Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 38


__ADS_3

Kesembuhan raja Kartanegara menimbulkan amarah Wicak. Di dalam tenda perang, dia mengerang murka menebas leher prajurit yang menyampaikan kabar itu. Besok peperangan berlanjut menyerang kediaman Sumeru. Musuh yang ingin menyingkirkan kedudukan, berhasil memfitnah sang raja agar tidak menyukainya membawa bala tentara kerajaan sebanyak-banyaknya menyergap penyerangan kediaman kedua kalinya.


Gani dan Bona yang terkena hasutan Wicak mengangkat pedang ikut menyerang. Kali ini Wicak dengan sombong menyatakan Angka pasti kalah di dalam pertempuran itu. Pertahanan pertama dan kedua berhasil di ratakan prajurit kerajaan. Di dalam sana Angka menggunakan ilmu pembangkit raga sukma membekukan sebagian lawan. Melihat prajurit Sumeru hampir tidak tersisa, dia tetap berjuang sekuat tenaga melawan. Menteri perdana hakim mengetahui rencana busuk Wicak, dia mengirimkan perintah kepada para prajurit untuk membantunya.


“Aku tidak bisa membiarkan kejahatan ini merajalela. Wicak benar-benar keterlaluan mengadu domba raja dengan sang gusti Angka yang sudah jelas membantunya merebut kembali tanah Kartanegara”


“Lalu bagaimana jika bantuan kiriman prajurit tuan di ketahui oleh gusti wicak?” tanya pengawal pendampingnya.


“Aku perdana menteri Linjao yang telah menjabat dari zaman almarhum raja Yetno hingga kini rela dinyatakan sebagai penghianatan jika sang raja tidak mengetahui mana yang baik dan buruk. Aku berharap sang raja bijak memilah siapa yang ingin menjatuhkannya” ucap Linjao.


Dua ribu bantuan prajurit sebagian besar berasal dari kerajaan. Para sekutu Wicak mundur menyalakan sinyal meriam menutupi kepergian mereka dengan asap tebal. Kekalahan, rencana yang sia-sia, musuhnya tetap memenangkan pertarungan sengit. Wicak kembali ke istana mengabarkan kepada sang raja. Pemimpin yang baru saja sembuh dari penyakitnya itu menyampaikan segala urusan negeri pada Sadewa.


“Dasar dia adalah raja yang gila. Kedatangan ku saja tidak di sambut. Aku seperti orang bodoh berbalik kembali ke perbatasan!”


“Hamba mohon gusti lebih berpikir jernih. Jika Gusti melawan raja maka gusti kemungkinan akan di bunuhnya”


“Apa maksud mu? kau hanya pengawal rendahan. Tidak sepantasnya kau berani menasehati ku!”


“Maafkan hamba Gusti., tapi hamba mendengar langsung bahwa raja memiliki aura yang berbeda dari biasanya. Menurut kabar, setelah wanita misterius masuk bersama Sadewa maka dia pada waktu itu sembuh total. Raja lebih sehat dari sebelumnya.”


......................


Kembali ke perut bumi, menyelesaikan segala urusan negaranya. Selayang trokat membacakan gulungan hasil keputusan raja.

__ADS_1


Dengan ini raja Gurun pasir menyatakan pangkat kedudukan baru yang akan di emban sebagai tugas setiap masing-masing tangkla penjaga Kartanegara. Menimbang hasil ujian, sang raja melihat pada ujian terakhir.


"Negeri tidak hanya membutuhkan penjaga yang kuat namun sosok penjaga yang sabar, tetap berdiri menghadapi segala ujian. Berikut adalah tangkla yang terpilih":


Tangkla Angin Mahmeru, tangkla tanah Rakum, tangkla api Bara dan tangkla Air yang akan di ambil dari negeri manusia. Demikianlah keputusan dari sang raja, tidak ada yang bisa melawan kehendak sang raja. Jika ada yang membangkang sama saja ingin melakukan pemberontakan.


“Terimakasih yang mulia” serentak para tangkla itu memberi hormat.


