Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 60


__ADS_3

Masuk ke dalam tanah mencari jejak Poppy.


Jejak kaki mengarah ke ruangan sel tahanan peri. Tidak ada tanah tempat berpijak, Rakum akan ketahuan jika memaksa masuk ke dalamnya. Di sekeliling di penuhi air mendidih bergelombang tinggi. Para penjaga sel tahanan hanya terbang berpatroli di atasnya.


“Gawat, kalau Poppy sampai besok disana. Dia akan tewas” gumam Rakum.


Sosok tangkla tanah kembali ke negeri gurun menunggangi kuda jin. Dia memberitahu kepada para tangkla lain. Hanya tangkla air yang sulit untuk di temui. Rakum menghidupkan sinyal darurat di depan pintu gerbang Selatan. Penjaga Tatan menangkap sinyal itu, dia memberitahu pada sang ratu sibuk menguliti tubuh para prajurit api hasil pancingannya hari ini.


“Pergi lah perwira Malaka, aku akan menyusul mu jika sudah puas menyiksa mereka. Ahahah” ucap sang ratu.


“Baik yang mulia.”


Kalau satu-persatu peri-peri penting yang mengabdi selama ribuan abad lamanya pergi dari negeri cahaya itu lalu siapa lagi yang menjaga perdamaian negeri?


Ratu peri Mekar memancing musuh menemui Poppy di dalam tahanan. Sesuai rencana yang dia susun sendiri. Mengetahui sang pengawal pendampingnya menjadi bagian dari musuh sama jadi menentang kehendaknya. Tidak ada yang tidka mungkin bagi Poppy sekalipun hanya berita angin semata. Di hadapannya semula dia membungkam dan menutupi kenyataan dayang utama.


Para tangkla pergi ke negeri peri tanpa seijin raja. Mereka menyusup menemui sang pengawal peri di dalam lautan api. Suara tepuk tangan meriah, sambutan ratu peri berdiri menepis gaunnya yang menutupi kaki. Peri ratu cahaya tidak menapak di tanah, sayapnya tetap kokoh menerbangkan tubuhnya.


“Kau bukan ratu peri Mekar” bentak Poppy melepaskan sendiri rantainya.


Tubuhnya sangat lemah, sayapnya rusak parah. Sang pengawal menyerang dengan serbuk peri racun. Hembusan senjata kembali ke Poppy, Rakum melenyapkan kekuatan itu berganti penyerangan membanting sang ratu. Tidak bisa di pungkiri kekuatan negeri gurun dua kali lipat dari kekuatan jin pada umumnya.


......................

__ADS_1


“Paman Sicin! Paman! dimana kau? jangan lupa janji mu hari ini mengganti perban yang membalut tubuh elang ku!” panggil Langit.


Bara tidak ada di ruangannya, hanya dia yang di perbolehkan masuk hingga ke dalam ruangan rahasia. Langit bertanya pada salah satu penjaga, dia mengatakan melihat Bara menuju ke Altar istana. Tapi sesampainya disana, tempat itu sangatlah sepi. Mengingat pesan sang ayah tidak boleh keluar istana tanpa seijinnya, dia yang masih kesal terpaksa berbicara memohon keluar istana mencari sang tabib. Kedatangan Langit menerobos para dayang yang sibuk mendandani sang ratu. Sosok jin yang tetap menyayangi putra tirinya itu hanya tersenyum melihat wajahnya yang cemberut.


“Ada apa ananda? Ayah mu sedang pergi ke negeri seberang. Ada urusan negera yang harus di selesaikan.”


“Huuhh, percuma aku minta sama ibu pasti nggak di kasih. Aku pergi saja”


“Maafkan putra mahkota yang mulia, dia hanyalah seorang anak kecil” ucap dayang pendamping mengaitkan suasana.


Sang ratu meletakkan sisir di tangannya. Dia beranjak dari kursi mendekati Langit yang berjalan semakin menjauh. Dia mengikuti langkah kecilnya dari belakang, Langit menoleh terhenti mendengar sang ratu terbentur pilar di dekatnya. Para jin dayang tau, sang ratu sengaja menyakiti dirinya untuk mencari perhatian pada sosok langit.


“Ibunda, aku minta ijin keluar dari istana” ucap langit sambil melipat kedua tangannya.


