Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 40


__ADS_3

Baseka turun dari kudanya, Dom berserta prajurit lain menyambutnya. Melihat Prameswangi, dia berlutut meminta maaf telah menjadi anak yang durhaka. Andai saja dia ikut membantu di dalam pertarungan maka dia tidak akan mejadi sosok senopati yang tidak bernyali mementingkan keselamatannya sendiri. Pameswangi menangis terharu, dia bahagia anaknya kembali padanya. Ruti berdiri di depan ruang kebesaran. Di depannya bukan lah raja Batara yang bertahta.


Dia menghidupkan sinyal , Dom membalas sahutan sinyal panah api di udara. Mendengar penjelasan darinya, mereka membagi tugas . Dom menuju ke dalam kerajaan dimana tempat para pembesar abdi dalem berkumpul sementara Ruti menyampaikan pada raja Sadewa.


Si tengah malam, Dom menemui abdi dalem yang tampak berkumpul di ruangan rahasia. Kehadiran Dom membuat mereka sangat terkejut.


“Dom, bagaimana keadaan raja dan ibu suri?”


“Maafkan aku, kami di hadang pasukan Wicak. Aku tidak bisa menyelamatkan ibu suri maupun raja sedangkan pangeran Baseka sampai saat ini belum di temukan.”


“Sungguh malang. Aku turut berduka cita atas kematian raja dan ibu suri” ucap Jaka.


“Kenapa wajah kalian semua berubah murung? Bukan kah kalian senang dengan berita yang aku bawa?”


“Tutup mulut mu Dom, kami masih tetap setia. Wicak terlalu sombong dan angkuh. Dia juga banyak menyebar fitnah di istana ini” kata Bona.


“Ya kami juga masih tetap setiap pada Keluarga kerajaan.”


“Kalau begitu kita segera cari pangeran Baseka.”


“Untuk apa? Kalian saja duduk tenang disini tanpa bertindak apapun.”


“Don, kau sudah keterlaluan!” pekik penjaga perbatasan Barat.


“Tenang, dia ada benarnya” ucap Jaka.


“Apakah aku bisa berpegang pada ucapan kalian? Benarkah paman Bona?”


“Situasi pada saat itu membingungkan. Kami tidak mengenal mana kawan dan lawan, yang lebih tidak di sangka adalah Wicak membawa sekte hitam pasukan iblis. Tapi perlu ketahui Dom, kami bersumpah masih setia.”


“Kalau begitu kita susun strategi perampasan tahta kembali. Aku akan membawa keluarga raja jika sudah aman” ucap Dom sambil mengusap dagunya.

__ADS_1


“Kapan kita mulai menyerang?”


“Setelah semua pembesar mengumpulkan para pasukan. Tepat satu hari setelah hari ini.”


“Ya penobatan raja yang baru di tunda. Banyak para pembesar dan penjaga kuil beralasan menunggu hari yang tepat.”


Di tempat lain, Ruti memberitakan kabar buruk itu pada Sadewa. Di sisi lain, kabar buruk dari panglima yang mengatakan Langit di curi dan di bawa ke dunia manusia.


“Raja, biar aku saja yang akan mencari Langit. Engkau harus memberitahu raja Batara dan menyelamatkan negeri Kartanegara.”


“Panggil aku jika terjadi Sesuatu pada mu ratu. Berhati-hati lah.”


Dom bersama Sadewa menemui tempat persemedian Batara. Sang raja yang berwujud jin itu mengetahui kerajaannya di serang tentara iblis.


“Raja gurun, aku sudah lama menunggu mu untuk membantu merebut kembali tahta ku. Aku merasakan hawa iblis yang sangat kental.”


“Kalau begitu mar kita berangkat raja..”


Dari arah mata angin, para pasukan sudah berkumpul bersiap menyerang. Nyala ledakan meriam menghancurkan pintu istana. Perang badar di masa era lalu terulang kembali. Para iblis merobek jantung prajurit. Suara kesakitan melihat wijak sangat ganas. Sadewa menggunakan kekuatan elemen air membekukan musuh. Dia juga membakar para iblis menjadi debu. Raja Batara menggunakan kekuatan barunya menarik paksa jantung para iblis lalu memecahkannya.


