
Perut besar sang raja gurun mulai mengempis stabil seperti sedia kala. Otot-otot merah menonjol, bola mata yang seolah hampir terlepas, aliran darah membeku. Semua perlahan kembali di bantu kekuatan sang ratu gurun menggunakan segenap kekuatannya. Sihir Piramida lebih menyala menyilaukan menembus langit. Berjayanya kekuatan hitam bercampur kegelapan di malam itu, tidak lain mendapatkan kekuatan dari pemilik asli penguasa api merah si ketua penyihir Murakat yang sangat bernafsu membunuh sang raja.
Dia di telan kekuatannya sendiri, menggadaikan seluruh jiwa demi sosok yang tidak pernah bisa terbunuh di tangannya. Kabar kematian Murakat memicu segala jin maupun menyihir bangsa merah murka.
“Untuk menenangkan jiwa Murakat, kita harus membalaskan dendamnya!” ucap para sesepuh penyihir merah.
Perkumpulan di atas kerak bumi melibatkan seluruh elemen api. Bara merasa terpanggil dalam ke dalamnya. Berdiri berjarak yang sangat jauh, dia menggunakan telinga jinnya mendengar pembicaraan sampai terhenti merasakan ada kurungan api yang akan di layangkan jika tidak mau terjun dalam penyerangan.
“Gawat! Aku harus segera pergi!” gumamnya membentuk api terbang ke istana gurun.
Sebagai bangsa api, seluruh penjaga penting istana bahkan pengusa negeri gurun mengetahui bahwa Bara tidak akan pernah berkhianat membela bangsanya. Laporan darinya menahan sang ratu menerbangkan kekuatan pertahanan di sekitar istana.
“Mohon maaf yang mulia. Maaf atas kelancangan hamba mempertanyakan penarikan pasukan pertahanan penting ini” tanya selayang Trokat.
__ADS_1
Sang ratu menggunakan sihir menjawab pertanyaannya. Dia menggambarkan Biduk formasi memperluas penjagaan dala tiga bagian perbatasan benteng. Pertama di bagian luar perbatasan negeri, wilayah rakyat gurun kemudian yang terakhir istana yang di jaga dengan ketat dengan kekuatan sihir Firaun. Negeri yang masih berkaitan pada bekas jasad yang masih utuh di dalam Piramida itu memiliki kekuatan pelindung tersendiri di bantu kekuatan sang raja gurun pertama.
Seisi Aula kebesaran terkejut mendengar panglima pesar terbesar, kaki tangan sang Firaun yang di jadikan sebagai pemimpin di bagiann luar perbatasan. Sanca dengan sigap memberi hormat menghilang mengambil posisi berjaga.
Jadi di simpulkan kalau musuh tidak akan mengira ada pasukan ghaib yang hidup pada ratusan masehi berbaris bersiap menunggu musuh. Tentara setan bersembunyi di dalam gurun pasir ganas.
“Aku rasa pertemuan hari ini cukup dan selanjutnya Ruti yang akan memberi arahan selanjutnya”
“Baik Yang Mulia..” ucap mereka serentak membungkuk memberi hormat.
Winan melihatnya dari bola Kristal hitam setelah itu melihat putri Karalyn tampak menangis menyendiri di bawah pohon dalam keadaan gelap gulita. Langit tertutup awan hitam, pada malam itu alam manusia terasa mencekam. Banyak bangsa-bangsa jin halus memperhatikan anaknya, mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk mendekati.
Sosok ular yang sengaja di utus mengikuti benar-benar menjaga sang putri yang di takdirkan hidup di bumi. “Dengan cara apapun juga anak ku tidak bisa kembali, kecuali aku yang mencabut nyawa ku sendiri dan meminta pada sang iblis kegelapan agar mengembalikan anak ku ke alam jin. Tapi tetap saja aku tidak bisa bersama dengannya” gumam sang ratu yang telah berputus asa.
__ADS_1
Perkumpulan para bangsa api di pimpin suku merah beserta jin lelembut. Mereka melupakan asal sang raja gurun yang hidup di negeri jin. Sosok pendekar Kartanegara masih menyimpan ilmu mumpuni di balik kekuatan senjata pamungkas peonix. Waktu penyerangan berlangsung dalam tempo singkat, seluruh bangsa jin dan makhluk api merah mengepung negeri gurun pasir. Winan melihat dari bola kaca hitam, tanda sinyal Sanca hijau menunggunya memberikan serangan.
“Sanca, gunakan seluruh kekuatan mu. Panggil semua makhluk lapisan alam melata menjadi tentara yang tidak bisa di lenyapkan!” perintah sang ratu.
Bunyi shofar, makhluk jadi-jadian mengaum. Ratu penyihir kegelapan memanfaatkan situasi menjadi pendukung bangsa merah. Melemparkan sebuah batu di atas pasir yang terlihat tenang. Dari dalam keluar sosok ular raksasa yang mengeluarkan senjata busur, melepaskan anak panah beracun ke arahnya.
“Ratu! Bahaya!” teriak penjaga hitam menariknya.
Kakinya terkena goresan ujung busur. Menjalar sampai sebatas paha. Sang ratu mengambil darah beberapa pengikutnya sebagai obat menetralisisr racun. Sosok makhluk jin saja tidak cukup mengembalikan aliran darahnya. Dia mengangkat seratus nyawa dalam satu tarikan tongkatnya, merasakan tubuhnya pulih maka dia mulai terjun menyerang bersama seluruh makhluk api.
“Serang!” teriak pemimpin makhluk bangsa api.
Raja Sadewa berhasil menarik kembali pedangnya yang tertanam di sebuah batu dekat pohon cahaya. Dia terbang berdiri di depan benteng perbatasan mengangkat tinggi pedangnya. Kekuatan yang keluar membuat seluruh bangsa api bertekuk lutut. Arwah burung peonix membentang mengepakkan sayap menjaga negeri gurun pasir.
__ADS_1
Para bangsa api terbang menghindar, mereka mundur teratur tidak berani menghadapi kekuatan besar makhluk abadi penguasa api tersebut. Di luar perkiraan sang ratu penyihir kegelapan. Dia mngeluarkan seluruh kekuatan yang ada di dalam tubuh maupun tongkatnya. Bola api raksasa yang menyerap matahari di lempar berharap bisa meratakan negeri beserta isinya.
“Terimalah serangan ku! negeri kalian akan rata dengan bumi! Ahahah!”