
Para sekte hitam dan pengikut anak iblis mengitari Seza. Sosok sang ratu peri sekarat, sayap mengering. Sekitar bibirnya pecah-pecah kehausan berhari-hari di siksa. Di tengah pengucapan mantra perpindahan kekuatan ke tubuh iblis yang berkuasa di negeri peri, gumpalan air tinggi menenggelamkan mereka terbawa seretan air yang bergelombang. Pusara yang di ciptakan Banyuwangi di redam salah satu iblis menggunakan lemparan bola api.
Di dalam ruangan kebesaran sang raja Sadewa menerima laporan panglima ketiga menyerang istana negeri api. Sang raja segera memerintahkan bala tentara dan para tangkla membantunya. Ruti dan Taga di utus menjaga istana Gurun selagi dia pergi. Winan hadir membentuk pasir yang menyerupai tubuhnya, dia meletakkan tongkat peninggalan Fir’aun di tangannya.
“Lepaskan ratu Seza!” ucap Batara yang telah berubah menjadi raksasa.
“Rupanya kau manusia yang bernyali besar. Apakah kau tidak takut mati?” ucap Argo.
Dia mengeluarkan gumpalan bola-bola api di tangannya. Serangan ke tubuh Batara, tangannya menepis namun api biru berhasil membakar lengannya. Dia terjatuh, tubuhnya yang sangat besar mengakibatkan getaran hebat di atas tanah jin. Pandangan Seza buram melihat Batara kesakitan.
Argo tidak tanggung-tanggung berupaya melenyapkannya. Seza menggunakan kepakan sayapnya memadamkan api yang terlempar ke tubuh sang raja. Amarah Argo memuncak, dia membakar sang ratu peri Kartanegara itu. Tapi tubuh raksasa Batara menutupinya.
“Raja!” lirih suara Seza.
Banyuwangi mengucapkan mantra sihir hitam. Dia ingat sekali bayangan di depan pelupuk mata bagaimana kematian ayahnya raja jin air terdahulu mati di tangan para penguasa api. Tetesan darah miliknya sendiri membentuk sebuah pedang raksasa dari air bercampur api merobek ujung lengan Argo. Bantuan hadir dari para tangkla lain ikut mengeluarkan kekuatan hebat mereka menyerang para anggota sekte hitam.
Sadewa menggunakan ilmu empat elemen berhasil mengeluarkan Seza. Dia memerintahkan Batara agar membawanya pergi.
“Terimakasih raja Gurun.”
Sadewa menggunakan tongkat Fir’aun menghentakkan senjata itu ke tanah. Dari dalam tanah muncul makhluk-mahkluk mitologi berujud setengah arwah mengunyah tubuh pengikut jin api. Suara retakan tulang belulang bersamaan nyala api di tubuhnya yang padam. Argo tidak terima melihat setengah pengikutnya tewas, dia mengeluarkan kekuatan api abadi dari iblis membunuh makhluk-makhluk itu. Tubuhnya melebur menjadi tanah, tapi hal yang tidak di duga muncul makhluk lainnya bersamaan makhluk yang telah melebur tadi berwujud kembali.
Iblis tetap bertahta, kekuatannya bisa mengimbangi hentakan senjata milik sang raja yang jasadnya terkubur di bumi. Sadewa mengeluarkan Sentara pamungkas peonix membelah langit menjatuhkan benteng pertahanan para sekte dan pengikut iblis bermata satu.
__ADS_1
“Mundur!” ucap Sadewa.
Para tangkla menghilang, begitu pula Sadewa kembali ke ruangan kebesaran. Dia menekan bagian jantungnya. Rasa sakit bagai tertusuk seribu pedang yang sangat tajam. Winan membantunya menuju ke kasur permadani.
“Raja, engkau terlalu banyak mengelurakan makhluk mitologi dari tanah. Penggunakan sejata Fir’aun cukup satu kali karena setengah tubuh manusia tidak akan sanggup menahan daya tarikan kekuatan yang sangat mengerikan”
“Maafkan aku ratu ku. Keadaannya bertambah kacau, kekuatan besar mereka harus di imbangi. Setidaknya kami berhasil menyelamatkan ratu Seza.”
Penjemputan tabib Sicin dari dalam perut bumi mengabarkan kondisi sang ratu peri Kartanegara memburuk. Serbuk-serbuk peri, sayap layu mengering dan tubuhnya kaku. Sang tabib di jemput menggunakan kuda jin. Pada malam itu hujan deras turun, petir menyambar, Banyuwangi merasakan nyawa sang ratu Seza sudah berada di ujung tanduk.
