
Jadi di tetapkan panglima ketiga masih menyandang gelar kepemimpinannya. Walau sempat para pembesar tidak setuju, kejanggalan Banyuwangi menggunakan ilmu hitam tidak serta merta mengganggu jin yang tidak bersalah. Para punggawa maupun penguasa jin lainnya tidak bisa memberikan bukti kejahatan sang ratu air. Hukum kenegaraan bagi pata penguasa yang tidak boleh memiliki bekas luka atau cacat sedikitpun pada anggota tubuhnya.
Beberapa prajurit melihat dengan mata kepala mereka sendiri, sang ratu merobek kulitnya mencampurkan dengan mantra. Dia menyerang penguasa api, mengusir mereka yang ingin mengganggu ketenangan negeri lain.
Rapat yang di selenggarakan di warnai cekcok. Banyak diantara para pembesar yang menjabat dari jaman raja Udum menentang tiap-tiap hal kehendak titah sang ratu. Tiga jin yang sangat menentang sampai berani tidak menghadiri pertemuan penting. Banyuwangi menggunakan sihirnya menarik leher mereka, tubuh terseret tepat di tengah ruangan.
“Apakah kalian masih mau menentang ku? Merasa benar dengan pendapat kalian sendiri? Salah satu racun yang kalian sebut tidak lain bekas luka yang membekas di tubuh ku?”
Sang ratu membuka penutup yang ada di tangannya. Robekan tidak berbekas, kulitnya yang pucat tidak tidak terdapat luka sedikitpun. Tiga para pembesar, tertegun terdiam. Mereka berlutut memohon ampun pada sang raja.
Sang ratu memerintahkan Algojo membawa di batu peradilan. Pemenggalan tiga penguasa sesepu sekaligus menampar para pembesar lain yang berani membangkang. Sang ratu hanya memberi tugas untuk memperkuat benteng pertahanan. Para pengendali air yang di tugaskan menjaga dinding tembok pembatas, menguras energi mereka mengeluarkan kekuatan menutupi dari luar maupun dalam.
......................
Peri cahaya geger bukan lah pemimpin peri yang asli bersarang di tubuhnya. Mengubah ketakutan bagi seluruh bangsa peri. Sebagian ada yang keluar dari negeri itu dan ada yang meminta pertolongan dari negara-negara lain.
“Kalau memang sang ratu bukan peri yang asli, lantas mengapa dia tidak terbakar ketika berada di alam cahaya?”ujar sang penasehat istana.
“Yang Mulia, ijinkan hamba menyelidiki masalah ini lebih lanjut” ucap Ruti.
“Kita harus benar-benar menyusun rencana yang matang. Terlebih lagi ratu cahaya berperan dalam masa kejayaan Kartanegara. Tepat ratusan tahun lalu say ayahanda melakukan persemedian” ucap Batara.
Perjalanan mengendarai kuda jin, Memasuki wilayah garis pembatas antar negara tidak semudah biasanya dia keluar masuk dari perut bumi. Penjagaan ketat menghindari penyusup salah satunya kejahatan negara api yang semakin merajalela.
Batara menunjukkan simbol kenegaraannya dan negara gurun. Para penjaga menunduk, mengantarkan perjalannya hingga sampai ke istana. Sepanjang perjalanan, keceriaan para rakyat menggelar pesta jin melirik pandangannya. Salah satu jin yang memakai jubah hitam tampak bercahaya dari jin lainnya.
“Siapa dia Dom? Apakah engkau mengenalnya?”
“Maaf yang mulia. Hamba tidak terlalu jelas melihatnya” jawab Dom.
Saat akan mengalihkan pandangan, Dom hanya melihat kuda jin milik sang raja. “Kemana perginya baginda raja?”
Raja jin itu menutupi baju kebesarannya dengan jubah milik jin yang berjualan di dekatnya. Raja mengikuti gerakan wanita yang dia tanya barusan. Dom tidak ingin sang raja mengetahui identitas sang dayang peri utama. Dia menyalakan sinyal tabu gendang perang bersambut bunyi sofar. Para rakyat berhamburan berpikir akan terjadi peperangan di negerinya.
