Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 56


__ADS_3

Keanehan sang raja membawa tabib Sicin ke istana, tepat sebelum memasuki ruangan kebesaran ada Ruti membungkuk memberikan laporan. Pernyataan keadaan sang ratu sudah membaik. Dia juga menyampaikan memberi pesan tidak boleh ada satu pun yang mengganggunya. Pikiran sang raja gusar, dia tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Memerintahkan sang tabib melakukan tugasnya, dia membungkuk memberi hormat kemudian mengeluarkan kotak pengobatan.


Cukup lama dia memeriksa sang ratu, berkali-kali mengerutkan dahi. Sang tabib meletakkan titik titik jarum akupuntur. Di salah satu jarum, ada jarum yang berisi sihir ying dan yang. Pengobatan tabib siskin tidak pernah berat sebelah. Penambahan keseimbangan energi dan melancarkan penyumbatan aliran darah di layangkan.


Sang ratu merasakan ada yang menyentuh kulitnya. Dia membuka mata melihat jarum-jarum halus membuatnya sulit bergerak.Raja menyentuh pundaknya agar tetap tenang, melihat tabib Sicin wajahnya berubah marah.


“Tenanglah wahai watu ku, tabib Sicin sedang mengobati mu” ucap sang raja.


Selesai melepaskan jarum, tabib itu di tendang sang ratu dari belakang. Sang tabib pasrah jika hari ini dia akan mati. Menyadari semua kesalahannya sangat lah besar. Raja membungkus tabib Sicin dengan elemen tanah. Baru kali ini raja yang berhati dingin padanya memeluk sang ratu erat. Kekuatan gumpalan yang melayang di atas telapak tangannya padam. Melepaskan sihir sebatas bagian pinggang, posisi sang raja masih menahan gerakan sang ratu.


“Ijin kan dia berbicara, katakan Sicin. Apa penyakit sang ratu?”


“Maafkan hamba yang mulia, hamba tidak menemukan penyakit apapun dari sang ratu. Tapi selamat yang Mulia__”


“Kau adalah tabib penghianat. Pergi kau dari istana ku!” usir sang ratu.


“Ratu, tolong redam kan amarah mu dan ijin kan dia berbicara. Aku yakin sekali Sicin salah satu punggawa yang setia” sanggah sang raja.


“Yang mulia ratu sedang mengandung”


Ucapan sang tabib terakhir kali yang dia dengar membuat sang ratu jatuh pingsan.


Raja menangkapnya, dia mengangkat ke kasur. Wajahnya tersenyum akan kabar baik itu. Atas hadiah bahagia yang dia terima, tabib Sicin di beri dekrit pembebasan dari perasingan di perbukitan ujung Piramida.


Sofar menggema di langit negeri Gurun, Kebahagiaan para punggawa jin, tangkla, rakyat dan para perangkat istana menggelar pesta besar-besaran. Kabar angin membawa sampai di telinga negeri peri. Mekar mematahkan kelopak bunga yang terdapat di dalam sebuah guci raksasa. Dayang utama yang membisikkan hal itu di beri tugas mencari tau kepastian kabar tersebut.

__ADS_1


“Ingat, kau jangan sampai di kenali jin gurun. Aku akan menutupi sayap mu dengan mantra selama beberapa hari.”


“Baik yang mulia..”


Dayang utama menunggangi kuda menyamar sebagai rakyat Kartanegara. Dia melakukan perjalanan selama tiga hari untuk sampai kesana dengan dua hari untuk menyelesaikan tugasnya. Kalau menggunakan sayap peri maka dia hanya membutuhkan waktu satu hari sampai di negeri itu.


Peri utama kehausan. Perjalanan ke negeri gurun sangat lah tandus melewati badai gurun pasir ganas. Sesampainya di depan gerbang istana, salah satu prajurit melihat dia menuruni kuda, sikap jauh berbeda mencurigakan pandangan prajurit melihat simbol aneh di bagian pinggangnya.


Peri utama menyadari simbol peri yang belum dia sembunyikan. “Gawat, aku bisa ketahuan!”


