
Merasa dirinya sudah mendapat perlakuan yang tidak adil. Pengkhianatan, kebohongan dan kejahatan dari Adika, Lintani mengangkat pisau bersiap menusuk perutnya. Sadewa menghalangi tindakan membunuh dirinya sendiri itu. Lintani tetap bersikeras mengukuhkan keinginan, dia tidak mau terjebak atau mengalami penderitaan lebih panjang.
“Lepaskan aku! Biarkan aku mati!” pekiknya dalam tangisan.
“Kau tidak boleh membunuh diri mu dan anak mu, aku akan membantu mu Lintani” ucap Sadewa.
Mbok Rongya hanya bisa mengelus dada, kelakuan Adika membuatnya sakit-sakitan. Pengurus yang sudah bekerja selama puluhan tahun itu seperti telah gagal mendidik Adika, anak majikannya yang selalu berbuah ulah.
Gupta di dalam persembunyian mendengar keluhan yang di sampaikan mbok Rongya melalu surat yang dia kirim, Keputusan Sadewa mengurus anak dari saudaranya itu membuat amarah Gupta meledak.
“Aku harus keluar agar bisa menghajar anak itu. Dia telah lupa kesalahan pada Dewi Bahati kini berbuat ulah menggunakan ilmu sihir hitam untuk kesenangannya belaka!” ucapnya pada salah satu abdi dalem.
“Tuan tidak bisa sembarang keluar, sesuai pengumuman dari raja Sarang laba bahwa seluruh pembuat sihir, ramuan, pedang Maupun rakyat Kartanegara akan di jadikan tahanan”
Sisa para masyarakat Kartanegara mengungsi di wilayah bekas jajahan. Sebagian dari mereka menyamar sebagai warga asing hingga warga Sarang laba yang mendata diri mengganti keterangan hingga memusnahkan semua benda mengenai Kartanegara.
“Semua orang berusaha melindungi diri dari kejahatan Sarang laba, tapi kenapa kediaman Gupta tidak tersentuh sedikit pun?”
“Menurut para penyihir lain karena rumah itu terjaga dari sihir tinggi”
“Aku juga pernah mendengar kisah dua anak yang mempunyai dua ilmu bertentangan.”
“Tapi ada juga salah satunya yang memiliki ilmu sihir yang empuni.”
Suara bisikan para rakyat di pasar membicarakan keluarga Gupta yang masih menjadi misteri. Beberapa pengawal setiap hari masih melakukan patrol di sepanjang bekas reruntuhan Kartanegara. Hari ini tanpa sengaja dua prajurit mempergoki Yuri sedang mencari ramuan sihir di tengah hutan. Karena merasa terancam, untuk pertama kalinya Yuri menggunakan sihirnya untuk membunuh orang. Menjerat leher kedua prajurit dengan menggerakkan akar pohon gantung.
Prang__
__ADS_1
Suara bantingan ceret bersambung hentakan kakinya. Si manusia tengkorak mengerang tidak terima mendengar kabar yang di sampaikan oleh salah satu prajurit.
“Kurang ajar! Wanita itu harus membayarnya!”
Si manusia tengkorak menyusuri hutan mencari jejak terakhir kali si pembunuh berada. Dia menggunakan seluruh kekuatannya sampai dia melihat Yuri berdiri tepat di depan kediaman Gupta.
“Ahahah, akhirnya aku bisa menemukan mu! terimalah kematian mu! hiya!”
Serangan si manusia tengkorak beruntun hantaman dari Nyi merah. Dia hampir tidak bisa menepis dan menghindari setiap serangan dari dua orang tersakti di Sarang laba itu. Lintani melihat keributan di depan halaman, dia membantu Yuri walau gerakan ilmu bela dirinya lambat karena usia kandungan menginjak tujuh bulan.
“Arghh!” tebasan mengenai lengan Lintani.
“kakak! Serangan beracun itu akan menyebar ke pembuluh darah mu. Aku harus mengikat lengan mu sekuat-kuatnya, tahan rasa sakit ini kak”
Di sela mengobati Lintani, Yuri juga harus berjuang menjaga pertahanan keduanya agar tidak terkena serangan mematikan. Si mbok mengingat pesan Sadewa, menabur serbuk di dalam kantung berwarna hitam yang sudah dia persiapkan untuk menutup rumah Gupta.