Pintu itu di tutup, terakhir kalinya dia melihat Wicak pergi. Dia menangis di atas kasur, mereka telah berdosa merampas paksa hingga melakukan persekutuan dengan iblis sekte hitam. Jendela terbanting, dari luar masuk asap hitam membentuk sosok makhluk besar mendekatinya.


“Sesuai tagihan kesepakata kalian. Harus ada yang aku makan! Ahahah!” gema suara makhluk itu.


“Argh! Arghh!”


Sukma Nuraya di tarik paksa dari tubuhnya, dia di bawa pergi meninggalkan jasadnya yang kaku. Para dayang terkejut ketika membuka pintu kamarnya. Di luar sana peperangan sengit, Wicak di bunuh Batara dengan satu tangannya.


“Ter-ternyata kau adalah jin!” ucapnya sambil menunjuk.


Kartanegara berhasil di tegakkan untuk yang kedua kalinya. Singgahsana di duduki sang raja Batara, di sisi kanan duduk ibu suri dan di sisi kiri duduk Baseka. Sadewa meminta ijin meninggalkan ruangan, dia harus menyelamatkan anaknya serta tau Winan yang tidak kunjung datang.

__ADS_1


“Panggil saja aku jika engkau membutuhkan aku atau bala tentara. Terimakasih Adipati Sadewa, engkau banyak berjasa di era almarhum ayahanda dan aku.”


“Tidak perlu sunggkan raja. Sudah menjadi tugas ku melindungi Kartanegara. Hampa pamit undur diri.”


Ratu Winan di kepung para iblis, dia memanggil Ruti agar membawa pergi langit. Sosok penjaga yang sangat setia itu sangat berat kakinya untuk meninggalkan sarang iblis.


“Ibu! Paman, aku tidak mau meninggalkan ibu sendiri!” ucap langit.


Sosok iblis mengulurkan jemari panjang satu meter menariknya. Sadewa datang menepis mengeluarkan senjatanya. Pertarungan serangan melibas iblis, hingga sampai pada ketua sarang yang menggumpal asap hitam.


Ratu menghidupkan sinyal bantuan di negeri jin. Sadewa mengeluarkan semua tenaga dalamnya menyerang si pemimpin iblis. Para tangkla terjun membantu memberikan tenaga ke sang raja. Gumpalan asap hitam pecah. Iblis berhamburan terbang meninggalkan sarang.


Ratu mengejar si pemimpin hingga ke bukit lahar gunung berapi.


“Hentikan ratu, jika ikut mengejar maka engkau akan masuk ke dalam lahar panas itu.”


“Raja, ini sudah jadi tugas ku melenyapkan musuh dan melindungi rakyat ku.”


“Apa yang engkau katakan! Iblis tetap hidup di muka bumi sampai bumi ini binasa. Aku tidak mau engkau pergi!”


Sadewa menarik tangannya, langit terbang bersama elang raksasa menjemput mereka. Dia tercengang anaknya yang masih kecil bisa mengendalikan berbagai macam hewan bersayap. Kali ini tubuhnya yang kecil bisa mengendalikan angin naik di atas burung raksasa.


“Ayah, ibu ayo naik ke atas tubuh sahabat ku”


Ratu berada di tengah. Antara Sadewa dan langit. Baru kali ini dia tersenyum gembira merasakan kehangatan kasih sayang di dalam sebuah keluarga. Dia sangat bahagia, ucapan Sadewa seperti terngiang-ngiang di telinganya.


“Raja, andai engkau mencintai ku” gumamnya.


Tangan sang ratu menarik tangan Sadewa agar memeluknya. Dia menanti-nanti sang raja membukakan hati untuknya. Garuda raksasan menapak kaki di halaman istana. Kedatangannya membuat para prajurit ketakutan. Melihat ada raja, ratu di atasnya, mereka memberi hormat.


“Selamat datang yang mulia, selamat datang ratu.”

__ADS_1


“Wah,wah.. engkau sudah menjadi pendekar cilik, paman sangat bangga pada mu langit.”


“Terimakasih paman Bara.”


__ADS_2