Sesampainya di istana, sang tabib melihat sang ratu sangat krisis. Baru kali ini tangannya bergetar, mengeluarkan kotak peralatan medis memeriksanya.
“Maafkan hamba yang mulia, hamba tidak bisa menyelamatkan sang ratu. Bahkan ramuan ini saja hanya bisa mengembaikan kondisi tubuhnya selama beberapa jam. Racun yang di minumkan di negeri api telah merusak dan membekukan seluruh peredaran darahnya.”
Batara mengguncangkan tubuhnya.
Banyuwangi meminta ijin memasuki ruangan kebesaran, dia memberi hormat . Tidak biasanya sang ratu air hadir di kerajaan itu.
“Yang mulia, asal ratu Seza adalah negeri peri. Beliau harus di obati disana. Hamba siap membantu membawanya ke negeri peri tanpa di ketahui oleh bangsa jin peri lainnya.”
Batara sedikit ragu mendengar perkataannya. Dia tetap mengikuti sang tangkla air membawa Seza ke negeri peri. Dinding lapisan negara peri di lapisi api biru, ratu peri iblis menggunakan kekuatan iblis bermata satu menutupi negeri cahaya itu agar tidak ada satu jin dari negara luar menerobos masuk. Banyuwangi membentuk air berselimut api biru seperti bulatan yang sangat besar. Melihat Batara kesulitan menerobos pintu, dia meminta sang raja masuk ke dalamnya.
“Raja, perhatikan sayap ratu Seza agar jangan sampai terjatuh. Jika tidak api ini akan membakarnya menjadi debu.”
__ADS_1
Dia kesulitan menyeimbangkan tubuh. Bekas pertempuran melawan raja api membuat luka bakar di lengannya melebar. Berhasil melewati pembatas, Banyuwangi terbang menggunakan mantranya menangkap salah satu peri yang terbang di area bukit berbunga.
“Stthh! Jangan berisik! Atau aku akan mematahkan sayap mu” ancam Banyuwangi melotot menariknya.
Di sebuah gua dekat perbukitan hijau, Peri yang di bawa Banyuwangi melihat dayang utama pendamping sang ratu peri cahaya. Dia sangat mengenalinya. Peri bersayap coklat itu mengeluarkan segenggam serbuk dari dalam kantungnya. Dia menaburkan ke sayap Seza.
“Aku akan segera kembali, dia membutuhkan lebih banyak serbuk bunga penawar racun.”
“Hei tunggu! Ingat ya, jika kau melaporkan pada ratu mu maka aku langsung mematahkan sayap mu!” ucap Banyuwangi.
Sepanjang perjalanan sang peri bersayap coklat terasa gamang. Dia ingat pengumuman dari istana atas pencarian peri penghianat. Hadiah yang di berikan berupa jabatan menjadi salah satu punggawa di istana dan mendapatkan lading serbuk bunga cahaya.
“Aku harus bagaimana? Posisi dan serbuk itu sangat penting bagi ku” gumamnya.
Dia memasuki area serbuk bunga cahaya, menggunakan simbol kenegaraan negeri peri. Kantungnya yang telah kosong itu di isi sebanyak-banyaknya. Salah satu penjaga serbuk menahan tangannya yang mengambil satu kantung kosong lagi.
“Berapa banyak serbuk yang ingin kau ambil lagi? Cepat letakkan kembali kantung kosong itu!”
Sang penjaga mencurigai gelagatnya, dia mengikuti peri coklat sampai ke sebuah gua bebatuan dekat padang rumput hijau. Sosok penjaga peri itu berhenti melihat di dalamnya ada dua bangsa jin dan sosok peri dayang utama. Dia segera terbang mengabarkan ke ratu peri cahaya. Berpikir akan mendapatkan imbalan atau hadiah besar. Sang penjaga itu di cambuk, dia di kurung ke penjara peri.
“Hanya aku yang menghabisi mereka! Ahahah” ucapnya terbang mencari sang dayang.
Peri coklat menaburkan seluruh serbuk miliknya ke sayap Seza. Perlahan dia membuka mata. Batara tersenyum, Banyuwangi merasakan ada sosok lain berada di atas bebatuan. Dia memasang posisi berjaga. Seza di bungkus ke dalam sihir air miliknya. Saat akan menyerang sang ratu peri, dari balik bebatuan muncul sosok peri pura menarik mereka masuk ke dalamnya.
__ADS_1