
Sistem perangkat kepemerintahan yang baru di timbang atas dasar kesetiaan orang-orang yang andil membantu menegakkan negeri kembali. Raja mengangkat Dom sebagai panglima istana, akan tetapi tetap saja Sadewa sebagai peran Adipati yang posisinya tidak akan tergantikan.
Panglang alun-alun kini lengkap dengan para punggawanya. Raja menoleh ke arah Linjao. Dia menggenggam tangan, mengeluarkan perkataan yang sulit di keluarkan. Beberapa senopati menunggu suaranya yang tajam. Baru kali ini Linjao kikuk di hadapan sang raja.
“Perdana menteri, engkau sudah berdiri di depan ku kurang lebih satu jam. Tapi engkau tidak berkata apapun”
“Maafkan hamba yang mulia, hamba ingin menyampaikan hukum sesuai aturan negeri. Sesuai dengan pewaris tahta selanjutnya, sang raja harus memiliki keturunan untuk meneruskan tahtanya.Terlebih lagi pangeran Baseka bisa di jadikan penerus pengganti jika raja enggan menyuarakan pendapat rakyat”
“Apa? Jadi kalian akan menggeserku dengan memaksa ku menikah? Kalian akan menghasut Baseka menggantikan tahta?”
“Kakak, aku tidak ada kepikiran untuk menduduki tahta raja. Justru kehadiran ku kembali ingin berpamitan pergi mengasingkan diri. Aku ingin melepaskan semua urusan duniawi kak.”
“Baseka, apakah engkau sudah meminta ijin pada ibunda?”
“Saya yakin ibu suri akan menyetujuinya kak. Saya akan melakukan persemedian panjang di ujung perbukitan.”
Keyakinannya mendapatkan persetujuan dari ibu suri berbuah manis. Baseka, pergi di lepas tangisan dan pelukan oleh sang ibunda. Di dalam singgahsana sang raja memikirkan tagihan rakyat. Sampai saat ini dia belum menemukan pujaan hatinya. Batara menunggu kedatangan Adipatinya sambil menimbang putri dari negeri mana yang akan dia pinang.
“Hormat hamba yang mulia, saya minta maaf atas keterlambatan memenuhi panggilan. Ada banyak sekali urusan di negeri gurun yang harus saya selesaikan.”
“Berdirilah pati ku, saya mengerti beban besar yang ada di pundak mu. Saya ingin meminta pendapat mu mengenai suara rakyat. Tentu engkau sudah mendengar sebelum Linjao menyampaikan pada ku.”
Sadewa terdiam sejenak, dia mengusap dagunya. Pikirannya sependapat dengan suara rakyat namun dia sangat mengenal watak sang raja. Dia tidak mau sang raja menjadi salah praduga, maka dia menanyakan sebuah pertanyaan yang menjadi bumerang di hatinya.
__ADS_1
“Aku tau apa yang ada di dalam pikiran pati ku ini. Katakan saja, tentu aku tidak akan marah pada mu.”
“Hormat hamba yang mulia, saya sependapat dengan Linjao.”
“Ya, saya akan memikirnya lagi. Karena memilih pendamping terutama sebagai teman seumur hidup tidak semudah memetik bunga terindah yang ada di taman bunga. Oh ya, jika engkau berkenan maka sesekali bawa lah aku ke negeri mu. Aku juga ingin menjelajah waktu seperti mu pati Sadewa.”
“Istana gurun pasir terbuka untuk engkau yang mulia.”
Senyum tawa keduanya, sang raja menepuk pundak Sadewa sambil melirik sosok yang hadir di depan pintu. Tampak seolah setiap langkah sang pendekar tidak luput dari intaian sang ratu. Winan membungkukkan tubuh memberi hormat pada kedua raja itu. Kali ini para pengikutnya berbaris di belakang membawa tombak raksasa berwujud mengerikan.
Para pengawal yang berdiri di depan pintu masuk terkejut. Ada yang berlari bahkan ada yang beradu senjata menganggap mereka akan menyerang sang raja. Telapak tangan terngadah memberi tanda para penjaga itu berhenti berkelahi.