“Boleh, asal ibu ikut dengan mu. Ayahanda sedang tidak ada, engkau sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu.”


Istana yang kosong itu di jawa oleh arwah ular, jin ular dan suku dedemit iblis di bawah pemerintahan Fir’aun. Meski singgasana sedang kosong, tidak ada satu jin pembesar yang berani macam-macam. Sang ratu menitipkan istana pada sosok penjaga sang raja yang dia bawa dari alam dunia, tubuh sang wanita tua itu bergetar tidak sanggup menerima tugas yang sangat besar.


“Maafkan hamba yang mulia, hamba hanyalah seorang manusia yang tidak memiliki kekuatan apapun” ucapnya gemetaran.


“Mbok, tugas mu hanya patroli di istana. Kirim kan sinyal di udara agar para penjaga ku tau ada gerakan musuh”


“Ba_baik yang mulia..”

__ADS_1


Berkendara menaiki kereta jin yang berbentuk ular raksasa. Berkendara sampai ke negeri peri, ternyata sang tabib berada di perbatasan negeri peri. Langit melambaikan tangan, sang tabib membungkuk ketakutan melihat sang ratu pasti akan menghukumnya.


“Maafkan hamba yang mulia, hamba mendengar para tangkla sedang menyelamatkan Poppy. Hamba sangat khawatir dengan Bara, jadi hamba kesini__”


Tabib Sicin menceritakan tanpa terlewatkan, Langit menarik tangannya naik ke kereta ular. “Aku sudah mengetahuinya.”


“Ibu, bolehkan tabib ikut pulang?”


“Ya, engkau pulang lah bersama sang tabib. Ibu masih ingin melihat kekacauan apa yang terjadi di negeri peri.”


Hawa aroma negeri api bercampur iblis menyala di langit peri cahaya. Kekuatan besar beradu di penjara lautan panas. Ternyata wanita penggoda yang hampir menduduki tahtanya bukan lah seutuhnya sang ratu peri, dia bekerjasama dengan kegelapan agar bisa mendapatkan keinginannya.


“Ratu peri mekar gila itu tidak tau berhadapan dengan siapa. Kegelapan tidak bisa mengalahkan kegelapan yang hampir menganggap dirinya dewa. Kenapa dia tidak terkubur saja dulu bersama Fira’un? Gumamnya.


Winan berdiri di atas ular raksasa hijau. Cahaya di atas kepalanya menyerang sang ratu peri. Tubuhnya berubah, sayapnya menghilang, jari jemari panjang dan rahang mengeluarkan makhluk-makhluk aneh di dalam.


“Ahahah!” tawa nyaring Mekar.


Kekuatan sang ratu Winan menurun, dia sedang mengandung sehingga tidak bisa mengeluarkan tenaga dalam. Para tangkla membawa sang ratu dan popp kembali ke istana gurun. Mekar mengejar sampai ke perbatasan. Tiga elemen tidak cukup kuat membentuk lapisan dinding pertahanan. Winan tidak bisa membangkitkan makhluk penjaga di dalam makam Fir’aun. Dia tidak mau raja yang telah meninggal itu mencium aroma darah daging bayi yang ada di dalam kandungannya.


Benteng pertahanan di pecahkan, sang ratu Banyuwangi tiba menggulung tsunami mengusir Mekar. Empat kekuatan elemen bersatu. Perbatasan di tutupi elemen jin di tambah sihir hitam dari ratu Bayuwangi. Mekar tidak bisa menembusnya, dia berjanji akan kembali dan meluluh lantakkan negeri gurun. Pencurian tahan pengawal pendamping Poppy dia sebar ke seluruh negeri. Banyak para pemimpin negeri yang salah paham tidak mengetahui duduk masalah menyalahkan raja gurun menggunakan tahta menindas kaum jin bercahaya.


Kesinambungan memimpikan kebahagiaan nyatanya di dapat dengan tumpahan keringat, kesakitan, luka dan air mata. Negeri peri cahaya terancam kepunahannya.

__ADS_1


Ratu Banyuwangi menunduk memberi hormat pada ratu Gurun. Dia meminta ijin kembali ke negerinya. Sosok peran tangkla air gurun pasir itu juga memberikan ucapan selamat pada sang ratu. Dia memberikan sebuah hadiah yang membuat semua tangkla terkejut.


__ADS_2