pedang agar sang raja membunuhnya.
“Cepat beritahu dimana putri?”
“Maafkan hamba yang mulia, pusara air itu. Menarik sang putri di dalam ruangannya..”
Pusara air mengingatkan sang raja pada Banyuwangi, sang panglima perang ketiga di negeri Kartanegara, ratu penguasa air sekaligus tangkla air di negeri gurun. Raja berlari masuk ke dalam ruangan sang putri, di depan terbentang sinar peri lebih terik di bawa angin berhembus menyemai kelopak bunga indah. Dia tidak menyangkal keistimewaan sang putri, sayapnya yang terkepak sempurna.
“Walau aku menjauhkannya dari negeri jin dan sepasang sayap peri yang tidak bisa di tutupi. Tetap saja takdir membawanya kembali” batin sang raja.
Menyambung kembali masuk ke dalam perut bumi, tidak semudah di masa-masa sebelumnya. Dia hanya bisa menunggu anaknya kembali dan kedatangan sang panglima ketiga. Persiapan perang melawan negeri api terhenti tanpa ada aba-aba intruksi dari sang raja. Sang pengawal Dom tidak berani menanyakan atau masuk ke dalam ruangan.
Untuk mengantisipasi serangan mendadak tanpa adanya persiapan. Dom mengutus beberapa pasukan inti agar membentuk kelompok pertahanan. “Api akan membuat kekuatan mereka semakin kuat. Kita menggunakan lentera kecil dan memasang beberapa jebakan.”
__ADS_1
“Perintah kami laksanakan!”
......................
Di sebuah ruangan beku, sayap indah mengepak tanpa merasa dingin celah sentuhan ujungnya. Serpihan serbuk peri cahaya jatuh di atas rambut Kara, mahkota berbentuk ular berubah hidup melata di depannya. Semakin alam ular semakin membesar, Lusia takut di telan bersembunyi di balik tubuh Kara.
“Jangan bergerak, kalau kamu lari. Dia akan menyemburkan bisanya.”
Penampakan ular jin ratusan ribu tahun mengagetkan penghuni negeri air. Banyuwangi baru saja akan memulai bermeditasi, dia merasakan sosok ganas milik Firaun yang mengganggu wilayah kekuasaannya. Di terbang menggulung air, membekukan setengah tubuh ular. Kara naik ke atas permukaan setinggi gulungan sang ratu. Elemen tanah telah dia kuasai sedemikian hebat, tangannya menyentuh kepala ular raksasa yang perlahan menunduk mematuhinya.
Era di masa ke pemerintahan Firaun.
mahkota simbol ratu gurun pasir terselubung kekuatan yang tidak tertandingi. Sang raja menghadiahkan kekuatan dan kekuasaan besar itu sebagai menunjukkan rasa cinta dan sayang padanya. Tapi, suatu hari ular Sanca hijau berpaling tidak mau patuh berpindah tangan menjaganya. Dia seutuhnya ingin tersemat sebagai panglima penjaga sang raja penguasa keabadian.
“Pada hari ini, engkau aku tugaskan menjaga sang ratu. Kalau kau menentang, maka seluruh makhluk melata akan binasa.”
Titah Firaun masuk ke dalam sela darah sang ratu, sejak saat itu keturunannya dapat mengendalikan makhluk bangsa melata terutama ular jin keabadian. Masuk membawa sihir hitam ke istana air menjadi momok ketakutan para pura air yang bersemedi menjaga keseimbangan alam elemen air abadi.
“Ya Mulia ratu, sihir hitam tetaplah hitam. Setitik kehitamannya bisa mengubah air yang jernih. Bukankah yang mulia mengetahuinya?”
Ketua pura air menghadap tanpa goyah. Semula sang pengendali elemen jin berwujud manusia akan di tempeh di negeri air. Tapi sang ratu tidak bisa menahannya lagi lebih lama. Kehendak langit selanjutnya membawanya keluar dari negeri itu.
__ADS_1
Banyuwangi menggulung air memisahkan dua putri kerjaan. Sang putri Lusia kembali ke istana sedangkan sang putri Kara terdampar di hamparan padang pasir yang tandus.
“Ini bukan negeri sang putri, aku tidak punya kekuatan untuk membantunya. Kasihan sekali, mengapa nasibnya jadi seperti itu?” gumam Bara melihatnya dari kejauhan.
Malam yang gelap gulita, Kara menyalakan kekuatan api di ujung jarinya yang lentik. Dia membentuk sebuah gua, ada tempat tidur buatan dan corong perapian untuk menghangatkan diri. Dia sendirian, sebatang kara di alam manusia. Berpikir akan selamat dari bahaya karena memiliki kekuatan dan penjaga makhluk ular raksasa. Kara mulai di serang salah satu manusia serigala yang mengetahui keberadaannya.
Aauuww__
Tanda keberadaan musuh menyalakan gumpalan asap di atas langit. Tubuh Kara masih kecil belum cukup kuat menepis kekuatan besar yang menyerbunya sekaligus. Mata merah Winan menyala merasakan anaknya dalam bahaya, dia meminta pada sang raja supaya mengijinkannya keluar dari perut bumi.
“Ratu, pintu kegelapan akan ikut terbuka membawa makhluk lain keluar. Bukan kah kita telah sepakat berharap kedua anak kita di bawa takdir yang baik? Aku telah mengutus Ruti mendampinginya dari kejauhan.”
Hiyaa__ Bola api, penyatuan kekuatan sihir hitam. Makhluk-makhluk jin api berebutan menyerap kekuatannya. Dedemit merah menggunakan jurus andalan, sembunyi-sembunyi mencari arah letak titik kekuatan itu menyerang. Api melebur, serpihannya berjatuhan membakar bajunya. Kara berlari memanggil gulungan angin membentuk topan. Pada hari itu bencana besar meratakan wilayah tanah barat di atas bumi. Manusia-manusia yang tidak sengaja terbawa angin di tarik Kara berpindah tempat. Dalam situasi terjepit, dia masih sempat menyelamatkan beberapa jiwa. Dedemit merah membuka pintu pembatas mendorong sang putri masuk.
Di dalam akar bumi, pohon cahaya yang bersinar terang. Ketua penjaga pohon menawarkan sebuah harapan yang bisa dia kabulkan. Sebelum meminta, dia di beri waktu tiga hari agar memikirkan baik-baik nasib di dalam takdir yang di gariskan padanya. Sebuah kelahiran sosok jin berwujud manusia yang bisa menyerap seluruh kekuatan alam.
Karma atau keberuntungan, tidak ada yang berani mengambil kesimpulan mengenai sang putri gurun. Sekalipun garis pembaca astronomi atau selayang trokat. Setelah berhasil menyelamatkan sang putri dari para pengikut iblis bermata satu. Sang dedemit menghilang membentuk bola api menembus perut bumi.
“Dimana pengawal ku? di saat terpenting dia menghilang begitu saja!” ucap Argo penuh amarah.
“Raja api, kau harus lebih jeli dan teliti. Buka mata mu lebar-lebar siapa yang mula berkhianat”
__ADS_1
Sang ratu penyihir kegelapan melengos melihatnya.