
Pemindahan raja Diraga, dia di arak dengan pengawalan panglima perang dan prajurit berkuda. Di depan gerbang telah berdiri raja Yetno. Melihat ke sang raja telah berhasil mengambil kembali tanah Kartanegarana, amarah memuncak melepaskan rantai yang mengikatnya hingga menghancurkan kurungan yang membawanya.
Tenaga dalam Diraga cukup besar, kekuatan ilmu kebatinan yang di kuasai dan sihir yang dia pelajari semasa Berjaya berhasil menakhlukan beberapa negeri lainnya. Dia menyerang raja Yetno, perbuatan percobaan membunuh sang raja meemberatkan masa hukumannya. Gerakannya di halangi panglima perang dan punggawa yang melindungi sang raja.
“Aku akan membalas kekalahan ini!” teriak Diraga.
Dia di kurung kembali, kali ini kepala dan bahkan sekujur tubuhnya di rantai. Dia di beri hukuman pemenggalan kepala namun sang raja mengampuninya mengingat Diraga bagia dari keluarga para selir raja Namrut.
“Aku memang telah mengampuni mu, namun bukan berarti engkau bisa leluasa mengumpulkan sekutu hingga suatu hari mencari cara meruntuhkan negeri ku lagi. Engkau akan aku bawa ke tempat perasingan penjara Ronggo jagad. Kekuatan mu harus di hilangkan dan engkau harus menjadi penghuni abadi penjara bawah tanah” ucap sang raja Kartanegara.
“Negeri tidak akan pernah tenang!” bentak Diraga.
Di di cambuk panglima karena sudah keterlaluan di depan sang raja.
......................
Selama berhari-hari Sadewa di rawat di istana guru pasir. Lokasi yang terletak di dalam perut bumi. Pasir gurun hanya sesekali memperlihatkan ujung bagian istana. Pada hari ini, Sadewa bisa berjalan sendiri, dia berkeliling istana memperhatikan pakaian mereka yang jauh sangat berbeda seperti negeri-negeri lain pada umumnya.
Sadewa memasuki seuatu wilayah batas yang tidak semua orang bisa memasukinya. Ketika salah satu tangkla abdi dalem akan menghalanginya, dari arah belakang tubuhnya di tahan oleh ratu Winan. Dia memberi isyarat agar tetap berdiri pada tempatnya. Sang ratu ingin mengetahui sampai dimana pria yang di tolongnya itu mengambil tindakan di istananya.
Masuk ke salah satu ruangan yang di penuhi dengan harta kekayaan negeri gurun pasir. Patung zirah terbuat dari emas, peti-peti harta karun dan tumpuhan berlian yang menyilaukan mata. Sadewa tidak menyentuh sedikit pun harta yang menggiurkan itu. Dia mengamati sebuah peta yang terpasang di dinding. Ukuran yang sangat besar memperlihatkan setiap inci dan letak setiap wilayah negeri gurun pasir.
__ADS_1
“Tulisan ini sperti aksara kuno yang sama lama, aku tidak bisa membacanya” gumam Sadewa.
Di berbalik meninggalkan ruangan lalu berpindah ke ruangan lainnya. Setelah puas berkeliling, dia kembali ke ruangannya mengemas barang-barangnya bersiap pergi. Melihat pendekar itu adalah orang yang baik, sang ratu Gurun semakin terkesima dengan dirinya.
“Apakah anda sudah sehat? Beberapa hari yang lalu anda hanya terbangun lalu pingsan hingga hari ini keadaan anda jauh lebih sehat dari sebelumnya”
“Kamu siapa?”
“Beliau adalah ratu gurun pasir” ucap salah satu tangkla abdi dalem.
“Hormat saya yang mulia, terimakasih atas kebaikan yang mulia telah menolong saya. Saya mohon pamit undur diri.”
“Siapa pun yang sudah menginjakkan kaki di wilayah gurun pasir, negeri ghaib di dalam kerak bumi maka tidak bisa naik ke permukaan lagi. Tubuh mu akan kembali melemah atau akan kehilangan kekuatan” ucap tangkla Ruti.
