
Melihat kehebatan dari sosok pria asing itu, sag panglima perang dari kerajaan naga berinisiatif menjadikannya seorang tahanan. Dia mengutus dua prajurit ninja mengikuti sampai dimana tempat peristirahatannya. Mereka menggunakan bius, setelah berhasil keduanya membawa Sahwana ke dalam kapal. Perjalanan panjang Sahwana di mulai melepaskan pinggir pantai berlayar ke negeri lain.
Tersadar dirinya berada di tempat yang sangat jauh. Seorang tahanan asing itu kini berjalan dengan rantai besi yang mengikat tangannya. Dia mengikuti langkah kuda sang panglima perang. Sepanjang jalan dia mengamati seluk beluk arah jalan berharap mengingat sehingga dapat kembali pulang.
“Hei pak tua, bagaimana pendapat mu tentang tumbuhan ramuan sihir ini?” tanya sang panglima.
“Tumbuhan ini sama sekali tidak akan memberi efek sihir dalam jangka panjang karena cara penarikan paksa saat memetik kelopak bunga. Serbuk sarinya rusak, cara pengambilan paksa ini tidak bisa di jadikan bahan ramuan yang bagus”
“Ah tau apa kau tentang racikan sihir? Negara kami lebih terkenal dengan pengobatan maupun sihirnya. Panglima, aku ingin sekali menghajar pria tua sombong ini” ucap salah satu pengawal.
“Jangan! dia mengatakan yang sejujurnya, lihatlah pedangnya yang sakti beraura sihir empu itu”
Mereka meneruskan kembali perjalanan hingga sampai ke istana. Sahwana di masukkan ke dalam penjara. Panglima dan perdana menteri keamanan melakukan pertemuan di sebuah kedai teh yang letaknya tidak jauh dari kekaisaran.
“Perdana menteri, aku ingin melakukan bisnis dengan mu” ucap sang pengawal.
“Katakan apa yang ada di benak mu itu panglima. Oh ya, aku dengar kalian telah menangkap seorang warga dari negeri seberang. Apa yang sedang terjadi?”
“Aku sangat tertarik dengan kehebatan senjatanya yang beraura sihir itu. Dia juga ahli dalam meracik ilmu sihir dan membuat pedang. Jika kita bisa menyatukan kekuatan, kita bisa memanfaat orang itu.”
“Pikiran mu sudah terlalu jauh panglima, aku tidak mungkin mengkhianati raja”
“Perdana menteri, kita sudah melangkah sejauh ini. Apakah kau hanya mengorbankan diri hingga di usia tua mu?"
“Pengawal! Cepat seret panglima ini keluar!” bentak sang pendana menteri.
Rapat pertemuan di istana naga, raja Tenggalek tertawa terbahak-bahak melihat sosok tahanan bertubuh loyo yang mereka hadapkan di depannya. Si pria tua di sudut pandang sang raja seperti pria ujur yang tinggal menunggu waktunya saja.
__ADS_1
“Aku tidak mempunyai waktu untuk bermain-main dengan kalian. Bersiap akan aku penggal”
“Ampun yang mulia, kami tidak mungkin berani berbohong.”
“Kalau begitu aku akan memberikan mu waktu sepuluh hari. Beri aku sebuah senjata yang tiada tanding dan seteguk ramuan sihir yang bisa mengeluarkan sihir yang sakti.Jika kau gagal, maka aku akan berperang melawan negari mu.”
Sahwana seharian duduk termenung memikirkan nasibnya dan nasib negerinya. Dia berpikir jika mengabulkan permintaan sang raja maka aka nada banyak pertumpahan darah karena negeri naga berhasil menguasai senjata dan sihir yang empuni. Sebaliknya, jika dia tidak membuat senjata maka bubuk mesiu dan senjata nuklir di udara akan meratakan negerinya. Memilah menghasilkan ramuan atau senjata Sahwana masih terus merenung belum memutuskan pilihan.
