Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 31


__ADS_3

Pria itu merasa ada seorang yang mengikutinya. Dia menyerang menggunakan jurus seribu bayangan menarik tubuh nyi merah. Melihat wanita itu sedang mengandung, si pria gila memperhatikan apa yang akan di lakukannya. Langkah mendekat dia memasang wajah memelas meminta bantuan. Sebelumnya dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


“Tolong aku ki, ada beberapa pria yang mengejar ku” ringisan suara bernada parau.


“Aku tau kau hanya berpura-pura nyi, bukan kah dulu engkau pernah menyerang ku bersama manusia tengkorak. Kini aku tidak ada urusan dengan mu karena engkau terakhir kali menolongku dari prajurit Kartanegara.”


“Apakah engkau tidak berniat membalaskan dendam? Terutama dengan Sadewa. Jika ?engkau bisa membunuhnya maka dendam ku padanya otomatis terbalaskan."


“Urusin saja urusan mu, aku tidak mau ikut campur atau menjadi bagian dari sekutu sekte hitam!”


“Kalau begitu ijin kan aku meminjam prajurit mu. Aku akan memberikan perhitungan pada pendekar itu”


“Engkau pikir aku manusia yang tamak membentuk sekutu? Kelicikan mu tidak pernah berubah!”


Kekasaran si pria yang tampak gila itu tidak menghentikan niat mengikutinya. Bahkan di daam hutan sekalipun, nyi merah tidak goyah mengikuti jejaknya. Sampai pada hari ini dia menyerah melihat keangkuhan si pria tua itu.


“Aku pikir si pria sakti itu bisa menggantikan kakang manusia tengkorak. Tapi ternyata aku salah. Dia hanya mementingkan dirinya saja.”


Nyi merah membalikkan badan menunggang kuda menuju ke desa Gelanggang. Dua orang pria menyusul mengatakan bahwa mereka juga tidak bisa mengikuti si pria berilmu tinggi nan gila itu. Hanya beberapa hari saja dua pengikut itu bertahan. Pada hari ini perjalanan mereka satu tujuan ke desa yang di kenal kembali didirikan meluas terkenal dengan racikan ramuan sihirnya.


“Kita harus bisa masuk sebagai anggota Gupta, nampaknya mereka tidak main-main membungkus senjata pasukan Kartanegara” ucap salah satu pria yang membawa tombak di tangannya.


“### Tapi aku baru saja mendengar di desa itu tidak bisa sembarangan di masuk orang asing. Para penjaga perbatasan wilayah memeriksa tiap rakyat satu persatu” pria bertopi blankon mengerutkan dahi.


“Kalau begitu kita berpencar sebagai tiga orang yang tidak saling mengenal. Malam ini kalian menginap di desa sementara aku di dalam hutan. Jika kita berhasil menjadi anggota peracik maka kita harus mempelajari ilmu sihir hitam dan putih lebih lanjut.”

__ADS_1


Saat mereka masuk melewati perbatasan, seorang prajurit menghentikan kuda si pria bertopi blankon dan si pemegang tombak. Keduanya tidak bisa melawan, ada banyak penjaga yang membawa senjata berselimut sihir. Permintaan maaf mereka tidak menerima orang asing, salah satu wajah mencurigai si pria pembawa tombak terlihat dari gerakannya yang canggung.


Di dalam mimpi yang berulang, Alas pati melihat seekor burung peonix mengejarnya seperti menyerang bayi yang ada di dalam perutnya. Pada mimpi yang terus menebar kekhawatiran. Mimpi buruk kali ini mengeluarkan suara jeritan keras, dia sampai memukul Sadewa yang tertidur di sampingnya.


“### Adinda sadar lah!” mengguncangkan tubuh Alas pati.


Mengusap lembut wajahnya hingga dia terbangun, Sadewa mencium perut bayi yang sudah tidak sabar dia tunggu akan kelahirannya itu. Si mbok membawakan air hangat dan minyak di dalam wadah kecil supaya Sadewa mengusap perut Alas pati.


Dia berpamitan menutup pintu, rasa was-was si mbok melihat perubahan pada diri Kemuning yang terlihat lengkungan di wajahnya. Di saat Sadewa bertugas, dia juga lebih sering tertidur. Ingin rasanya si mbok mengutarakan isi hati di sela pikirannya yang kacau.


