Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 73


__ADS_3

Di bumi ini tidak terlepas dari musibah yang menghadang. Suka dan duka di dalam sepercik cahaya kebahagiaan yang larut di bawa sang mentari. Senja menjadikan arti kehidupan yang semu.


Air mata, penderitaan, perjalanan hidup harus terus di tempuh.


Kunci kesabaran di jadikan pedoman menggenggam jiwa untuk lebih kuat. Masa-masa kepahitan yang terlewati, luka berdarah di campur perasan air jeruk. Luka yang belum sembuh di atas luka baru. Roda bumi akan terus berputar pada porosnya.


Menimbang kekacauan hidup, masa yang terlewati menjadikan pengalaman berharga. Ada banyak pembelajaran yang di petik guna pengingat diri. Kesegaran mencapai daun umur yang tinggal menunggu waktunya.


Dunia fana, tidak bisa di pungkiri bahkan bayangan mu saja pergi di saat malam datang. Ada banyak yang harus di raih ketika keajaiban bintang jatuh di angkasa. Do’a harapan yang tidak pernah pupus.


...🔥🔥🔥...


Barak tenda di tegakkan pada bagian hutan wilayah utara. Susunan strategi perang, penyusupan dan perampasan tanah Kartanegara di mulai pengumpulan kekuatan musuh. Kali ini musuh yang di hadapi bangsa manusia bukan hanya siluman melainkan campur tangan iblis. Batas-batas Wilayah tanah jajahan mulai di serang gangguan teror yang mengganggu rakyat.


Sebuah tenda perkumpulan rapat membahas penyerangan. Peta rahasia di bentang, tanda titik mulai penyerangan pertama berpusat di Tenggara. Para siluman serigala patuh mendengarkan arahan darai raja Kabut. Sang raja bertanya siapa yang bisa menjadi mata-mata melihat perkembangan Kartanegara.


Di dalam istana Makuta, putri Lotus berkeliling istana mencari sang raja dan para punggawa kepercayaannya. Langkahnya terhenti berdiri di balik sebuah pilar mendengar pembicaraan para dayang mengatakan tiga wanita yang memanggil sang raja dengan sebutan ayahanda. Lotus memanggil dayang itu ke dalam ruangannya. Dia membungkuk ketakutan, dayang itu takut jika sang raja mengetahui pasti dia akan memenggal kepalanya.


“Ampun putri, tolong selamatkan hamba. Sungguh hamba tidak sengaja mendengar pembicaraan itu sebelum raja pergi meninggalkan istana.”


“Kemana arah perjalanan mereka?”


“Hamba tidak terlalu jelas mendengarnya. Tapi sang raja pergi bersama sosok-sosok aneh yang membawa senjata sangat besar.”

__ADS_1


Sang putri bertanya pada Mera, sosok dayang pendamping yang semula angkat bicara kini menyampaikan hal sebenarnya. Sang putri bersiap-siap melakukan perjalanan pergi menemui sang raja. Dia di kawal Mera dan para pasukan khusus yang di percaya.


Di dalam perjalanan menggunakan kuda jin dan beberapa pengawal yang mengikuti dari belakang. Pandangannya tertuju di kejauhan melihat asap putih mengepul membentuk gulungan panjang menyerupai wujud raksasa.


Para pengawal memasang posisi berjaga, mereka mengeluarkan panah beracun mengarah ke sisi makhluk yang mendekati mereka.


“Pasukan satu! Pandega, serang!” perintah pengawal perang .


Sang putri menyadari dia tidak memiliki kekuatan apapun untuk mengalahkan musuh. Selama ini sosok putri yang hobi berhias itu menggunakan kecantikannya untuk menundukkan para pangeran sebagai batu loncatan mempertahankan wilayah kekuasaan dan perluasan tanah negeri.


Sang putri di lindungi Mera yang mengeluarkan senjata anak panah raksasa. Kali ini dia memperjuangkan keselamatan sang putri setelah mengetahui sang raja berubah arah membentuk sekte di luar jalur kekuasaan negeri Kabut.


......................


Ucapan ritual mantra itu berlangsung selama satu jam. “Wahai arwah penasaran yang berada di alam kegelapan, iblis merah, bangsa lelembut. Sosok yang terkuat yang mendengar seruan ku, datang lah! Datanglah!”


