
Raja-raja yang bertahta tidak jarang memiliki ilmu kanuragan. Benteng pertahanan diri, penjaga wilayah tanah tempat tertumpu dan kekuasaan yang tidak di rampas penjajah. Para raja memanfaatkan suku lelembut, ilmu ghaib yang di dapat dari persemedian dan segala ritual sebagai persembahan memakan korban. Sekte hitam telah Berjaya dari masa ke masa, mereka memanfaatkan kelemahan raja yang haus akan kekuasaan dengan mengiming-imingi ilmu penjagaan.
Senjata sakti yang di keluarkan dari perut bumi, hasil pemujaan iblis melalui ritual sekte hitam. Salah satunya adalah kerajaan yang kembali tegak berdiri . Pemimin sekte hitam mengelabui para jin maupun manusia yang melintas di jalur segita. Di antara pertigaan lautan dan daratan pertigaan, mereka membangun sarang istana menjulang tinggi hingga mencakar langit.
Pasukan khusus peracik ilmu hitam di bawah kekuasaan raja Yetno beralih di bawah pimpinan ketua sekte. Gupta menyadari kedatangan para pasukan khusus raja yang telah lama menghilang itu atas campur tangan sang ketua sekte merompak kekuatan Karatanegara. Albet tewas tepat di bawah kaki sang ketua. Para anggota menyemai sihir menghanguskan tubuhnya begitu saja. Dia sudah dua kali melakukan moksa, namun kematiannya tidak bisa di elakkan.
Udara panas, lolongan serigala menyemai keganasan berupaya memecah cahaya rembulan yang di telan malam, para penganut iblis bersatu membentuk kekuatan hitam. Raja selat kalimun menyususn rencana baru, empat mata di depan pemimpin ketua sekte. Memberi umpan melalui sosok anak kecil yang familiar di mata tabib Sicin.
“Linta iblis, lakukan tugas mu dengan baik. Tidak ada terkecuali untuk memusnahkan lawan.”
“Baik tuan ku”
Anak kecil itu di jadikan alat bagi ketua sekte. Dia hanya mendengar, mematuhi semua perintahnya. Salah satu anggota membawa plastik hitam menetes darah beraroma amis. Dia melemparkan beberapa potong daging. Sosok anak kecil itu menangkap kemudian melahapnya rakus. Cara makan bagai hewan liar di dalam hutan. Si ketua sekte tertawa lalu menunjukkan sebuah pedang padanya.
“Lintah iblis, kau harus menyelesaikan tugas mu dengan baik. Kau tidak mau berakhir di tangan ku kan?” ancamnya.
Pembangkitan jalur api abadi
Kedatangan raja jin iblis di sambut meriah para pengikutnya. Banyak pengikut yang mengorbankan diri Merasa bahagia telah berkorban pada iblis. Sukma Nuraya di Sandra, dia di jadikan budak atas persembahan Wicak suaminya. Tidak ada yang di dapat malah betuntun membawa musibah, rintihan tangisan kesedihan berkepanjangan.
__ADS_1
Ritual pembangkitan makhluk halus membuka kesenangan para iblis. Negara-negara yang tegak berhasil berperang di bantu sosok yang tidak terlihat.
Sumpah iblis mengganggu para penduduk bumi. Menjelma menjadi sosok yang sangat baik memberi kebahagiaan bersifat sementara.
“Celakalah, siapa yang membangkitkan iblis terkutuk di dalam perut bumi?” ucapan para cenayang pura mendongak wajah melihat perubahan langit berwarna merah.
Di atas istana langit bagian Barat tersusun kepala tengkorak bentuk melingkar. Sekte hitam ,negerara api dan wilayah negara penggerak kekuatan kebadian menyalakan kekuatannya. Dari zaman ke zaman, yang paling di takuti adalah negara api. Terakhir kali berhasil menaklukkan negeri kutub utara. Rotasi kehidupan keseimbangan alam hampir musnah.