“Selamat datang ratu gurun, tampaknya langkah pati ku semakin pendek, dia sekarang memiliki pengawal pribadi di setiap detiknya. Ahahah!”
Celotehan raja Batara membuat Sadewa ikut tertawa terbahak-bahak. Dia berdiri menyambut kedatangan istrinya, kursi kebesaran dia siapkan terlihat sang raja mulai terbiasa dengan kehadiran sang ratu.Mula-mulanya perasaan ini kosong melompong. Tumpahan, guyuran air hujan tidak menyurutkan langkah sang ratu menjemputnya pulang. DI tetapkan lusa sang raja akan berkunjung ke perut bumi.
“Ayah! Ibu!”
Para pengawal ketakutan, paruh burung elang yang seolah siap merobek mangsanya. Cakarang dari atas langit menapak di halaman istana. Prajurit mengepung menyodorkan senjata. Keributan di halaman istana di laporkan oleh sang penjaga.
“Menghadap yang mulia, kami melaporkan sosok hewan raksasa yang membawa anak kecil di atasnya.”
“Raja, jika engkau memerintahkan maka hamba akan mengerahkan ratusan pasukan untuk menangkapnya” ucap Dom.
__ADS_1
“Tidak, biar aku saja yang menanganinya.”
Siapa yang menyangka di depan sana ada langit melambaikan tangan di atas hewan kesayangannya. Elang raksasa yang menapak di atas tanah mengibas angin. Manusia yang tidak kuat menopang tubuh, terhempas terjatuh melepaskan senjatanya.
Langit enggan naik kereta kencana, diaa berjanji akan menyusul bersama si elang raksasa. Kepergian para penguasa yang di ikuti para tangkla itu di lirik oleh katua sekutu hitam. Mematikan musuh bukan berrati terlepas dari bahaya. Musuh yang lain mengincar mengumpulkan kekuatan yang besar, rencana mereka tetap sama.
Menjatuhkan lawan, tidak senang sedikit saja melihat lawan berleha sedikit pun. Ketua sekte hitam menghasud para makhluk lelembut agar menyerang istana Kartanegara. Semua itu di bawa pimpinan Albet, dia meramu mantra pemanggil iblis, jin agar menyerang menggunakan umpan darah manusia.
Kejadian insiden rakyat yang tiba-tiba menghilang tidak terlepas dari perintahnya. Pada malam yang larut, rayat yang berada di bagian timur di hebohkan oleh penampakan makhluk mengerikan yang mengeluarkan dua taring panjang. Suara teriakan minta tolong, anak-anak mereka di curi.
Penjaga perbatasan timur, gusti Jaka melawan mereka namun kekuatan mereka lebih besar hingga dia mengalami luka parah. Dia di bawa oleh para prajurit, tabib istana Sicin memberikan penawar racun langka. Sang raja menerima laporan dari Dom, dia menggeleng kepala tidak menyangka makhluk halus sebangsa dirinya menjadi musuh Kartanegara.
“Andai saja aku tidak berubah jadi jin.. tapi ini sudah menjadi suratan yang Maha Esa” gumamnya.
Siang hari di pasar Kartanegara
Surya mendengar pembicaraan dari para pedagang. Kerusuhan tadi malam yang meresahkan kampung, dia meletakkan cangkir batu lalu menoleh ke salah satu penjual makanan. Surya mendekati ke penjual dan kerumunan orang-orang tersebut.
“Permisi, saya mau bertanya. Makhluk apa yang kalian katakan tadi?"
“Makhluk sebangsa lelembut.”
“Sepertinya tidak, dia pasti iblis. Tetangga ku sendiri yang melihat anaknya di bawa sosok mirip gendoruwo.”
__ADS_1
“Kampung ini jadi resah.”
Ucapan para warga mengurungkan niat Surya kembali ke istana. Dia ingin melihat sendiri sosok yang mengganggu Kartanegara bagian Timur. Kali ini dia berjaga di depan pintu masuk. Tepat di tengah malam, udara dingin berhembus. Angin kencang menerbangkan ranting pepohonan suara makhluk aneh mulau terdengar. Para rakyat bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Anak-anak mereka di dekap erat, pada malam itu kerusuhan kembali terjadi.