Pura Dewi Penjaga Suci
Lintani dan Lintana pulang ke pura Dewi selesai pelatihan seni bela diri selama tiga tahun. Meski sudah mengenal baik kampung halamannya. Mereka tetap terperangah melihat keindahan alam yang alami. Berlari menaiki anak tangga, bunga warna-warni, rerumputan hijau dan pepohonan sejuk. Udara bersih, angin berhembus menerbangkan dedaunan kering.
“Ayah! Ibu! Kami pulang!” jerit Lintani.
“Ayah kami sudah lulus ! Ibu! Kakak, sepertinya ada tamu penting”
Setelah mendapat ijin dari orang tuanya mereka mengikuti sang paman, menteri perdana keamanan ke istana naga.
Lintani dan Lintana melihat sang tahanan yang di ceritakan oleh Zezao. Melihat tahanan itu sedang pingsan, keduanya menekan titik aliran darah. Dia tersadar perlahan duduk menyandarkan diri di dinding. Lintani memberikannya air minum, dia terbatuk punggung di tepuk pelan Lintana.
“Terimakasih banyak, aku seperti sedang di urus dua anak sendiri. Kalian siapa?” tanya Sahwana.
“Saya Lintani ki"
“Saya Lintana. Kami kesini ingin melihat kehebatan pendekar pedang yang ahli membuat senjata dan ramuan. Kami juga akan mengawal kembalinya tuan ke negeri asal.”
“Hahaha, bahkan aku merasa tidak akan bisa kembali lagi.”
__ADS_1
Demi kedamaian dua negeri, Sahwana memutuskan mulai membuat pedang dan ramuan. Setiap hari Lintani dan Lintana mengamati proses pembuatan yang pedang di atas bara api dan ramuan sihir. Proses pembuatan senjata mengeluarkan energi tenaga dalam yang tinggi dia mengeluarkan muntahan darah. Lintani dan Lintana mengobati luka Sahwana, setiap kali Sahwana mengalami sakit pasti mereka berdua membantu semua kesulitannya.
Keperluan bahan sihir ramuan yang di butuhkan, Lintani dan Lintana mencari bahan yang di minta Sahdewa. Pada malam ini tepat malam persemedian untuk mentransfer ilmu ghaib ke pedang yang ramuan yang sudah selesai.
“Lapor panglima, tahanan itu sudah menyelesaikan tugasnya”
“Siapkan rencana.”
“Baik panglima.”
Saat Sahwana terlelap, pintunya di buka salah seorang prajurit. Di luar sana para penjaga habis di bunuh. Prajurit membukakan pintu, mengatakan sang raja telah berubah pikiran. Besok dia akan di beri hukuman penggal. Semua ini atas dasar perintah sang perdana menteri menyelamatkannya.
Tepat di depan gerbang istana, Sahwana di kepung. Berpikir dia telah di jebak panglima perang, Sahwana berusaha sekuat tenaga menyelamatkan dirinya. Lintani dan Lintana membantunya melarikan diri. Mereka mengambil tiga kuda milik penjaga istana.
Melarikan diri sampai ke perbatasan wilayah, mereka berhenti di salah satu warung untuk melepas penat. Lintani memesan tiga gelas air dan tiga mangkuk mie. Sahwana berkali-kali mempertanyakan kenapa dirinya selalu di incar. Lintana menahan pertanyaan selanjutnya dari Sahwana sambil menatap sekitar.
“Kita harus cepat, mereka pasti akan mengejar” ucap Lintani.
“Ya, kita juga harus tetap waspada. Perjalanan terakhir kita menuju pura meminta pertolongan dari ayah dan ibu” kata lantana.
Belum mencapai halaman pura, penyerangan para prajurit bergerombol. Juma dan Iria menepis serangan, sang panglima perang berhasil melukai Iria. Amarah Juma tidak terkendali, dia terpaksa membunuh sang panglima. Pura suci menjadi kotor, dia yang di jadikan ketua atau pemimpin pura malah tidak bisa melepaskan hawa rasa benci, dendam duniawi sampai membunuh seorang jiwa.
Sraak__
“Ayah!”
“Ibu!”
__ADS_1
Keduanya meninggal dengan sepasang mata yang masih terbuka menatap mereka.