Mantra di baca sebanyak dua kali. Sinar hitam melayang di dalam ruangan. “Arghh! Huaa!” suara aneh yang keluar dari rahang besar sang makhluk. Sosok ketua iblis bermata satu tersenyum. Sihir wanita sosok pendamping sekte hitam berhasil memanggil bangsa lelembut merah terganas.


“Ada apa aku di panggil nyi? Sudah lama aku tidak bertemu dengan mu” gema suaranya bercampur hembusan angin kencang.


“Jin merah, aku membutuhkan bantuan mu. Cepat masuk ke daam patung ini dan jadi lah mata kedua ku. Pergi ke kerajaan Kartanegara dan lihat apa yang terjadi disana”


Sosok nyi pirang memakai tongkat melotot melihatnya. Sosok bangsa jin lelembut itu tidak mau menuruti perintahnya. Dia merasa bagai di perintah secara Cuma-Cuma. Di satu sisi tidak mendapatkan keuntungan apapun.

__ADS_1


“Aku tidak mau kau atur nyi. Bukan urusan ku mencampuri urusan manusia! Kau tau sendiri nyi. Bangsa lelembut tidak pernah di ijinkan oleh sang leluhur untuk keluar dari muka bumi terutama menyakiti cucu buyut leluhur Kartanegara!”


“Apa kata mu? jadi kau berani melawan ku? Rasakan serangan ku ini. Hiya! Haa!”


Nyi pirang berambut keriting itu mengeluarkan jurusnya menyerang ketua jin merah bangsa lelembut. Dia membanting sosok itu, pukulan mengeluarkan senjata dan jurus yang melukai tubuhnya. Bangsa lelembut terluka parah, dia menunduk bersujud meminta maaf dan ampunan.


“Ampun nyi! Aku mau menuruti perintah mu” ucapnya bergetar ketakutan.


Sosok jin merah di hembuskan kekuatan mantra dari nyi pirang. Wujud arwah penasaran itu di masukkan ke dalam patung jimbe. Dia bisa berubah wujud menjadi liliput maupun raksasa. Dia menghilang terbang menuju kerajaan yang di tuju. Berdiri di dekat atap padopoan. Sosok jimbe merasakan kekuatan yang menyelubungi kerajaan tersebut. Kekuatan yang setengahnya hampir mirip dengan bangsanya.


Keanehan melihat para prajurit yang berjaga tidak semuanya berasal dari bangsa manusia. Bangsa jin yang bisa melihat keberadaannya itu langsung melemparkan senjata hampir mengenai tangannya. Prajurit yang bisa melihatnya mengejar keluar batas halaman kerajaan. Di dalam hutan, sosok jimbe berubah wujud raksasa berjalan menginjak mengeluarkan getaran gempa yang sangat hebat.


“Ada apa?” tanya Dom yang baru saja tiba.


“Sosok raksasa itu mau memata-matai kerajaan tuan.”


“Dom menyerang menerbangkan kekuatan cahaya hitam yang dia dapatkan dari sang ratu Winan. Tubuhnya yang bukan lagi manusia seutuhnya.


Kekuatan Dom mengusir sosok pengganggu yang hampir menelan korban. Para prajurit yang berjatuhan di giring oleh sisi prajurit kembali ke istana. Adanya mata-mata di dalam rencana pemberontakan berniat menghancurkan kerajaan, tidak terlepas dari pihak lain yang terkait di dalamnya.


Api membakar hati pembenci.


Perlawanan saling melemparkan serangan. Bala bantuan tentara dari dalam perut bumi di panggil sinyal mengeluarkan para jin bertubuh kuat. Dalam peperangan hebat yang membanjiri lautan darah. Taga dan Ruti keluar melemparkan senjata mematikan. Hampir seluruh pasukan binasa. Para sekte hitam, suku lelembut dan anggota iblis mundur. Kekuatan para penjaga negeri gurun lebih besar dia kali lipat di tempah sejak jaman Fir'aun. Darah mereka di campur setengah iblis. Sang ratu Winan yang menundukkan mereka menggunakan tongkat peninggalan Fir'aun yang di keluarkan dari dalam piramid.

__ADS_1


__ADS_2