Prajurit itu mendekat, dia mengulurkan tangan yang mengarah ke benda tersebut. Peri itu menyihir pandangannya, kelopak serbuk yang berada di dalam kantung cukup di gunakan di situasi penting hanya tiga kali.


“Engkau boleh masuk” ucap sang prajurit.


Memasuki area kawasan pasar rakyat, di depan sana terlihat atraksi pertunjukan yang sangat meriah. Pesta rakyat di gelar menunjukkan gelak tawa keramaian suara yang kuat hingga salah satu jin yang dia tanya tidak mendengar suaranya.


Suaranya tenggelam di rebut suara keras tanpa henti. Sang peri utama meneruskan langkah, dia berhenti di salah satu kedai. Semua tempat penuh berdesakan, hanya kedai itu satu-satu yang sedikit sepi. Dia duduk di salah satu kursi kosong, memesan segelas air dan semangkuk mie. Menunggu pesanan tiba, pandangan mata menuju ke salah satu pengawal raja yang dia kenali.


“Gawat, jika Taga tau aku ada disini nanti aku di laporkan ke sang raja. Aduh bagaimana ini?”


Dia menutupi wajahnya dengan selebaran kertas pengumuman yang berada di atas meja. Suara yang tidak jelas berhenti, mata kanan sang peri menoleh sedikit melihat kehadiran sosok jin itu telah pergi.


“Huffht! Hampir saja kepala ku di penggal!” gumamnya.


Pelayan kedai membawakan pesanannya. Dia meletakkan di atas meja, peri itu mengucapkan terimakasih lalu segera meneguk air di dalam ceret batu. Tiba-tiba dia tersedak melihat bunga-bunag kecil yang bertaburan di atas mie. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, memasang posisi mengintai perlahan membuang mie ke bawah kolong meja. Namun, dari arah samping pukulan kecil mendarat di punggungnya.

__ADS_1


“Sepertinya aku mengenali mu”


“Oh, aku adalah seorang pengembara. Aku hanya singgah di kota raja. Kebetulan sekali, aku sangat tertarik melihat negeri ini. Heheh”


“Silahkan lanjutkan makannya.”


“Terimakasih.”


Sosok jin yang duduk di depannya tidak lain pengawal istana raja. Taga tidak melepaskan satu gerakan wanita itu. “kenapa tidak di makan?”


“Aku tiba-tiba sakit perut.”


“Apakah kamu alergi dengan bunga-bunga itu?”


“Tidak pengawal. Eh__”


“Ya, aku ini memang pengawal. Lebih tepatnya pengawal raja. Katanya pengembara kok mengenali ku?”


Dia tidak bisa menjawab perkataannya, apapun yang terjadi dia sudah pasrah di bawa menghadap sang raja. Peri utama menyatakan siapa dirinya sebenarnya, Taga tersenyum dia mengambil mendorong mangkuk itu.


“Habiskan makanan mu atau aku akan membawa mu menghadap ratu. Terakhir kali negeri peri membuat onar di istana. Apakah engkau sudah mendengar ceritanya?”


“Engkau sangat kejam Pengawal. Apakah engkau mau aku jadi pusat perhatian. Sama saja rakyat jin akan melihat sayap ku ini!”


“Kalau kau tidak mau, sebaiknya serahkan diri mu sendiri ke istana. Aku akan memantau dari kejauhan”

__ADS_1


Ancaman itu menggoyahkan sang peri. Dia terpaksa membeli segelas air itu lengkap dengan wadah mie. Sang peri membawa makanannya menuju ke perbukitan. Tepat di kaki bukit yang sepi, dia melahap habis mie dan menelan bunga-bunga yang merubah wujud aslinya. Sayap peri membentang, dia terbang di balik pepohonan. Sisa dua serbuk di dalam kantungnya, peri itu terpaksa menelan serbuk mengembalikannya seperti semula. Serbuk itu tidak setajam sihir dari sang ratu peri. Serbuk harapan yang hanya menghilangkan sayapnya tapi tidak dengan telinganya yang panjang meruncing.


Sang pengawal terbang, dia bertepuk tangan tersenyum melihat keputusannya. Dia melemparkan jubah miliknya, peri itu dengan cepat memakainya.


__ADS_2