Perbedaan pada mas kini, kedatangan pendekar Sadewa mengusik ketenangan para sekutu. Argo kehilangan setengah kekuatan api. Dia memerintahkan dedemit merah agar mengganggu negeri gurun. Tidak perduli sang ratu Winan akan menghabisi sebagian pasukannya. Argo mau memberikan perhitungan. Lima ratus pasukan dedemit menyerbu kota raja, keempat elemen tangkla mencabik rakyat jin. Suara kesakitan jeritan membuyarkan persemedian Sadewa.
Pedang senjata peonix terakhir masih di tanah di alam lain. Batu besar menahan pedang di dekat gua raksasa. Kali ini Sadewa menolak keras sang ratu andil di dalam pertempurannya.
“Ahahah! Siapa penguasa yang berani menghina engkau kakanda?”
“Engkau tidak boleh menghukumnya ratu ku. Aku yakin lontaran penguasa bersifat kekanak-kanakan yang iri meminta perhatian dari ratu negerinya” senyum Sadewa mempersiapkan perlengkapan perang.
“Aku tetap menghukum siapa saja yang tidak mematuhi penguasa negeri gurun.”
Kebutuhan sang raja di persiapkan oleh sang ratu. Dayang pendamping tidak di perbolehkan menyentuh apapun hal yang di butuhkan sang raja, ratu sendiri yang memenuhinya. Dia memperingatkan pada para dayang agar tidak mendekati. Winan melihat sebuah tusuk konde melilit di kalung sang raja. Dia menyembunyikan rasa marah.
__ADS_1
“Raja, kali ini engkau jangan menolak ku.”
Winan melepaskan cincin saktinya ke jari tengah Sang raja. Pandangan Sadewa merasa iba pada sosok jin yang selalu menjaganya dan anaknya. Kemarin dia memberikan gelang sakti berbentuk ular untuk Langit.
“Terimakasih ratu Gurun. Do’akan aku semoga memenangkan pertempuran ini.”
Tidak bisa di hindari, setiap raja yang pergi berperang. Para ratu melihat punggung pemimpin yang menutup pintu seakan sebuah kepergian untuk kembali atau pergi selamanya. Para ratu yang kuat menyembunyikan kesedihan, ratapan dan tangisan. Kebanyakan ratu yang pesimis menganggap tanah kekalahan membanjiri dunia lara. Kematian mengakhiri diri, mengetahui kerajaan akan runtuh. Ratu Winan menyalakan sinyal kekuatan roh pembangkit. Tangka api menyalakan sinyal penguasa. Winan ikut andil merasa roh iblis melanda negeri. Dia membangkitkan mayat hidup, memerintah serbuan dari ketua sekte.
Ratu Peri ikut andil membantu raja gurun. Dia memanggil para pasukan melawan. Pengawal pendamping Poppy mengerahkan anggota serbuk bunga.
“Kenapa ada ratu peri disini?” gumam Argo.
Sayap peri bersayap berguguran di udara.
Ratu peri Mekar melihat musuh menyerbu Kartanegara. Di dalam menara, Winan mengerahkan seluruh kekuatannya. Cahaya terik menjelma merasuki bala tentara agar memberantas musuh. Sedang sang ratu peri bersayap menghidupkan sinyal kekuatan bantuan di dalam Samudra Mustika.
“Mundur! Mundur semuanya!” perintah Raja Argo.
Serangan sekutu dan musuh lain ikut menyerah meninggalkan Kartanegara. Sorak kemenangan, kebahagiaan para prajurit dan punggawa lainnya. Rata berdiri di depan halaman istana, di sampingnya ada ratu peri Mekar. Seluruh perangkat istana tunduk membungkuk begitu pun pengikut sang ratu. Suara angin yang menyapu halaman istana. Kedatangan sang ratu menggeser letak posisi ratu Peri yang terlalu mendekati sang raja.
__ADS_1
“Mulai hari ini, urusan kita akan berlanjut” bisik Winan.