Meras a terdesak, di depan rumah Gupta di kepung pasukan Sarang laba. Yuri membawa Lintani masuk ke dalam hutan, sebuah gua yang tempat persembunyian adalah tempat terakhir berharap tidak ada satu pun yang mengikuti.
Sekuat tenaga Yuri mentransfer tenaga dalam kekuatan ilmu sihir putih ke tubuh Lintani. Rasa kekhawatirannya sangat besar mengingat membunuh dua orang prajurit Sarang laba menggunakan sihir ilmu putih.
“Apakah ilmu ku masih bisa di gunakan?” gumamnya.
Sobekan lembar kitab ilmu putih Empuni.
Lenggo geni dari ke empat elemen tercipta di antara gelap dan terang. Kekuatan Laduni akan terbakar seumpama jiwa manusia yang di penggal paksa. Membunuh sebuah nyawa adalah kesalahan meskipun di gunakan sebagai benteng pertahanan diri tetap saja tangannya telah mencabut paksa nyawa manusia.
Pada bab ilmu sihir putih, sebab dan akibat akan tercipta dari dirinya sendiri. Jiwanya akan termakan dirinya karena telah ingkar memilih kekuatan ilmu yang dia pilih sebagai kebaikan dan kebajikan. Setetes saja air jernih terkena tinta hitam maka semuanya akan menyebar kelam.
__ADS_1
Yuri menutup mata dengan pesan terakhir kali meminta Lintani menyampaikan kata maaf untuk kakaknya Sadewa.
“Tidak! Yuri! Hiks” jerit Lintani.
Seluruh ilmunya sudah habis, racun manusia tengkorak menghilang setelah sisa ilmu sihir putih Yuri masuk ke tubuh Lintani. Dia membawa jasad Yuri pulang, tangisan mbok Rongya melihat kematian anak angkatnya itu sampai terdengar di dalam pertapaan Sadewa.
“Apa yang terjadi dengan keluarga ku? Yuri, mbok” gumam Sadewa menghentikan pertapaan.
Rumah porak-poranda, jasad Yuri terbujur kaku. Para pasukan Sarang laba datang beriringan menyerbu sampai Lintani dan mbok Rongya terbanting tepat di dekatnya. Jurus empat elemen dalam sekejab menghancurkan semua pengawal dan pasukan sarang laba.
Amarah Sadewa memuncak melihat si manusia tengkorak dan Nyi merah tersenyu menyerang. Kali ini dia membuka senjata pamungkas peonix, dia menarik pedang keramat itu dari dalam batu raksasa.
Menusuk perut Nyi merah, angin berhembus kencang dalam tetesan darah di tubuhnya pedang Sadewa berlanjut memenggal leher Nyi merah. Kepala yang terlepas itu di bakar menggunakan elemen api sihir Lenggo geni.
“Nyi Merah!” teriak si manusia tengkorak.
Sadewa membuat pelindung pembatas kediaman rumah Gupta. Pada hari itu setelah melihat kematian adik kesayangannya, dia mengeluarkan semua kekuatannya secara habis-habisan membuat gempa bumi berkepanjangan.
“Mundur!” perintah pangeran Gani yang baru saja tiba.
Manusia tengkorak terpaksa mengikuti perintah, dia membawa jasad Nyi merah. Para pasukan sarang laba ketakutan melihat air menggulung tinggi seolah pada hari itu kiamat telah tiba.
“Kak Sadewa hentikan kak, semua orang yang tidak bersalah akan ikut menanggung derita” ucap Lintani.
Pria sejati tidak akan menangis meskipun mendapatkan kepahitan hidup yang besar. Tapi Sadewa tidak bisa menahan rasa sedih melihat adiknya tiada. Dia menyurutkan semua sihir dan ke empat elemen menjadi normal kembali. Sadewa mengebumikan jasad adiknya di halaman belakang rumah. Bunga mawar putih adalah bunga kesukaannya. Sadewa menanam bunga itu di dekat makam sang adik.
“Aku akan menghabisi orang-orang yang menyakiti mu dik” batinnya.
__ADS_1
Dia bertekad meratakan wilayah Sarang laba sebagaimana dia meratakan wilayah dan membunuh saudaranya. Kematian Yuri terdengar Gupta, sihir menyala membara menebar hawa yang sangat panas. Gupta tidak terima anaknya meninggal di tangan musuh. Dia melakukan sebuah rencana untuk melenyapkan manusia tengkorak dan seluruh penghuni Sarang laba.