Raja Batara menarik wanita itu menaiki pedangnya. Dia mengeluarkan senjata melihat gerakan musuh. Dom tidak berani mendekat. Dia mencari tempat persembunyian agar sang raja tidak melihatnya. Para prajurit dari negeri gurun memasang posisi siaga. Pasar sepi, terdengar bunyi jangkrik di tambah angin berhembus.
Tok_tok_
“Tabib Sicin!” teriak Dom mengetuk pintu sangat keras .
“Ada apa? Engkau seperti baru melihat setan saja!”
“Kenapa engkau biarkan dayang utama berkeliaran di pasar? Apakah kau sudah gila?”
__ADS_1
Urat kepalanya Dom menonjol. Dia gemetaran akan di penggal sang ratu karena andil dalam membantu negeri peri. Sang tabib tersenyum, dia menunggu reaksi selanjutnya sambil mengaduk ramuan.
“Apakah ini kau anggap candaan?”
“Tenanglah, sang raja dan ratu sudah tau. Dia akan di beri gelar dayang istana gurun pasir.”
......................
Batara melihat wajah dayang utama tanpa berhenti berkedip. “Maafkan hamba yang mulia, apakah mata yang mulia kemasukan pasir? Ijin kan saya menghembusnya.”
Kepolosan Taga menggagalkan rencananya yang memakai pakaian compang camping. Dia cemberut, melotot lalu melepaskan pakaiannya itu. Sang dayang menutup mata berpikir sang raja tanpa memakai sehelai benang pun.
“Ehem, nyonya. Siapa nama anda?”
Raja yang berwibawa dan di takuti para negeri alam manusia itu bernyali kecil mendekati wanita di hadapannya. Dia menegaskan suaranya yang hampir tenggelam. Gerakan kaku, baru kali ini dia mulai membuka hati setelah beberapa sekian lama berubah wujud manusia setengah jin.
“Nama saya Seza yang mulia. Maaf saya sedang terburu-buru” ucap sang dayang utama.
“Tunggu! Aduh. Dom dimana kau?”
“Ijinkan saya yang mengejarnya yang mulia” ucap Ruti.
Sang raja menunggu bagai orang kehilangan arah. Ya, dia menunggu berdiri di tengah pasar yang sangat sepi. Sementara para pengawal sibuk berlalu lalang masih berpikir ada gerakan musuh ataupun penyusup.
Pukulan menggambarkan lima jari di pipinya. Sang kasim berlutut meminta maaf dari kejauhan wanita yang berhasil di bawa oleh Ruti melihat sikapnya. Wajahnya menunjukkan rasa tidak suka. Melihat sosok jin yang dia tunggu itu, sang raja berpura-pura tersenyum datar mengusap pipi sang kasim.
“Nyamuknya besar sekali. Untuk saya cepat membunuhnya” ucap sang raja menoleh melihat sang dayang utama berdiri di depannya.
“Sungguh dia raja yang kejam. Hewan bersayap sebangsa ku pasti mati semua di tangannya” gumam sang dayang peri.
Mereka berjalan beriringan, sang raja merasa tanah gurun adalah miliknya. Berdua menatap sosok wanita yang membuatnya terpana. Sebuah gerobak buah yang berisi buah-buahan dia raih. Namun Seza tidak menerima pemberiannya itu.
“Kenapa Se? Apakah engkau karnivora? Maksud saya__”
“Maafkan saya yang mulia. Alangkah baiknya si penjual hadir sehingga kita bisa membayar jerih payahnya memetik buah itu.”
Raja Batara meletakkan kembali buah apel di tangannya. Susunan di tempat semula. Dia menghela nafas, mengajak wanita berwajah cahaya itu menuju ke bagian belakang istana. Laporan dari Ruti yang mengatakan sang raja Batara masih berjalan-jalan di wilayah Gurun. Raja dan ratu mengernyitkan dahi karena Batara adalah raja yang dingin dan sulit berkomunikasi dengan sekitar.
“Kepentingan apa yang membuat sahabat ku menyukai wilayah ini?”
“Sudahlah yang mulia. Engkau seharusnya nyaman dan bangga karena raja di atas permukaan bumi betah di wilayah panas ini” ucap sang ratu tersenyum.
Di atas langit elang raksasa mulai membentang mengepakkan sayap keluar dari kandangnya. Langit di atasnya merentangkan tangan. Sang raja memanjat pohon mengambil buah yang mirip dengan ceri di alam manusia. Dia mendongak melihat langit bersama elang terbang menembus awan. Saat dia selesai memetik beberapa buah, sang raja melihat Arabella berlinangan air mata. Dia buru-buru menepis wajahnya yang basah.