Mendengar salah satu tangkla yang akan di ambil dari negeri manusia sama saja melangkahi kebesaran kekuatan negeri jin. Berita ini akan menggemparkan seluruh negeri jin. Para jin saling berbisik. Para pemilik elemen api di belakang layar tetap menentang keputusan sang raja. Mereka berkumpul membicarakan keputusan sang raja.


“Para penguasa elemen api gurun pasti merasa lemah di mata para negeri jin lain.”


“Kekuatan jin setengah iblis maka terciptalah api. Apakah manusia yang di pilih itu mampu menandingi kekuatan kita?”


“Hal ini tidak boleh di biarkan. Kakak kedua, kau harus menurunkan perintah pada para penguasa api.”


“Apakah dia benar si Bara?”


“Benar, informasi dari kakak kedua tidak pernah salah.”


Mereka menghembuskan semburan api. Ujung rambut Bara terbakar, pria itu mencium aroma hangus yang berasal dari dirinya. Mengetahui dua pria asing mengganggunya. Dia meniup kobaran api ke pohon tempat persembunyian sampai hangus tidak tersisa. Semula mereka menganggap remeh pria itu. Namun serangan beruntun menyerang dua jin yang bisa menghilang masuk ke dalam tanah.


Kedua jin itu mengabarkan kekalahan pada penguasa kedua elemen api, Sosok manusia menjadi incaran seluruh penguasa api. Menyerbu Bara yang tinggal tengah hutan mengakibatkan kobaran api mengakibatkan kebakaran hutan.

__ADS_1


Ruti menarik Bara ke ke perut bumi. Melihat kehadiran pemimpin tangkla itu, para penguasa api menghilang berhenti mengejarnya.


Di depan sana dia bertemu sahabat lamanya. Salah satu murid pamannya Sahwana yang tanpa sadar tersenyum memeluknya. Di sela perbincangan mereka, raja mengabaikan para penguasa api yang hampir membunuh Bara.


“Ruti, terimakasih engkau telah menjalankan tugas mu dengan baik. Aku akan mengurus para penguasa api yang berani melawan ku itu setelah penobatan para Tangkla.”


“Baik yang mulia."


Sosok jin bertubuh menyeramkan, pandangan mata, bekas tarikan tangannya yang dingin hampir membuatnya pingsan. Bara mengamati istana, singgahsana, para penjaga algojo bertubuh besar mengangguk padanya.


“Ceritakan pada ku bagaimana engkau bisa menjadi raja jin?”


“Ceritanya sangat panjang. Setelah engkau menetap disini, perlahan aku akan menceritakannya pada mu.”


Sadewa berharap Bara menyetujui keinginannya. Bagaimana Bara menolak saat tau raja menyebut namanya di depan para pengikutnya, dia tidak mau menjatuhkan martabat sahabatnya walau dia tidak ingin tinggal disana. Di pandangannya, mengabdi di istana jin memiliki resiko yang sangat besar.


“Belum apa-apa aku sudah di serang jin api yang membenci ku karena engkau memilih ku sebagai penguasa tangkla api, tidak menutup hal lain mereka masih mencari cara menyingkirkan ku.”


“Engkau adalah seorang ksatria, kenapa nyali mu jadi kecil?”


Bara di antar oleh salah satu dayang menuju ke kamarnya. Dunia baru yang tidak pernah dia sangka-sangka mengubah nasibnya. Hari penobatan sebagai tangkla, Bara gugup dan canggung menerima pedang jin yang ukurannya dua kali lipat dan berat dari pedang di bumi. Baju kebesaran, jubah perang dan simbol api di setiap kalung d kenakan.


“Raja, engkau tidak lupa kan perjanjian di negeri jin? Mulai hari ini Bara tidak bisa kembali lagi ke alam dunia manusia.”

__ADS_1


“Aku ingat sekali, aku juga tidak lupa bagaimana menentukan pilihan pada waktu itu.”


“Banyak urusan manusia yang aku campuri. Raja, kebanyakan manusia di curi jin, sengaja masuk ke dalam jin untuk mendapatkan sesuatu meski harus keluar dengan keadaaan gila, kehilangan kekuatan atau yang lainnya.”


__ADS_2