“Ternyata anda sudah berkeluarga. Yang mulia, dia harus di jadikan tawanan negeri gurun seperti para manusia lainnya”
Sang ratu yang berhati dingin itu tampaknya luluh melihat sikap Sadewa, dia menimbang dan memberikan penawaran pada sang pendekar. Sesuai mimpinya di tahun lalu, kedatangan arwah burung peonix masuk ke dalam istananya. Sang ratu mati ketakutan berpikir sang peonix legendaris akan membakar istanya hingga tidak tersisa. Namun roh api abadi itu menghilang setelah membakar mahkota sang ratu.
Kepalanya berputar-putar menerka mimpi yang dia alami. Sang roh peonix membakar mahkota simbol kepemimpinan itu sebagai tanda dia di lengserkan menjadi ratu atau simbol membantu pendekar yang memiliki pedang peonix yang sekarang berada di hadapannya.
“Wahai pendekar, aku memberikan mu dua penawaran. Engkau keluar dari sini namun kekuatan mu menghilang atau engkau ku jadikan suami sehingga kekuatan mu tetap utuh sekalipun keluar masuk ke inti perut bumi atau permukaan bumi” ucap sang ratu Winan.
__ADS_1
“Yang mulia, saya sudah memiliki istri. Alas pati juga sedang mengandung, bagaimana bisa aku menikah lagi dan mengkhianatinya? Biarlah aku keluar dari sini tanpa memiliki kekuatan apapun”
“Pendekar seharusnya engkau bangga di beri penawaran sebagai penguasa negeri gurun pasir. Tapi engkau mentah-mentah menolak sang ratu. Hukuman penggal kepala yang pantas untuk mu!”
“Tenangkan diri mu Ruti, dia pasti akan berpikir ulang. Pendekar sejati yang menyerahkan kekuatannya begitu saja sama halnya melihat secara tidak berdaya kematian keluarganya karena tidak memiliki kekuatan untuk melindunginya” kata sang ratu sambil tersenyum.
Sadewa jadi merasa terjepit memutuskan sesuatu yang mustahil baginya. Dia harus segera keluar dari inti perut bumi, jika saja dia tidak di selamatkan ratu gurun pada hari itu mungkin dia sudah mati di tangan manusia tengkorak.
“Aku harus bagaimana alas pati?” gumam Sadewa.
“Wahai ratu, berikan aku penjelasan mengapa aku bisa kehilangan kekuatan kalau meninggalkan tempat ini?”
“Pendekar, ada beberapa lapis kehidupan di alam ini. Tidak semua manusia bisa hidup di dua alam yang berbeda dan keluar dari alam lain dengan keadaan utuh sedia kala. Apakah engkau paham maksud perkataan ku?" kata sang ratu menjelaskan.
“Jadi, apa bedanya setelah aku menikah dengan mu?"
“Engkau mendapat anugerah dari negeri gurun dan seutuhnya bukan manusia. Negeri gurun pasir adlaah negeri jin seribu satu malam. Aku seharusnya juga tidak ikut campur urusan manusia”
Dengan sangat terpaksa Sadewa harus merelakan diri menikahi sang ratu. Dia bukan lagi manusia seutuhnya. Ritual pernikahan Sadewa dan ratu Winan di adakan tepat nanti malam para tangkla menyulap istana dengan hiasan dan kemewahan menggunakan kekayaan negeri guru pasir yang berlimpah ruah. Banyak sekali bangsa jin dan siluman yang menghadiri acara terpenting itu. Ratu guru yang cantik jelita, angkuh, sombong dapat di takluk kan oleh manusia biasa.
Sebelum mereka resmi melaksanakan upacara pernikahan dan ritual jin di depan para tamu yang datang. Sadewa meminta kesepakatan pada sang ratu.
__ADS_1
“Wahai ratu, aku sangat berterimakasih atas segala jasa mu. sungguh pernikahan ini bukan berlandaskan rasa cinta. Aku hanya ingin bisa keluar dari sini dan meneruskan pengabdian ku sebagai pendekar penjaga Kartanegara dan menjadi seorang suami yang harus melindungi istri ku yang sedang mengandung. Semoga engkau bisa memahami hal ini”
“Pendekar saya mengerti. Tapi perlu engkau ingat, karena setelah menikah dengan ku. Engkau tetap memiliki tanggung jawab melindungi negeri gurun pasir. Aku berjani tidak akan pernah mengusik keluarga mu atau hadir di hadapannya__”