__ADS_1
“Kenapa engkau bersedih?”
“Tidak apa-apa raja. Hamba hanya terharu melihat sosok hewan yang terbang bebas di udara”
Taga berlari membawakan sebuah wadah yang berisi air. Raja mencuci buah itu lalu menyodorkannya. “Terimakasih yang Mulia.”
“Bagaimana rasanya? Kalau kurang manis biar saya ambilkan lagi..”
Ucapan raja yang seperti baru pertama kali menghadapi rakyatnya itu melirik senyuman pada para pengawalnya. Kasim yang baru saja di tampar mengusap kuat wajahnya, dia bertekad mulai hari ini dan seterusnya tidak memberikan pendapat apapun.
“Manis dan segar yang mulia..”
“Kasim, coba engkau cicipi buah ini. Bagaimana rasanya?” tanya sang raja.
“Rasanya sangat asam yang mulia. Hueek” sang raja melotot, dia mau membuktikan sendiri jawabannya.
Sang raja menggigit ujung daging. Rasa asam terpaksa dia telan melihat raut wajah wanita di yang menatapnya. Dia mengunyah buah sampai habis. Isyarat raut wajah setengah mati menahan rasa asam itu.
“Kasim. Karena kau telah berbohong, kau di beri hukuman mandi di sungai dari matahari terbit sampai matahari terbenam.”
“Ampun yang mulia! Maafkan hamba! Hiks”
“Sungguh malang nasib si kasim pendamping, dia menelan buah yang memang terkena asam di negeri gurun” bisik Dom pada Taga.
Sang raja seharian bersama Seza hingga lupa waktu. Sesuai dengan asalnya, peri yang bisa membuat para jin terpesona. Ratu gurun mendengar apa yang di lakukan oleh raja itu. Dia berpikir melihat kecantikan cahaya yang lebih terang dari sang ratu peri tidak memungkinkan peluang besar sag ratu mudah menghipnotisnya hingga membuat terpana.
“Aku sangat bersyukur raja ku tidak tergoda jin golongan peri” gumamnya.
"Asam terasa manis jika di dalam hati sedang bermekaran pucuk bunga indah. Kecut tidak selamanya di artikan rasa mendekati hambar tapi terasa manis di rasa berdua. Gelora asmara itu benar-benar membakar ranting yang kering. Kobaran api yang sangat besar menghanguskan apapun yang ingin menghalangi. Sajak rindu hanya melangkah sejengkal di tinggal orang tercinta bagai kiamat terasa" gumam di dalam jeritan hati sang Senopati Tumang.
Sosok panglima perang dari negeri Kartanegara hanya bisa melirik gelagat sang raja. Tumang sudah ribuan tahun berada di medan perang namun senjatanya tidak yang bisa membunuh keras hatinya. Di dalam prinsipnya lebih mudah menjatuhkan musuh dari pada jatuh cinta yang menggoyahkan pikiran jiwa.
Sementara itu Seza meminta ijin pergi namun sang raja yang tergila-gila dengannya mengikuti sampai memasuki istana. Di depan hadapan para pemimpin kebesaran, mereka berdua bersama berlutut memberi hormat. Sosok peri itu mengakui segala kesalahannya dan meminta maaf pada dan ratu. Dia juga bersiap mendapatkan hukuman.
Mendengar perkataan sosok wanita jin di sampingnya adalah seorang peri. Sang raja tidak gentar melindungi sang peri. Dia tidak menganggap wanita sebagai penghianat. Sang raja tetap berdiri mendampinginya.
“Hormat hamba yang mulia. Maafkan sikap raja kami. Beliau hari ini lebih suka berdiri” ucap sang kasim.
Para pembesar yang berada di dalam ruangan hanya bisa tertawa kecil. Raja Batara meminta ijin pada sosok panglima besar yang bertahta sebagai raja gurun itu agar mau memaafkan sang peri dan menyetujui hubungan mereka. Seza melotot mendengar perkataannya.
“Apa maksud yang mulia” bisiknya.
“Tenang lah ratu ku. Engkau akan aman di sisi ku” jawabnya.
__ADS_1