Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 65


__ADS_3

Kepergian permaisuri Prameswangi menunjukkan langit yang murka. Petir menyambar menumbangkan pepohonan. Sang ratu di semayamkan di makam kerajaan. Perbukitan, di atas dekat istana yang hancur itu seribu anak tangga menjulang tinggi.


“Kami turut berduka cita atas meninggalnya ibunda dari sang raja.”


“Terimakasih raja dan ratu gurun..” Wajah sang raja Batara yang murung, Seza mengusap pelan punggungnya memberikan kekuatan.


“Bagaimana dengan istana yang mulia yang porak-poranda ini? jika berkenan, pintu kerajaan gurun terbuka lebar untuk penghuni Kartanegara”


“Terimakasih atas kebaikan yang mulia, kami hanya minta ijin tinggal sementara di kerajaan Gupta selagi istana kembali di bangun” jawab Batara.


Proses pemakaman di bawah derasnya air hujan. Batara menahan tangisannya, dia tidak mau melihat para rakyat dan pengikutnya melihat kesedihannya yang mendalam. Taburan bunga menyemai tanah basah memerah. Raja dan ratu guru berpamitan kembali ke perut bumi. Semua keonaran ini di dasari gangguan iblis yang bekerjasama dengan sekte hitam.

__ADS_1


Di atas awan Banyuwangi masih menggunakan kekuatannya menutup lubang hitam yang mulai terbuka. Para tangkla bersatu, Sadewa mengangkat pedang pamungkas peonix. Dia menggerakkan pedang membelah lubang hitam. Petir menggelegar, suara aneh dari dalam terdengar mengerikan. Sebagian jin yang tidak kuat menutup telinga. Winan mengeluarkan kekuatan iblis penjaga piramida Firaun menghirup fortal asal hitam.


Para tangkla terpaksa meninggalkan langit dan elang. Mereka membantu sang raja dan ratu menghadapi iblis bermata satu dan para sekte hitam. Seolah pada hari itu adalah perang dunia ketiga para jin melawan iblis. Keabadian tetaplah terletak pada iblis yang terus hidup hingga akhir zaman.


Sadewa menggunakan pedangnya, namun Sadewa terbanting begitupun Winan. Sang raja sekuat tenaga bangkit, dia menghentikan gerakan Winan memanggil para arwah leluhur yang akan bangkit dari dalam gurun pasir.


“Jangan ratu ku, engkau dan anak kita bisa celaka!” kata Sadewa menahan tangannya.


Syat__syat__


Iblis mata satu berhasil di lenyapkan. Suasana langit di alam jin kembali normal seperti sedia kala. Serpihan abu menutupi atap-atap perumahan. Sadewa menggunakan kekuatannya mengeluarkan langit dari dalam pedangnya. Namun anaknya tidak keluar juga.

__ADS_1


“Biarkan aku membantu mu wahai raja. Lepaskanlah aku” ucap Winan.


Raja melihat sang ratu sangat lemah karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam. Para tangkla begitu pula Banyuwangi menyatukan kekuatan masuk ke dalam pedang. Namun, tidak ada tanda-tanda apapun mengenai Langit.


“Apa yang tela aku lakukan? Anak ku mengorbankan dirinya demi menolong ku? Langit! Keluar lah nak. Ayah memanggil mu!” teriak sang raja berputus asa.


Sosok langit yang terlahir sebagai burung ruh peonix keabadian berkumpul tertumpu pada pedang pamungkas.


“Kami turut berduka yang mulia, tubuh langit sengaja dia leburkan ke dalam senjata itu sehingga bisa mengusir kegelapan” ucap Banyuwangi.


“Tangkla air, engkau adalah tangkla terkuat setelah Bara. Tubuh mu seutuhnya berasal dari api jin bercampur air. Bantu aku mengembalikan anak ku”

__ADS_1


“Hamba mohon ampun yang mulia, jika hamba memaksakan langit keluar dari dalam pedang itu. Maka sama saja hamba merubah wujud Langit menjadi sosok lain.”


__ADS_2