“Bagaimana aku menyampaikannya pada Sadewa? Semoga itu hanya firasat buruk ku saja” batin Si mbok.


Nafas masih memburu, manik mata membelalak mencari sosok pengganggu di dalam tidurnya. Dia memasang posisi pertahanan bersiap membalas siapa pun yang berniat menyakiti anaknya.


“Mana yang mengganggu ku tadi kakanda? Aku aku habisi dia”


“Ya aku paham engkau adalah suami yang paling menjaga ku, rela mengorbankan diri demi menyelamatkan ku. Si pendekar Empuni Kartanegara, tidak dengan kekhawatiran adinda dengan mimpi membentuk lambang buruk bagi bayi kita.”


“Jangan terlalu di pikirkan karena akan mempengaruhi kondisi anak kita.”


Di dalam hutan mencari akar herbal, Lintana melihat seorang anak kecil berlari setelah melihatnya. Wajahnya sangat mirip dengan saudara kembarnya. Dia mengejar hingga memasuki pertengahan hutan. Sosok pria berbaju putih menghalangi, tangannya menepis membawa anak kecil itu terbang menjauh.


“Siapa dia?” gumamnya.


“Hei pria tua, tunggu!” teriak Lintana.

__ADS_1


Dia mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri makam saudara kembar di tanah Kartanegara. Siapa yang menyangka, bayi di dalam perutnya yang belum sempat dia lahirkan olehnya. Bayi itu di keluarkan dengan paksa sebagai calon penerus peracik ilmu bela diri sekte hitam berdarah iblis. Si anak kecil bersembunyi di balik tubuh seorang pria tua. Dia menggumpalkan bola sihir hitam menghantam tubuh Lintana.


“Arggh!”


Lintana menghidupkan sinyal meminta bantuan pada Sicin, seorang pengawal memberitahu sampai sang tabib terkemuka menunggangi kuda membawa beberapa pengawal mencarinya. Gumpalan sihir hampir membunuh, sedikit lagi dia tewas di tangan si pria tua pergi membawa seorang anak yang di kejar Lintana. Rombongan sang tabib memasang posisi pertahan berjaga mengiri perjalanan pulang.


Luka dalam Lintana di obati sang tabib. Wanita itu masih belum bisa menyampaikan hal yang dia lihat. Di tengah pengobatannya, seorang pengawal istana masuk ke dalam kediamannya mengabarkan panggilan sang Adipati Sadewa.


“Maafkan aku panglima, tolong katakan pada sang Adipati kalau aku sedang mengobati penyakit Lintana.”


“Tapi tabib Sicin, tampaknya nyonya sangat kesakitan atau kemungkinan besar akan melahirkan.”


Kediaman keluarga Gupta terdengar suara kesaktiannya, Sadewa sangat gusar hingga si mbok meminta ijin membantu melihat kondisinya.


“Sadewa, tidak salah lagi istri mu ini pasti akan melahirkan. Cepat bawakan air hangat dan handuk tebal”


“Tidak mbok, anak merasakan ada yang berbeda. Sekujur tubuh ku juga sakit sekali!”


Di depan pintu ramai sosok-sosok yang sedikit menyeramkan tersenyum melihatnya. Kehadiran sang ratu guru di damping para pengikutnya. Si mbok menjerit terkejut. Dia pingsan, tubuhnya di pindahkan ke kamarnya.


“Raja, boleh kah membantu? Namun menyadari janji hamba tidak pernah menampakkan wujud di depan Alas pati maka hamba akan menjelma semirip mungkin dengan wanita tua yang sedang pingsan itu”


“Winan, sejujurnya aku belum terlalu mempercayai mu.”


“Raja, engkau tidak mempunyai pilihan lain__”

__ADS_1


Para dayang ikut menjelma menjadi anggota kediaman Gupta, para pekerja membawa air dan menyiapkan segala keperluan kelahiran anak mereka.


“Sadewa, maafkan aku. Tidak ada yang bisa menyalahi kehendak sang penguasa alam semesta. Aku hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.


__ADS_2